Tuesday, December 16, 2014

The Jesus I Never Knew

Sedikit berbagi apa yang kubaca..

C.S Lewis menulis tentang rencana Allah:
Segala sesuatu menyempit dan menyempit, sampai akhirnya menjadi satu titik kecil, sekecil ujung tombak- seorang gadis Yahudi dengan doanya.
Hari ini ketika membaca kisah kelahiran Yesus, saya gemetar dan memikirkan bagaimana nasib seluruh dunia tergantung pada respon dua remaja desa.
Berapa puluh kali Maria mengingat-ingat kembali kata-kata malaikat, saat ia merasakan Anak Allah menendang dinding rahimnya?
Berapa puluh kali Yusuf berpikir kembali tentang pertemuannya dengan malaikat - cuma mimpi? - sambil menahan rasa malu yang besar ketika ia tinggal di antara penduduk desa yang bisa melihat dengan jelas perubahan bentuk tubuh tunangannya?

Sembilan bulan yang penuh penjelasan canggung, dengan desas desus skandal yang pasti tidak terhindarkan - tampaknya Allah mengatur keadaan yang paling memalukan untuk kelahiranNya, seakan untuk menghindari tuduhan favoritisme.

Namun, perawan Maria yang kehamilannya tidak direncanakan memilih respons yang berbeda. Ia mendengar seluruh ucapan malaikat itu, memikirkan segala akibatnya dan menjawab, "Aku adalah hamba Allah. Jadilah padaku seperti perkataanmu itu." Seringkali karya Allah datang dengan dua sisi, sukacita besar dan derita besar, dan dalam responsnya yang sederhana.. Maria menerima keduanya. Ia adalah orang pertama yang menerima Yesus apa adanya, tanpa mempedulikan harga yang harus dibayarnya,.

Rendah hati. 
Sebelum Yesus tidak ada penulis lain agama kafir yang menggunakan kata "rendah hati" sebagai pujian.
Allah yang datang ke bumi bukan dalam pusaran angin yang menderu atau api yang menyala-nyala. Tidak terbayangkan bagaimana Pencipta segala sesuatu menyusut, mengecil, sangat kecil sampai menjadi sebuah sel telur, sebuah sel telur yang dibuahi yang hampir tidak terlihat mata telanjang, sebuah sel telur yang membelah diri dan membelah diri sampai menjadi janin yang berbentuk, membesar sel demi sel, di dalam tubuh remaja yang gugup. "Yang Maha Besar mengurung diri di dalam rahimmu", kata penyair John Donne dengan kagum. Ia "mengosongkan diriNya... Ia mengambil rupa seorang hamba," kata rasul Paulus lebih bergaya prosa.


Namun Mesias yang muncul, mengenakan kemuliaan dalam bentuk lain kemuliaan dalam kerendahan. "Allah Maha Besar,' seru umat beragama, sebuah k
Kelahiran: Planet yang didatangiebenaran yang tidak perlu diajarkan oleh makhluk supranatural pada manusia," tulis Bapa Neville Figgis. "Bahwa Allah itu sederhana, itu adalah sebuah kebenaran yang diajarkan Yesus pada manusia. Allah yang menggemuruh, yang bisa memerintahkan pasukan dan kekaisaran seperti menggerakkan pion di papan catur, Allah ini muncul di Palestina sebagai seorang Bayi yang tidak bisa bicara atau menelan makanan padat, atau mengendalikan ginjalnya, yang tergantung pada seorang remaja untuk tempat berteduh, makanan, dan kasih sayang...

Gambaran J.B Philips tentang Natal:
seorang malaikat senior memperlihatkan kemegahan alam semesta pada seorang malaikat muda. Mereka melihat galaksi-galaksi yang berputar dan matahari-matahari yang menyala terang dan kemudian terbang melintasi jarak yang tidak terbatas sampai akhirnya mereka memasuki sebuah galaksi berisi 500 milyar bintang.

