Sedikit berbagi apa yang kubaca..
C.S Lewis menulis tentang rencana Allah:
Segala sesuatu menyempit dan menyempit, sampai akhirnya menjadi satu titik kecil, sekecil ujung tombak- seorang gadis Yahudi dengan doanya.
Hari ini ketika membaca kisah kelahiran Yesus, saya gemetar dan memikirkan bagaimana nasib seluruh dunia tergantung pada respon dua remaja desa.
Berapa puluh kali Maria mengingat-ingat kembali kata-kata malaikat, saat ia merasakan Anak Allah menendang dinding rahimnya?
Berapa puluh kali Yusuf berpikir kembali tentang pertemuannya dengan malaikat - cuma mimpi? - sambil menahan rasa malu yang besar ketika ia tinggal di antara penduduk desa yang bisa melihat dengan jelas perubahan bentuk tubuh tunangannya?
Sembilan bulan yang penuh penjelasan canggung, dengan desas desus skandal yang pasti tidak terhindarkan - tampaknya Allah mengatur keadaan yang paling memalukan untuk kelahiranNya, seakan untuk menghindari tuduhan favoritisme.
Namun, perawan Maria yang kehamilannya tidak direncanakan memilih respons yang berbeda. Ia mendengar seluruh ucapan malaikat itu, memikirkan segala akibatnya dan menjawab, "Aku adalah hamba Allah. Jadilah padaku seperti perkataanmu itu." Seringkali karya Allah datang dengan dua sisi, sukacita besar dan derita besar, dan dalam responsnya yang sederhana.. Maria menerima keduanya. Ia adalah orang pertama yang menerima Yesus apa adanya, tanpa mempedulikan harga yang harus dibayarnya,.
Rendah hati.
Sebelum Yesus tidak ada penulis lain agama kafir yang menggunakan kata "rendah hati" sebagai pujian.
Allah yang datang ke bumi bukan dalam pusaran angin yang menderu atau api yang menyala-nyala. Tidak terbayangkan bagaimana Pencipta segala sesuatu menyusut, mengecil, sangat kecil sampai menjadi sebuah sel telur, sebuah sel telur yang dibuahi yang hampir tidak terlihat mata telanjang, sebuah sel telur yang membelah diri dan membelah diri sampai menjadi janin yang berbentuk, membesar sel demi sel, di dalam tubuh remaja yang gugup. "Yang Maha Besar mengurung diri di dalam rahimmu", kata penyair John Donne dengan kagum. Ia "mengosongkan diriNya... Ia mengambil rupa seorang hamba," kata rasul Paulus lebih bergaya prosa.
Namun Mesias yang muncul, mengenakan kemuliaan dalam bentuk lain kemuliaan dalam kerendahan. "Allah Maha Besar,' seru umat beragama, sebuah k
Kelahiran: Planet yang didatangiebenaran yang tidak perlu diajarkan oleh makhluk supranatural pada manusia," tulis Bapa Neville Figgis. "Bahwa Allah itu sederhana, itu adalah sebuah kebenaran yang diajarkan Yesus pada manusia. Allah yang menggemuruh, yang bisa memerintahkan pasukan dan kekaisaran seperti menggerakkan pion di papan catur, Allah ini muncul di Palestina sebagai seorang Bayi yang tidak bisa bicara atau menelan makanan padat, atau mengendalikan ginjalnya, yang tergantung pada seorang remaja untuk tempat berteduh, makanan, dan kasih sayang...
Gambaran J.B Philips tentang Natal:
seorang malaikat senior memperlihatkan kemegahan alam semesta pada seorang malaikat muda. Mereka melihat galaksi-galaksi yang berputar dan matahari-matahari yang menyala terang dan kemudian terbang melintasi jarak yang tidak terbatas sampai akhirnya mereka memasuki sebuah galaksi berisi 500 milyar bintang.
Saat mereke berdua semakin dekat ke sebuah bintang yang kita sebut matahari kita dan planet-planet yang mengelilinginya, malaikat senior menunjuk pada bola kecil yang tampaknya tidak penting yang berputar sangat lambat pada porosnya. Kelihatannya sekusam bola tenis kotor bagi malaikat kecil, yang pikirannya dipenuhi dengan ukuran dan kemegahan segala yang baru saja dilihatnya.
"Aku ingin kau mengamati planet yang satu itu," kata malaikat senior sambil menunjuk dengan jarinya.
"Yah, bagiku kelihatannya sangat kecil dan agak kotor," kata malaikat kecil. "Apa istimewanya planet itu?"
Ia mendengar dengan setengah tidak percaya ketika malaikat senior memberitahu bahwa planet inilah, yang kecil, tidak berarti, dan tidak begitu bersih, yang menjadi Planet yang DIdatangi Yang Mahakuasa.
"Maksudmu Pangeran kita yang besar dan mulia... turun secara pribadi ke bola kecil peringakt lima ini? Mengapa Ia melakukan hal seperti itu? ...
Wajah malaikat kecil itu merengut jijik. "Maksudmu," katanya, "Ia membungkuk begitu rendah sampai menjadi salah satu makhluk yang merayap dan merangkak di bola yang melayang itu?"
"Memang begitu, dan aku kira Ia tidak akan suka kau menyebut mereka 'makhluk yang merayap dan merangkak' dengan nada suara seperti itu. Karena, walaupun bagi kita memang sangat aneh, Ia mengasihi mereka. Ia turun ke sana untuk mengunjungi mereka dan mengangkat mereka agar menjadi seperti Dia.
