Friday, August 28, 2015

28 Agustus 2015

Firman Tuhan itu petunjuk arah yang tepat.
Jangan meninggalkan arahan firman dan hanya melihatnya sekali-sekali saja.
Sepanjang perjalananmu, genggamlah  firmanNya dan nikmatilah arahanNya..

Yah, aku tau aku akan sering melupakanMu. Dan di titik itulah aku mulai tersesat.
Tapi terimakasih, karena masih mengiringku kembali di jalan yang benar.
Aku bersyukur karena langkah hidupku Kau naungi dengan arahan firmanMu.

Terimakasih untuk semuanya...

Thursday, August 20, 2015

Kasih Karunia

20 Agustus 2015

Sudah beberapa waktu ini membaca berbagai tulisan tentang kasih karunia.
Aku bersyukur karena Tuhan mengajarilu begitu banyak hal baru tentang 2 kata itu.

Kasih karunia sederhananya berarti sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma.
Pemberinya menghabiskan banyak hal untuk dapat memberikannya.
Sementara seorang penerima tidak perlu mengusahakannya untuk mendapatkannya.
Maka itulah hal tersebut dinamakan kasih karunia.

Banyak orang Kristen yang mengumandangkan tentang kasih karunia.
Tapi sungguh hidupnya dikelilingi dengan tuntutan, disiplin ketat, usaha dan perbuatan.
Kita memerlukan begitu banyak doktrin tentang kasih karunia Allah. Tidak hanya tentang pelayanan, bagaimana totalitas bagi Allah, mati-matian dan bayar harga bagiNya.
Pada akhirnya mungkin kita akan tiba pada peletakkan harga diri di dalam berbagai hal yang kita lakukan, tidak lagi pada apa yang Allah berikan.

Sesungguhnya, tak ada sesuatu pun di dalam diri kita, entah talenta, bakat, kemampuan diri, pertumbuhan rohani, dlsb yang membuat kita menjadi layak untuk mendapatkan kasih karunia itu.

Kita harus menyadari benar Siapa diriNya dan siapa kita di hadapanNya.
Tak ada satu apapun di dalam diri kita yang dapat dibanggakan, diutamakan sehingga menganggap diri layak di hadapanNya.

Pukulan bertubi-tubi yang kuhadapi ini membuatku belajar sesuatu:
Aku hanya seonggok daging tak berguna yang tidak punya apapun. Yang murni bergantung pada anugerah.
Yang bertindak di dalam keyakinan diri sendiri, namun akhirnya dihancurkan oleh Allah.
Ohh.. menyakini diri sendiri sudah merupakan hal yang asing bagiku.
Mempercayai Allah adalah hal paling berharga saat ini...

Siapakah aku?
Bangunan debu yang bergantung pada kasih karunia, hari demi hari.

Hai...

Namaku Intha.
Aku lahir di sebuah pulau, ujung selatan Indonesia.
Namaku kedengarannya aneh. Tidak menjadi cinta, atau intan. Tapi hanya "Intha".
Tak tahu aku kenapa diberi nama demikian.

Aku mencintai kota karang tempatku dibesarkan.
Aku pernah berharap suatu hari kembali ke sana dan membangun keajaiban baru di sudut-sudutnya yang garang.

Tapi hidup dan takdir biasanya berbicara lain dari apa yang kita harapkan.
Aku menenggelamkan diri saat ini di kota pahlawan.
Mencintai bising dan panasnya lebih dari apapun.
1/4 hidupku sudah kuhabiskan di sini, dan sesungguhnya hidupku yang sebenarnya bermulai di sini.

Jejak-jejak perjuangan hidup ku mulai di sini,
Langkah-langkah untuk menari dan tertawa sedang aku goreskan di tempat elok ini.

Aku masih membuntuti malam dan menangisi senja yang kadang membawa kesedihan.
Tapi aku tahu suatu hari nanti ada akhir yang membawa pada kebahaagiaan.

Aku mencintai berpikir dan biasa mengelana dalam pikiran.
Pikiran-pikiran yang benar akan membawamu pada keutuhan kebenaran
Tapi pikiran-pikiran yang salah hanya akan membawamu pada hidup yang berujung pahit.

