Friday, February 17, 2012

DENGARKAN CURHATKU

Keberadaanku di dunia ini kuyakini bukanlah hal yang kebetulan. Aku dilahirkan di tengah keluargaku juga bukanlah sebuah kesengajaan. Aku bersyukur kepada Tuhan untuk kehadiranku di antara orang tua yang benar-benar mengasihiku dengan sepenuh hati. Bayangkan saja, jika saat aku lahir, tak ada yang mengurusi, memberikan ASI, memandikan, ataupun mengganti popok, sudah bisa ditebak bahwa kini aku tak mungkin hidup hingga sebesar ini.
    Aku sadar semua hal yang orang tua lakukan adalah bentuk kasih yang tulus kepadaku. Mereka mungkin tak pernah menuntut kepadaku untuk membalas semua hal yang telah mereka lakukan. Tapi, sebagai seorang anak, yang seharusnya aku -dan semua manusia di dunia ini yang merasa dirinya seorang anak- lakukan adalah berpikir bagaimana menyenangkan hati orang tua. Setiap orang pasti memiliki pendapat yang berbeda untuk menjawab pertanyaan ini. Cara yang dipakai pun pasti berbeda. Saat ini, aku hanya ingin membagi sebuah pengalaman.
    Orang tua ingin mereka didengarkan,  hanya itu. Kita harus menyadari bahwa kita punya peranan penting sebagai anak. Anak bukan hanya jadi produk (output) dari orang tua. Anak cukup memberikan telinga untuk mendengar, maka selesai sudah masalahnya. Orang tua sering kali ingin ini dan itu. Maksudnya, mereka menginginkan yang terbaik bagi hidup kita. Mungkin tidak sesuai dengan keinginan pribadi kita. Tapi, paling tidak, kita dengar terlebih dahulu. Jangan langsung menutup telinga dan tak mau tahu dengan keadaan mereka.
    Orang tua juga punya banyak masalah. Seorang ibu misalnya, harus memperhatikan seluruh rumah tangga, kebutuhan suami dan anak-anak, pekerjaan pribadinya, dan mungkin tambahan pelayanan di kaum wanita gereja. Dalam satu hari banyak pekerjaan yang harus ia lakukan. Tapi, ia tidak pernah meninggalkan tugasnya sebagai seorang ibu, memperhatikan semua anaknya secara pribadi. Berbahagialah ibu yang hanya memiliki seorang anak karena akan lebih mudah diatur, dan perhatiannya tidak terbagi. Namun, bagaimana dengan yang memiliki lima orang anak dengan karakter yang berbeda. Tentu akan jadi hal yang sangat merepotkan. Hal yang membuatku salut dengan peran seorang ibu adalah entah hanya memiliki satu orang anak maupun sepuluh orang anak, ia tetap memperhatikan semuanya. Itulah yang dilakukan ibuku, yang memiliki lima orang anak yang menurut pemahaman pribadiku, tidak semuanya gampang diatur –termasuk aku-.
    Baru kusadari ternyata menjadi seorang ibu bukanlah perkara yang mudah. Kini, aku belajar untuk memperhatikan setiap kebutuhan ibuku. Ia ingin memiliki seseorang yang mau mendengarnya bicara, mendengarnya mengeluh, bahkan mungkin sedikit bergosip dengannya. Ia juga butuh tempat untuk mencurahkan segala isi hatinya, apalagi kalau dalam kondisi perasaan senang dan bahagia karena suatu hal. Ia ingin dipuji, dihargai keberadaannya, disanjung dan yang paling penting diperhatikan.
    Sebagai anak, sudahkan kita memperhatikan kebutuhan ibu kita? Aku mungkin belum berhasil melakukan yang terbaik sesuai dengan yang diharapkannya. Namun, kini aku belajar untuk jadi pendengar yang baik atas semua curahan hatinya.


22 Agustus 2010

0 komentar:

Post a Comment