Namaku Intha.
Aku lahir di sebuah pulau, ujung selatan Indonesia.
Namaku kedengarannya aneh. Tidak menjadi cinta, atau intan. Tapi hanya "Intha".
Tak tahu aku kenapa diberi nama demikian.
Aku mencintai kota karang tempatku dibesarkan.
Aku pernah berharap suatu hari kembali ke sana dan membangun keajaiban baru di sudut-sudutnya yang garang.
Tapi hidup dan takdir biasanya berbicara lain dari apa yang kita harapkan.
Aku menenggelamkan diri saat ini di kota pahlawan.
Mencintai bising dan panasnya lebih dari apapun.
1/4 hidupku sudah kuhabiskan di sini, dan sesungguhnya hidupku yang sebenarnya bermulai di sini.
Jejak-jejak perjuangan hidup ku mulai di sini,
Langkah-langkah untuk menari dan tertawa sedang aku goreskan di tempat elok ini.
Aku masih membuntuti malam dan menangisi senja yang kadang membawa kesedihan.
Tapi aku tahu suatu hari nanti ada akhir yang membawa pada kebahaagiaan.
Aku mencintai berpikir dan biasa mengelana dalam pikiran.
Pikiran-pikiran yang benar akan membawamu pada keutuhan kebenaran
Tapi pikiran-pikiran yang salah hanya akan membawamu pada hidup yang berujung pahit.
Aku mencintai menulis.
Tapi tak pernah mampu kuterbitkan.. karena tulisan terkadang menjadi kejujuran pribadi sang penulis.
Tapi juga bisa menjadi kebohongan terbesar seperti sebuah pencitraan.
Aku mencintai orang-orang terluka.
Karena aku pernah terluka namun sangat dicintai.
Aku memupuk kehidupan di dalam makna dan arti.
Aku tahu kehidupan ini suatu hari akan berhenti.
Tapi, berharap, menanti, terluka dan memulai lagi akan selalu menjadi siklus yang tidak pernah terhenti.
Aku terkadang berharap mati dan pergi dari dunia.
Untuk sebuah kebahagiaan tiada akhir yang menantiku di sana.
Tapi, ternyata tugasku belum tuntas dan masih begitu banyak yang harus diusahakan.
Masih perlu perjuangan, pengorbanan, pengesampingan diri di dalam ukiran-ukiran sejarah pribadi.
Sampai suatu hari nanti, dipanggil oleh Pemilik diri, Pemilik hidup, Pemilik Hati.