Aku mencintai menulis.
Tapi tak pernah mampu kuterbitkan.. karena tulisan terkadang menjadi kejujuran pribadi sang penulis.
Tapi juga bisa menjadi kebohongan terbesar seperti sebuah pencitraan.

Aku mencintai orang-orang terluka.
Karena aku pernah terluka namun sangat dicintai.

Aku memupuk kehidupan di dalam makna dan arti.
Aku tahu kehidupan ini suatu hari akan berhenti.
Tapi, berharap, menanti, terluka dan memulai lagi akan selalu menjadi siklus yang tidak pernah terhenti.

Aku terkadang berharap mati dan pergi dari dunia.
Untuk sebuah kebahagiaan tiada akhir yang menantiku di sana.
Tapi, ternyata tugasku belum tuntas dan masih begitu banyak yang harus diusahakan.
Masih perlu perjuangan, pengorbanan, pengesampingan diri di dalam ukiran-ukiran sejarah pribadi.

Sampai suatu hari nanti, dipanggil oleh Pemilik diri, Pemilik hidup, Pemilik Hati.

Friday, July 31, 2015

Remukkanku tuk memandangMu

Oleh: Ruth Lidya Panggabean
WarungSateKamu

Kalau kaki yang patah adalah tindakan kasih-Mu
untuk menghentikan lariku yang semakin jauh dari panggilan,

Kalau hati yang hancur adalah satu-satunya cara
untuk membuatku berbalik kepada-Mu dan berlutut meratapi segala pelanggaran,

Kalau impian yang runtuh dimaksudkan
supaya aku menyerahkan segenap detail hidup dan rancangan masa depan,

Kalau segala sesuatu yang hilang bertujuan
untuk melepaskanku dari hal-hal yang membuat Tuhan berada di prioritas kesekian,

Kalau aku sendiri tak mampu mematikan ke-aku-anku
sehingga Engkaulah yang berinisiatif mematikannya,

maka lakukanlah ya, Tuhan,
meski itu berarti aku akan diremukkan hingga ke titik yang paling rendah.

Lakukanlah itu,
untuk menundukkan kepalaku,
menyingkapkan kelemahanku,
dan membuatku mengingat betapa miskin aku di hadapan-Mu.

Lakukanlah itu, supaya dari titik terendahku,
aku menemukan kedalaman anugerah-Mu,
dan beroleh kekuatan pula
untuk memandang ke atas, kepada wajah-Mu

Engkau tahu ya Tuhan, jalan sempit itu sangat layak ditempuh,
walau dengan merangkak atau tertatih,
karena penyertaan-Mu telah tersedia di sepanjang perjalanan,
dan ujungnya pasti membawaku sampai ke garis akhir pertandingan

Engkau tahu ya Tuhan, tungku perapian itu bukan akhir dari segalanya,
walau akan membakar semua yang terlihat berharga,
karena melaluinya hatiku akan dimurnikan seperti emas
dan beroleh puji-pujian dari Sang Raja kekal.

Engkau tahu ya Tuhan, cawan pahit itu harus direguk sampai habis,
walau begitu mencekat dan membuat lidahku kelu,
karena derita dan airmata sesaat ini takkan sebanding sama sekali
dengan kemuliaan yang akan dinyatakan oleh Bapa nanti

Oh, atas kasih karunia Sang Juruselamat
yang sudah lebih dulu menunjukan apa artinya menjadi taat,
jatuhkanlah juga biji gandum-Mu ini ke dalam tanah
dan izinkanlah ia mati,

supaya kemudian ia menerima hidup itu kembali:
hidup yang baru, yang kekal, yang menang, dan bahkan berbuah;

hidup yang menjadikan Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Raja,
tanpa menyisakan secuilpun ke-aku-an di dalamnya.

*Ditulis dalam masa-masa brokennes yang sedang dialami penulis, terinspirasi dari doa seorang temannya, “break me down to look You up, God!”