Saat mereke berdua semakin dekat ke sebuah bintang yang kita sebut matahari kita dan planet-planet yang mengelilinginya, malaikat senior menunjuk pada bola kecil yang tampaknya tidak penting yang berputar sangat lambat pada porosnya. Kelihatannya sekusam bola tenis kotor bagi malaikat kecil, yang pikirannya dipenuhi dengan ukuran dan kemegahan segala yang baru saja dilihatnya. 
"Aku ingin kau mengamati planet yang satu itu," kata malaikat senior sambil menunjuk dengan jarinya.
"Yah, bagiku kelihatannya sangat kecil dan agak kotor," kata malaikat kecil. "Apa istimewanya planet itu?"

Ia mendengar dengan setengah tidak percaya ketika malaikat senior memberitahu bahwa planet inilah, yang kecil, tidak berarti, dan tidak begitu bersih, yang menjadi Planet yang DIdatangi Yang Mahakuasa.

"Maksudmu Pangeran kita yang besar dan mulia... turun secara pribadi ke bola kecil peringakt lima ini? Mengapa Ia melakukan hal seperti itu? ...
Wajah malaikat kecil itu merengut jijik. "Maksudmu," katanya, "Ia membungkuk begitu rendah sampai menjadi salah satu makhluk yang merayap dan merangkak di bola yang melayang itu?"
"Memang begitu, dan aku kira Ia tidak akan suka kau menyebut mereka 'makhluk yang merayap dan merangkak' dengan nada suara seperti itu. Karena, walaupun bagi kita memang sangat aneh, Ia mengasihi mereka. Ia turun ke sana untuk mengunjungi mereka dan mengangkat mereka agar menjadi seperti Dia. 

Suatu malam di tengah udara dingin dan gelap.. di antara perbukitan Betlehem..... Allah yang tidak mengenal sebelum dan sesudah, memasuki ruang dan waktu. Allah yang tidak mengenal perbatasan, secara mengejutkan masuk ke dalam kulit bayi yang amat terbatas, sang Mahakuasa menyusut menjadi manusia.

"Ia adalah gambar Allah yang tidak ke;ihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan," belakangan seorang rasul menulis; "Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia."  Tapi beberapa saksi mata pada malam Natal itu tidak melihat satupun dari hal-hal itu. Mereka hanya melihat seorang Bayi yang berjuang menggunakan paru-paru yang belum pernah dipakai sebelumnya.

Mungkinkah ini benar, kisah Betlehem tentang sang Pencipta yang turun untuk lahir ke atas sebuah planet kecil? Kalau ya, ini adalah kisah yang tidak ada tandingannya. Tidak akan pernah lagi kita berpikir apa yang terjadi di planet bola tenis kotor ini berpengaruh pada seluruh alam semesta. Tidak mengherankan paduan suara malaikat menyanyikan lagu dengan spontan, bukan hanya mengejutkan bagi beberapa gembala, namun bagi seluruh alam semesta....

KELAHIRAN: PLANET YANG DIDATANGI
SUMBER :
BUKAN YESUS YANG SAYA KENAL (THE JESUS I NEVER KNEW)
PHILIP YANCEY
PROFFESSIONAL BOOKS

Monday, December 8, 2014

DAUD: MENGHADAPI RAKSASA ANDA


Allah menempatkanmu berada bersama raksasa kesulitan, kesedihan, ketakutan, kebingungan setiap hari, untuk  membuktikan bahwa diriNya lebih besar dari semua itu....




