Lukas 6 : 37-42
Hal menghakimi.
Bagian dari ucapan bahagia yang disebutkan oleh Yesus.
Apa yang kubaca?
1. Sebuah perintah untuk:
- Jangan menghakimi supaya kitapun tidak akan dihakimi.
- Jangan menghukum supaya kitapun tidak akan dihukum.
- Ampunilah supaya kita pun diampuni.
- Berilah supaya kamu diberi.
Penjelasan bagian pemberian ini: pemberian dari Allah itu berlimpah-limpah, sudah dipadatkan, ditakar dgn baik, ketika digoncangkan akan tumpah ke luar. Maksudnya?
Berilah yang banyak kepada orang lain, dan kalian akan mendapat balasan yang setimpal dengan ukuran yang Allah beri.
Dalam bagian ini, dikatakan tentang bagaimana tindakan kita dan bagaimanakah respon yang akan diberikan kepada kita.
Dalam pernyataan pertama, yang menjadi subjek adalah “kita”. Yang menjadi objek atas tindakan kita adalah ‘orang lain’.
Siapakah ‘orang lain’ itu?
Orang lain yang dimaksud di sini tentu saja orang-orang yang ada di sekeliling kita, entah itu teman, saudara, dll
Dalam pernyataan kedua, yang menjadi Subjek atas tindakan tersebut adalah Allah, dan kitalah objek dari tindakan yang dilakukan oleh Allah.
Pernyataan kedua timbul sebagai akibat dari pernyataan pertama. Dengan kata lain, pernyataan kedua tidak akan terjadi, jika pernyataan pertama tidak dilakukan.
Kata Yesus mengenai hal menghakimi:
Layaknya orang buta yang menuntun orang buta. Maksudnya?
Ketika orang buta menuntun orang buta, maka keduanya akan jatuh bersama dalam lubang. Mengindikasikan bahwa tidak ada yang benar di dalamnya.
Seorang murid, tidak akan lebih besar dari pada gurunya. Maksudnya? Semua ilmu yang diberikan gurumu lah yang dapat kamu terima dan kamu tidak akan dapat lebih besar dari itu. Setelah kamu selesai belajar, yang dapat kamu capai adalah pengetahuan yang setara dengan sang guru.
Teguran yang diberikan Tuhan Yesus:
1. Selumbar/ sepotong kayu kecil di pelupuk mata orang lain kelihatan dengan jelas oleh kita, namun balok yang sangat besar di mata kita tidaklah kita ketahui.
Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?
Selumbar itu sangatlah kecil di mata teman kita. Bahkan sama sekali tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan sebaik2 nya. Apa maksud perkataan ini?
Dalam posisi kita, selalu saja ingin melihat dan mencela perbuatan yang dilakukan oleh orang lain. Bibir dan hati kita dipenuhi dengan cercaan dan kritik atas orang lain.
Kritik itu boleh, hanya saja harus kritik yang membangun.
Mengkritik berarti membangun orang jadi lebih baik.
Tetapi yang terjadi di sini adalah, cercaan, hinaan, bahkan koreksi yang kita berikan kepada orang lain, tidak kita terapkan dulu dalam hidup kita. Yang diinginkan sebenarnya bukan kata2 percontohan di bibir saja. Hidup kita sendiri harus menunjukkan buah nya. Ukuran pada diri sendiri harus jelas, sehingga tidak menjadi orang yang munafik.!
Jika demikian, apa yang harus kulakukan?
Yang harus dilakukan adalah:
1. Keluarkan dulu balok dari matamu!. Periksa, cek, koreksi dirimu sendiri dengan ukuran yang sama. Maksudnya? Hidupmu sendiri harus memberikan buah yang benar, buah-buah yang baik. Hidup kita sebagai teladan dan contoh yang benar. Supaya apa? Supaya menjadi suatu kesaksian yang hidup.
Jangan munafik! Munafik kepura-puraan!
Janganlah kita berpura-pura dengan semua hal itu. Berpura2 = memiliki hal yang ditutup-tutupi yang tidak ingin untuk diketahui oleh orang lain. Bersikaplah sebagaimana adanya dirimu.
Mengapa harus mengeluarkan balok dari mata?
- Supaya kita dapat melihat dengan jelas
Apa yang selama ini kita anggap buruk, mungkin saja terbentuk dari persepsi kita yang salah. Cobalah untuk berpikir dari sudut pandang yang berbeda.
- Supaya dapat mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu
Maksudnya? Ketika kita melihat orang lain itu, kita mampu untuk memberikan teguran. Teguran yang akan menjadikannya lebih baik.
Dalam pembacaan hari ini, kita diajar untuk menjadi pribadi yang berintegritas, sejalan antara perkataan dan perbuatan...
Apakah aplikasi nyatamu hari ini??
1. Memperbaiki hidup. Tidak akan memberikan kritik dan cercaan yang menghina orang lain.
2. Menjaga integritas hidup. Kata dan perbuatan sejalan,, tidak bertolak belakang
3. Tidak munafik, hidup apa adanya! :D
SOLI DEO GLORIA :)
Saturday, February 18, 2012
5:23 AM
18 Februari 2012
Author:
Alice Intha M.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment