Apa yang kurang dari strategi pelayanan kita?
Seringkali kesulitan kita dalam
merintis pelayanan kelompok kecil adalah menemukan siapakah orang yang tepat
untuk dimuridkan. “Bagaimana menemukan orang-orang tersebut dan dimanakah saya
akan menemukannya?” menjadi pertanyaan yang seringkali memenuhi benak kita. Seringkali
kita juga sudah berupaya semaksimal mungkin, tetapi tetap saja tidak menemukan
orang yang tepat. Kita bingung dengan segala macam strategi yang telah kita
bangun, tetapi tidak juga berhasil. Sebenarnya apa yang salah dengan pendekatan
kita dan bagaimanakah seharusnya memulai sebuah pelayanan.
Saya pernah ingin merintis
pelayanan di sebuah kampus di Surabaya. Rencana saya jelas yaitu ingin
membentuk kelompok KTB dengan jumlah 3-4 orang tiap kelompok. Langkah pertama
saya juga jelas bahwa saya ingin memulai dengan mendekati, menjalin
persahabatan dengan mahasiswa dan mengunjungi kosnya, menawarkan bantuan untuk
belajar bersama, mengantar ke gereja, bahkan ia juga sudah menceritakan semua
masalah pribadinya kepada saya. Menurut saya, ini adalah langkah yang tepat
untuk membangun sebuah pelayanan. Setelah itu, saya kemudian memberitakan injil
kepadanya. Dan saya bersyukur karena ia menerima Kristus, pada saat pertama
saya membagikan injil. Ia kelihatan tertarik dengan berita injil. Tetapi, itu
tidak berlangsung lama, ketika saya menawarkan KTB, dan kemudian belajar firman
Tuhan bersama, maka ia menolak. Ia mulai menjauh dan tidak lagi ingin bertemu
dengan saya.
Saya merasa gagal dan merasa diri
tidak mampu untuk mempertahankan setiap jiwa yang Tuhan percayakan kepada saya.
Saya melakukan hal tersebut
beberapa kali. Dan selalu gagal dengan semua cara itu. Saya menyelidiki dan
menganalisa, akhirnya saya menemukan bahwa, ternyata ada bagian yang sangat
kurang bagi pekerjaan pelayanan yang saya lakukan.
Apa bagian yang kurang itu?
Doa!
Mengapa demikian?
Mari kita belajar dari teladan
Tuhan Yesus.
Lukas 6:12-16
12 ¶ Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk
berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.
13 Ketika hari siang, Ia memanggil
murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang,
yang disebut-Nya rasul:
14 Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan
Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus,
15 Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan
Simon yang disebut orang Zelot,
16 Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang
kemudian menjadi pengkhianat.
Dari ayat di atas kita melihat
dengan jelas mengenai apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Ia pergi ke bukit. Semalam-malaman
Ia berdoa kepada Allah.
Yesus sendiri mencari pimpinan
Allah untuk memilih murid. Bagaimana dengan saya? Apakah saya juga menghabiskan
waktu saya untuk berdoa lebih dulu? Ataukah saya hanya mencari-cari, berusaha
melakukan semua strategi dengan begitu luar biasanya? Kegerakan pendekatan
pribadi yang saya lakukan ternyata tidak ada kuasanya sama sekali, jika tidak
diawali, dijalani, diiringi, dijelajahi dengan doa. Semua strategi pendekatan
yang saya lakukan sepertinya tumpul dan tidak menghasilkan apapun.
Kita mungkin sangat terampil
dalam merealisasikan strategi pelayanan, tetapi kita kurang terampil dalam
menggunakan strategi Allah yang dikerjakanNya melalui DOA.
Pertanyaan kemudian terlintas
lagi, berapa lamakah saya harus berdoa? Bukankah Yesus hanya berdoa semalaman
dan kemudian ia langsung memilih mereka
yang datang padaNya? Bagaimana dengan
saya?
Saya pikir dalam hal ini, kita
tidak akan menerapkan waktu yang sama dengan Yesus atau patokan waktu tertentu.
Esensi dari doa Yesus adalah untuk mencari kehendak Allah mengenai siapa saja
orang yang akan dipilihNya, untuk
dilatihNya dan kemudian meneruskan pelayanan pemuridan untuk membuat semua
bangsa menjadi muridNya. Poinnya bukan berapa lama berdoa, tapi apakah dalam
waktu-waktu yang kita gunakan untuk berdoa, kita telah menemukan kehendak Allah
dalam memilih murid-murid yang tepat atau mungkin suatu pendekatan baru yang
diinginkanNya?
Jadi, jawaban dari pertanyaan “Berapa lama saya harus berdoa?” adalah sampai
kita menemukan kehendak Allah untuk strategi penjangkauan untuk menemukan orang
kontak dan langkah apa yang kita akan ambil seandainya orang kontak tersebut
telah kita dapatkan.
Pernah terlintas di dalam benak
saya, lebih baik saya menghabiskan waktu berbulan-bulan berdoa dan tidak
melakukan apapun daripada tiap-tiap hari berada dan berkenalan dengan sejumlah
mahasiswa yang memang saya kira membutuhkan injil.
Doa adalah tahap persiapan yang
paling ampuh untuk memulai sebuah pelayanan. Dengan berdoa, sebenarnya kita sedang
mempersiapkan ladang untuk ditaburi benih firman Tuhan.
Doa juga adalah satu-satunya
strategi yang harus menjadi fokus kita jika menginginkan terjadinya suatu
kegerakan atau kebangunan rohani.
Apakah saya sudah tekun berdoa?
Berapa lama saya sudah berdoa
untuk perintisan pelayan yang dipercayakanNya kepada saya?
Saya masih belajar.
Saya harus lebih banyak berdoa.
Kita seringkali bertindak lebih
banyak dari apa yang Tuhan inginkan, padahal Ia hanya menginginkan kita untuk
berdoa. J