DAUD: MENGHADAPI RAKSASA ANDA


Pemuda bertubuh langsing dan tidak berjanggut itu berlutut di alur sungai. Lumpur membasahi kakinya. Air yang berbuih-buih mendinginkan tangannya. Apabila ia melakukan itu, ia dapat melihat sosok tampannya di permukaan air. Rambutnya berwarna tembaga. Warna kulit dan matanya yang kecoklatan pasti dikagumi para gadis Ibrani. Namun ia tidak mencari bayangan wajahnya, melainkan batu. Batu yang licin. Semacam batu yang selalu tersimpan di kantung seorang gembala. Batu licin yang dapat digunakan seperti pelor dengan daya hantam laksana komet jatuh di kepala seekor singat, beruang, atau dalam kasus ini, seorang raksasa.
            Goliat memandang ke bawah dari bukit. Hanya ketidakpercayaan yang membuatnya tertawa. Ia dan gerombolan orang Filistin menembuh setelah luas lembah itu dan mengubahnya menjadi hutan tombak; segerombolan geng kawwasan kumuh yang haus darah berteriak sambil memamerkan senjata, sumpah serapah, dan tato. Goliat dengan tubuh yang sangat mencolok dibandingkan yang lain. Tingginya sembilan kaki sembilan inci, mengenakan baju baja seberat 125 pon, dan tatapannya seperti mata seorang penantang dalam acara World Wresting Federatioan. Ia mengenakan baju ukuran 20, topi ukuran 10,5 dan ikat pinggang 56 inci. Otot lengannya besar, pahanya berotot dan omongannya nyembur jauh menggema di lembah itu. “Aku menantang hari ini barisan orang Israel; berikanlah kepadaku seorang, supaya kami berperang lawan seorang” (1 Sam 17:10). Siapa yang mau berkelahi secara jantan? Berikan perlawanan yang terbaik.
                Tidak ada orang Ibrani yang berani maju. Hingga hari ini. Hingga akhirnya Daud muncul.
                Daud baru saja terlihat hari itu. Ia meninggalkan kawanan ternak yang digembalakannya untuk membawakan roti dan keju bagi saudara-saudaranya di medan laga. Di sanalah Daud mendengar Goliat menghujat Allah. Itulah yang mendorong Daud untuk membuat keputusan. Lalu Daud mengambil tongkat di tangannya, dari dasar sungai dipilihnya limat batu yang licin dan ditaruhnya di dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangan. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu (17:40).
                Goliat memandang rendah anak itu, menghinanya sebagai orang aneh. “Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?” (17:43). Daud yang masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya. Goliat yang brutal dan bertubuh tinggi besar. Tusuk gigi menghadapi tornado. Sepeda mini menyerang truk beroda delapan belas. Anjing pudel berhadapan dengan anjing rottweiler. Bukankah aneh jika Anda mengirimkan Daud untuk menghadapi raksasa?
                Mungkin lebih aneh lagi jika Anda mengirim diri sendiri untuk menghadapi raksasa Anda sendiri.
                Goliat dalam diri Anda tidak membawa pedang atau perisai; senjatanya adalah tidak memiliki pekerjaan, ditinggalkan, dilecehkan secara seksual, atau depresi. Raksasa Anda tidak berbaris dan menuruni Lembah Tarbantin; ia berjingkrak-jingkrak melalui kantor, kamar tidur, dan ruang kelas Anda. Ia membawa tagihan yang tidak dapat Anda senangkan, minuman keras yang tidak dapat Anda tolak, pornografi yang tidak dapat Anda abaikan, karier yang tidak dapat Anda lepaskan, masa lalu yang tidak dapat Anda lupakan, dan masa depan yang tidak dapat Anda hadapi.