Monday, July 27, 2015

Bersama malam

Bersama malam aku merenung, meninggalkan sepenggal harapan di sudut hati.
Dengungan jangkrik yang tak kunjung berhenti menorehkan sepi yang semakin lama semakin membuntuti

Aku, di dalam hening dan sepi berkelana denganMu
Aku, menari bersuka di dalam kesenangan kebebasan

Aku, bebas dari rasa dan jutaan rayuan yang membelenggu
Aku, merdeka dari pilu dan duka yang belum sempat kutangisi
Aku, mengerti
Aku, memahami
Aku, dikasihi
Aku, dicintai

Oleh Dia, kekasih orang-orang berdosa

Aku, ya... Aku..

Perempuan kecil, yang tak kunjung melihat secercah kedewasaan

27 Juli 2015
23:08
Wijaya 1
Sendiri, Sepi

Sunday, February 15, 2015

Allah sebagai Gembala yang Baik.


Relasi yang begitu berbeda lagi digambarkanNya di dalam hidupku. Ia berperan sebagai gembala dan Ia memintaku berperan sebagai domba.

Khotbah di gereja GKI Kutisari hari ini, memberikan kepadaku gambaran yang sangat baik tentang Allah sebagai gembala. Pendeta menceritakan tentang sebuah pengalamannya dalam perjalanan ziarah rohani ke Israel. Ia melihat begitu banyak domba dan hal itu membuatnya berpikir, “Bagaimana mungkin di daerah yang tandus dan gersang ini hidup begitu banyak domba yang gemuk dan sehat. Bagaimana sang gembala memberikan rumput untuk domba-domba ini, tak ada satupun padang rumput yang terlihat”.

Pertanyaannya yang terlintas itu ia tanyakan pada pemimpin perjalanan tersebut. Pemimpin perjalanan itu menjawab seperti ini,
“Gembala yang baik tahu bagaimana menjaga dan memelihara domba-dombanya. Di tanah yang tandus dan gersang seperti ini, gembala yang baik tetap akan memberikan rumput kepada domba-dombanya. Pertanyaannya bagaimana cara gembala menemukan dan memberikan rumput untuk domba-dombanya? Inilah yang dilakukan sang gembala. Rumput yang hijau di daerah seperti itu biasanya tersembunyi di tebing-tebing yang cukup terjal. Gembala biasanya akan pergi ke tebing-tebing itu, memastikan bahwa tersedia rumput di situ, memastikan tempat yang akan didatangi oleh domba-domba itu juga baik-baik saja. Setelah itu,  ia akan mengarahkan domba-dombanya untuk pergi ke tempat rumput itu berada.”



Seperti itulah Allahku. Ia memainkan perananNya sebagai seorang Gembala yang Baik. Gembala yang Baik berjalan lebih dulu, Ia memastikan bahwa perjalanan di depan adalah perjalanan yang baik-baik saja. Ada kebaikan di depan sana. Ia sudah melihat perjalanan itu lebih dulu. Ada kebaikan di depan. Domba-domba hanya tinggal taat dan kemudian mengikutinya saja.

Yang  langsung terlintas dibenakku waktu itu hanya satu:
“Tuhan, aku tidak mampu melihat yang di depan.. aku sangat takut melihat semuanya.. seakan-akan sangat meragukan.. terlalu tidak pasti..  aku tak mungkin mempertaruhkan segala-galanya untuk sesuatu yang sangat tidak pasti”

Ia menjawabku:
Tapi Aku melihatnya, dan  semuanya akan baik-baik saja. Bukankah itu cukup?
Kau bisa mempercayai Aku..

“Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah”


Thursday, February 12, 2015

PERSAHABATAN DENGAN ALLAH

Ada begitu banyak relasi yang dapat kita temukan dengan Allah. Mulai dari Bapa - anak, Tuan - hamba, Guru - murid, Gembala - domba, dan masih banyak lagi.

Salah satu relasi yang diperkenalkan Allah padaku adalah relasi persahabatan.

"Persahabatan dengan Allah"

Apakah yang kamu pikirkan ketika mendengarkan satu kalimat di atas? Mungkin kamu berpikir tentang tokoh-tokoh alkitab, atau mereka yang pernah hidup di zaman Yesus Kristus, kamu juga mungkin melihat pada Paulus atau 12 orang rasul lainnya..