                Anda tahu benar gemuruh suara Goliat.
                Daud menghadapi orang yang terus-menerus menyemburkan tantangan. “Orang Filistin itu maju mendekat pada pagi hari dan pada petang hari. Demikianlah ia tampil ke depan empat puluh hari lamanya” (17:16). Raksasa Anda juga melakukan hal yang sama. Pertama dipikirkan di pagi hari, terakhir dikhawatirkan pada malam hari – Goliat Anda mendominasi hari Anda dan merusak kebahagiaan Anda.
                Sudah berapa lama ia mengejar Anda? Keluarga Goliat adalah musuh lama bangsa Israel. Yosua telah mengusir mereka dari Tanah Perjanjian tiga ratus tahun sebelumnya. Ia menghancurkan mereka semua, kecuali penduduk tiga kota: Gaza, Gat, dan Asdod. Gat menghasilkan para raksasa. Coba tebak di mana Goliat dibesarkan. Lihat huruf “G” di jaketnya? Sekolah Menengah Atas Gat. Bagi orang Ibrani, leluhur Goliat sama artinya dengan bajak lau bagi angkatan laut Inggris zaman dulu.
                Para prajurit Saul melihat Goliat dan mengeluh. “Jangan lagi, ah. Ayahku sudah memerangi ayahnya. Kakekku sudah memerangi kakeknya.
                Anda pun akan melontarkan keluhan yang sama, “Saya sudah menjadi orang yang gila kerja, sama seperti ayah saya.” “Perceraian sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami.” “Mamaku tidak bisa memiliki sahabat. Kapan semua ini bisa berakhir?”
                Goliat. Berandalan yang menjadi jawara di lembah itu. Lebih alot daripada daging murahan. Lebih galak daripada anjing penjaga kembar. Ia menunggu Anda pada pagi hari, menyiksa Anda pada malam hari. Ia mengincar leluhurAnda dan kini mengganggu Anda. Ia menutupi sinar mentari dan membuat Anda beridri pada bayangan keraguan. “Ketika Saul dan segenap orang Israel mendengar perkataan orang Filistin itu, maka cemaslah hati mereka dan sangat ketakutan” (17:11).
                Apa yang telah saya katakan kepada Anda? Anda tahu Goliat. Anda mengenal caranya berjalan dan berbicara. Anda telah melihat Godzilla Anda. Masalahnya, apakah ia yang benar-benar Anda lihat? Anda mengenal suaranya – namun benarkah itu yang Anda dengar? Daud meliht dan mendengar lebih banyak. Bacalah kata-kata pertama yang dikatakannya, bukan hanya dalam pertempuran, namun juga di dalam Alkitab, “Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: ‘Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup? (17:26)
                Daud muncul sambil membicarakan tentang Allah. Para prajurit tidak berkata apa-apa tentang Dia, kakak-kakaknya tidak pernah membicarakan nama-Nya. Namun Daud mengambil satu langkah memasuki arena dan melontarkan tentang Allah yang hidup. Ia melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Raja Saul. Tidak ada diskusi tentang pertempuran atau peluang. Hanya perkataan yang diinspirasikan oleh Allah: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu (17:37).
                Ia melanjutkan topik pembicaraan itu dengan Goliat. Ketika sang raksasa menghina Daud, anak gembala itu menjawab:
"Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.   Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami." (17:45-47)

Tidak seorang pun yang membicarakan Allah. Daud tidak membicarakan siapapun yang lain selain Allah.
Judul tambahan muncul dalam kisah ini. Lebih dari sekadar “Perkelahian Daud dengan Goliat,” yakni “Fokus kepada Allah melawan fokus kepada raksasa.”
Daud melihat apa yang tidak dilihat orang lain, dan menolak apa yang dilihat orang lain. Semua mata, kecuali mata Daud, terarah pada makhluk brutal dan kasar tersebut. Semua kompas, kecuali milik Daud, diarahkan ke kutub orang Filistin. Semua jurnal, kecuali Daud, menggambarkan hari demi hari di tanah makhluk purba itu. Orang tahu ejekannya, tuntutannya, ukurannya, dan cara berjalannya yang angkuh. Mereka berkonsentrasi pada Goliat.
Daud berkonsentrasi pada Allah. Ia memang melihat raksasa itu, namun lebih memerhatikan Allah. Coba baca dengan hati-hai pekikan perang Daud: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu” (17:45).
Perhatikan kata jamak segala  barisan Israel. Segala barisan? Para pengamat umum hanya melihat satu barisan Israel. Tidak demikian dengan Daud. Ia melihat sekutu pada Hari-H: peleton-peleton malaikat, dan infanteri orang-orang kudus, senjata angin, dan kekuatan bumi. Allah dapat menghantam musuh dengan luapan air seperti yang dilakukanNya bagi Musa, meruntuhkan tembok seperti yang dilakukanNya bagi Yosua, menciptakan guntur sebagaimanayang dilakukanNya bagi Samuel.
Daud melihat barisan Allah. Karena itu ia berlari ke barisan musuh yang menghadapi orang Filistin (17:48).
Kakak-kakak Daud menutupi mata karena takut sekaligus mali. Saul menghela napas panjang sementara pemuda Ibrani itu berlari menuju kematian. Goliat memalingkan wajahnya sambil tertawa terbahak-bahak sehingga membukakan sedikit ketopangnya dan memperlihatkan sedikiti bagian dahinya. Daud melihat sasaran itu dan  mengambil kesempatan. Suara desingan katapel merupakan satu-satunya suara di lembah itu. Sshhhwww. Sshhhww. Batu itu terlepas laksana torpedo yang melayang di udara dan menghujam tengkoraknya. Mata Goliat mendelik kaget. Ia jatuh menghujam ke tanah dan mati. Daud berlari mendapatkannya, mengambil pedang Goliat dari sarungnya, dan memenggal kepalanya.
Anda mungkin mengatakan bahwa Daud tahu bagaimana rasanya mendapatkan kepala raksasanya.
Kapan Anda terakhir kali melakukan hal yang sama? Sudah berapa lama Anda melarikan diri dari tantangan yang Anda hadapi? Kita cenderung menarik diri, bersembunyi di belakang tumpukan pekerjaan dan merayap ke pengalihan perhatian di klub malam ataupun ke atas tempat tidur dari cinta yang terlarang. Untuk beberapa waktu, hari, atau tahun, kita merasa aman, terisolasi, terbiuskan. Namun kemudian pekerjaan menghilang, minuman keras habis, atau kekasih pergi. Kita pun mendegar Goliat kembali. Meningkat. Bombastis.
Cobalah cara lain. Kejar raksasa Anda dengan jiwa yang dipenuhi oleh Allah. Raksasa perceraian, kamu tidak boleh masuk ke dalam rumah tanggaku! Raksasa depresi? Mungkin memerlukan waktu seumur hidup, namun kau tidak akan pernah dapat menaklukan saya. Raksasa minuman keras, pikiran sempit, kekerasan terhadap anak, ketidakamanan.. kalian harus hilang. Kapan terakhir kali Anda memasukkan batu ke pengumpan Anda dan melemparkannya ke arah raksasa Anda?
Sudah lama sekali? Kalau begitu, Daud merupakan panutan Anda. Allah menyebutnya berlari sebagai “seorang yang berkenan di hatiKu” (Kis 13:22). Dia tidak menyatakan hal itu kepada orang lain. Tidak Abraham, Musa ataupun Yusuf. Dia menyebut Paulus rasul, Yohanes orang yang dikasihiNya, namun keduanya tidak dianggap sebagai orang yagn berkenan di hari Allah.
Orang mungkin membaca kisah Daud dan bertanya-tanya apa yang dilihat Allah dari dirinya. Kejatuhan Daud ke dalam dosa terjadi sama seringnya dengan kekokohan imannya. Ia tersandung sama seringnya dengan penaklukannya. Memandang rendah Goliat, namun mengerling ke arah Batsyeba. Membenci penghujat Allah di lembah, namun bergabung dengan mereka di belantara gurun. Seorang polisi pada suatu saat. Berteman dengan mafia pada hari berikutnya. Ia dapat memimpin tentara namun tidak bisa mengatur keluarga. Daud yang cepat naik darah. Daud yang meratap. Haus darah. Haus akan Allah. Memiliki delapan istri. Mempunyai satu Allah saja.