Inginkan kamu memiliki persahabatan dengan Allah?

Sahabat adalah seseorang yang mengenali kita apa adanya, luar dalam, kebaikan dan kejelekkan kita, tapi dia tetap mau menerima kita apa adanya, mengasihi kita dari kebobrokan hingga kecemerlangan kita.

Di satu sisi, Allah memposisikan diriNya sebagai TUHAN dan aku adalah manusia yang hidupnya dikendalikan oleh otoritasNya.
Di sisi lainnya, Allah memposisikan diriNya sebagai Bapa dan aku adalah anak boleh mengajukan permintaan atas hal-hal yang mustahil padaNya..

Dan pada saat sekarang ini,
Allah memposisikan diriNya sebagai sahabatku, dan betapa aku menyukai bagian ini.....

Mengapa?
Ada begitu banyak cerita hidupku bersama denganNya yang membuatku begitu tercengang.. Aku seakan-akan tidak perlu memintaNya untuk menyatakan kehendakNya. Aku tahu begitu saja. Aku paham benar isi  hatiNya. Seakan-akan kami sudah begitu sehati, sehingga untuk berjalan sesuai keinginanku saja aku tak mampu...

Bagaimana aku dapat meyakini hal ini?  pengalamanku yang paling menarik denganNya adalah ketika berdoa.

Di dalam berdoa, kita akan terbiasa menyampaikan begitu banyak permohonan dan keinginan kita. Dan menunggu jawaban apakah itu sesuai kehendakNya atau tidak. 
Dan kamu tahu, ada sedikit bocoran,begitu banyak pokok doa kita yang seringkali benar-benar berasal dari keinginan kita sendiri, bukan keinginanNya.. betapa seringnya Ia mengoreksi pokok doa yang kunaikkan..

Allah dengan pribadiNya dan keberadaanNya, seringkali membuatku hanya bisa memandang wajahNya. Aku tak mampu menyampaikan keinginan apapun. Aku hanya bisa menimbang, berpikir dan terus berpikir, apakah permohonan yang akan kusampaikan kepadaNya sehingga permohonan itu pasti dijawabNya?

Seakan-akan Ia begitu dekat, aku tak sanggup mengucapkan keinginanku.. lebih sering aku mengucapkan permohonan atas apa yang telah kutangkap dariNya sebagai kehendakNya. Ini pengalaman pribadi yang sangat personal. Tidak semua orang mengalami hal ini.

Kita diajari prinsip dasar yaitu meminta kepada Allah dan kemudian tunggulah jawabanNya, "iya", "tidak", atau "tunggu"..

tapi, aku telah belajar sesuatu yang lain...

mintalah apa yang dikehendakiNya, pasti akan selalu ada jawaban "iya" atau "tunggu", kamu tidak pernah menemukan jawaban "tidak"....

Pertanyaannya, bagaimana mengerti kehendakNya dengan mudah..? berelasilah denganNya, tenggelamlah di dalam kebenaran firmanNya. Setiap waktu datang padaNya. Itu persahabatan yang kekal, yang tak dapat digantikan oleh apapun...

Suatu hari kamu akan benar-benar kaget, karena hidupmu benar-benar ada di dalam kehendakNya, bahkan untuk meminta sesuai keinginanmu kamu tidak berani. Karena kamu sangat mengenaliNya, sangat tahu isi hatiNya, sangat mengerti Sahabatmu itu..
Dan yang terpenting ketika persahabatan denganNya telah terjalin, IA tidak pernah menyembunyikan apapun darimu....Ia selalu memberitahukan maksudNya dengan begitu jelas.

Persahabatan itu adalah sesuatu yang harus dibangun terus-menerus. Aku begitu sering berhenti berdoa, karena aku tidak tahu apa yang harus aku doakan, aku belum paham apa mauNya. 
Daripada sekedar menyampaikan permohonan, lebih baik aku mencari tahu kehendakNya dan kemudian mendoakan sesuai apa yang kutangkap dariNya...

Bersahabatlah denganNya......

Kejadian 18:17 Berpikirlah TUHAN: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?