Orang yang berkenan di hati Allah? Allah melihat ia yang seperti itu, memberikan harapan yang sama kepada kita semua. Kehidupan Daud bukanlah kehidupan orang suci, yang tidak ternoda. Orang yang merasa hidup suci pasti merasa betapa mengecewakannya kisah Daud. Yang lain melihat kisah itu sebagai penguatan. Kita menaiki roller coaster yang sama. Kita dihadapkan pada pilihan antara berkelok-kelok dan mengguncang perut, makanan pelengkap dan roti bakar.
Pada saat baik-baik, tidak ada orang yang dapat menyaingi Daud. Pada saat buruk, apakah ada yang mengalami lebih buruk lagi? Inti dari kasih Allah adalah menyimak.
Kita membutuhkan kisah Daud. Para raksasa berkeliaran di sekitar kita. Penolakan. Kegagalan. Pembalasan. Penyesalan yang  mendalam. Pergumulan kita terlihat seperti perjalanan seorang pencari hadiah. Para raksasa. Kita harus menghadapi mereka. Namun kita tidak perlu menghadapinya sendiri. Pertama-tama fokus, terutama kepada Allah. Pada saat Daud melakukan itu, raksasa pun kalah. Pada saat si raksasa tidak melakukan hal itu, Daud melakukannya dan  menang.
Ujilah teori ini dengan Alkitab terbuka. Bacalah 1 Samuel 17 dan buatlah daftar pengamatan tentang apa saja yang dilakukan Daud sehubungan dengan Goliat.
Saya hanya menemukan dua hal. Satu pernyataan bagi Saul mengenai Goliat (ayat 36). Satunya lagi dinyatakan di hadapan Goliat: “Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?” (ayat 26).
Itu saja. Dua komentar yang berhubungan dengan Goliat (dan salah satunya sangat keras) dna tidak ada pertanyaan. Tidak ada penyelidikan soal kemampuan, usia, status sosial, atau IQ Goliat. Daud tidak menanyakan apa-apa; tentang berat tombak, ukuran perisai, atau arti tato tengkorak dengan tulang bersilangan di lengan sang raksasa. Daud juga tidak memusingkan keadaan lembah itu.
Akan tetapi, ia banyak memikirkan Allah. Bacalah lagi kata-kata Daud, kali ini dengan menggarisbawahi acuannya mengenai Allah.
“Barisan dari pada Allah yang hidup” (ayat 26).
“Barisan dari pada Allah yang hidup” (ayat 36).
“TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel” (ayat 45).
“TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku... supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah” (ayat 46).
“TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan TUHANlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami (ayat 47).
Aku mendapati ada sembilan bahan acuan. Pikiran mengenai Allah mengalahkan pikiran mengenai Goliat dengan perbandingan 9:2. Bagaimana rasio ini dibandingkan dengan rasio Anda? Apakah Anda merenungkan anugerah Allah empat kali lebih besar daripada merenungkan kesalahan Anda? Apakah daftar berkat Anda empat kali lebih banyak daripada daftar keluhan Anda? Apakah arsip pengharapan Anda empat kali lebih tebal daripada arsip ketakutan Anda? Apakah Anda empat kali lebih sering membicarakan kuasa Allah daripada tuntutan sehari-hari Anda?
Tidak? Kalau begitu Daud adalah panutan bagi Anda.
Beberapa keajaiban yang terkenal tidak muncul dalam kisah itu. Tidak ada Laut Merah yang terbelah, kereta kuda yang menyala-nyala, atau bangkitnya Lazarus dari kematian. Tidak ada keajaiban.
Namun ada satu keajaiban. Keajaiban Daud. Keajaiban seorang sederhanya yang berjalan dalam terang kebenaran Allah.
Berfokus kepada para raksasa – Anda tersandung.
Berfokus kepada Allah – raksasa Anda dikalahkan.
Angkatlah wajah Anda, hai para pembunuh raksasa. Allah membuat keajaiban bagi Daud juga akan membuatnya bagi Anda.


Sumber:
AKTOR-AKTOR ALLAH: Kisah Orang Biasa di Tangan Allah yang Luar Biasa.
Max Lucado
PT. BPK Gunung Mulia.


                

Friday, December 5, 2014

Keindahan Heningku

Inilah aku..
Menari dan berjejak kaki dalam heningku..
Siapa bilang hening itu menakutkan..
Hening itu keindahan


Berteman sepi itu menyejukkan..

Berlalu dalam sunyi itu menggembirakan...
Inilah aku..
Yang ditemani rindu dan asa yang tak terkira..

Mimpiku sudah kutenggelamkan..
Berteman waktu dan berharap kata..
Hingga suatu hari.. 
Ketika aku tersembuhkan oleh hening, sepi, dan kesendirian...