Suatu malam di tengah udara dingin dan gelap.. di antara perbukitan Betlehem..... Allah yang tidak mengenal sebelum dan sesudah, memasuki ruang dan waktu. Allah yang tidak mengenal perbatasan, secara mengejutkan masuk ke dalam kulit bayi yang amat terbatas, sang Mahakuasa menyusut menjadi manusia.
"Ia adalah gambar Allah yang tidak ke;ihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan," belakangan seorang rasul menulis; "Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia." Tapi beberapa saksi mata pada malam Natal itu tidak melihat satupun dari hal-hal itu. Mereka hanya melihat seorang Bayi yang berjuang menggunakan paru-paru yang belum pernah dipakai sebelumnya.
Mungkinkah ini benar, kisah Betlehem tentang sang Pencipta yang turun untuk lahir ke atas sebuah planet kecil? Kalau ya, ini adalah kisah yang tidak ada tandingannya. Tidak akan pernah lagi kita berpikir apa yang terjadi di planet bola tenis kotor ini berpengaruh pada seluruh alam semesta. Tidak mengherankan paduan suara malaikat menyanyikan lagu dengan spontan, bukan hanya mengejutkan bagi beberapa gembala, namun bagi seluruh alam semesta....
KELAHIRAN: PLANET YANG DIDATANGI
SUMBER :
BUKAN YESUS YANG SAYA KENAL (THE JESUS I NEVER KNEW)
PHILIP YANCEY
PROFFESSIONAL BOOKS
Tuesday, December 16, 2014
Monday, December 8, 2014
Allah menempatkanmu berada bersama raksasa kesulitan, kesedihan, ketakutan, kebingungan setiap hari, untuk membuktikan bahwa diriNya lebih besar dari semua itu....
DAUD:
MENGHADAPI RAKSASA ANDA
Pemuda bertubuh langsing dan tidak berjanggut itu berlutut di alur
sungai. Lumpur membasahi kakinya. Air yang berbuih-buih mendinginkan tangannya.
Apabila ia melakukan itu, ia dapat melihat sosok tampannya di permukaan air.
Rambutnya berwarna tembaga. Warna kulit dan matanya yang kecoklatan pasti
dikagumi para gadis Ibrani. Namun ia tidak mencari bayangan wajahnya, melainkan
batu. Batu yang licin. Semacam batu yang selalu tersimpan di kantung seorang
gembala. Batu licin yang dapat digunakan seperti pelor dengan daya hantam
laksana komet jatuh di kepala seekor singat, beruang, atau dalam kasus ini,
seorang raksasa.
Goliat memandang ke bawah dari
bukit. Hanya ketidakpercayaan yang membuatnya tertawa. Ia dan gerombolan orang
Filistin menembuh setelah luas lembah itu dan mengubahnya menjadi hutan tombak;
segerombolan geng kawwasan kumuh yang haus darah berteriak sambil memamerkan
senjata, sumpah serapah, dan tato. Goliat dengan tubuh yang sangat mencolok
dibandingkan yang lain. Tingginya sembilan kaki sembilan inci, mengenakan baju
baja seberat 125 pon, dan tatapannya seperti mata seorang penantang dalam acara
World Wresting Federatioan. Ia mengenakan baju ukuran 20, topi ukuran 10,5 dan
ikat pinggang 56 inci. Otot lengannya besar, pahanya berotot dan omongannya
nyembur jauh menggema di lembah itu. “Aku menantang hari ini barisan orang
Israel; berikanlah kepadaku seorang, supaya kami berperang lawan seorang” (1
Sam 17:10). Siapa yang mau berkelahi
secara jantan? Berikan perlawanan yang terbaik.
Tidak ada orang Ibrani yang
berani maju. Hingga hari ini. Hingga akhirnya Daud muncul.
Daud baru saja terlihat hari itu.
Ia meninggalkan kawanan ternak yang digembalakannya untuk membawakan roti dan
keju bagi saudara-saudaranya di medan laga. Di sanalah Daud mendengar Goliat
menghujat Allah. Itulah yang mendorong Daud untuk membuat keputusan. Lalu Daud
mengambil tongkat di tangannya, dari dasar sungai dipilihnya limat batu yang
licin dan ditaruhnya di dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat
batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangan. Demikianlah ia mendekati
orang Filistin itu (17:40).
Goliat memandang rendah anak
itu, menghinanya sebagai orang aneh. “Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku
dengan tongkat?” (17:43). Daud yang masih muda, kemerah-merahan dan elok
parasnya. Goliat yang brutal dan bertubuh tinggi besar. Tusuk gigi menghadapi tornado. Sepeda
mini menyerang truk beroda delapan belas. Anjing pudel berhadapan dengan anjing
rottweiler. Bukankah aneh jika Anda mengirimkan Daud untuk menghadapi
raksasa?
Mungkin lebih aneh lagi jika
Anda mengirim diri sendiri untuk menghadapi raksasa Anda sendiri.
Goliat dalam diri Anda tidak
membawa pedang atau perisai; senjatanya adalah tidak memiliki pekerjaan,
ditinggalkan, dilecehkan secara seksual, atau depresi. Raksasa Anda tidak
berbaris dan menuruni Lembah Tarbantin; ia berjingkrak-jingkrak melalui kantor,
kamar tidur, dan ruang kelas Anda. Ia membawa tagihan yang tidak dapat Anda
senangkan, minuman keras yang tidak dapat Anda tolak, pornografi yang tidak
dapat Anda abaikan, karier yang tidak dapat Anda lepaskan, masa lalu yang tidak
dapat Anda lupakan, dan masa depan yang tidak dapat Anda hadapi.
Anda tahu benar gemuruh suara
Goliat.
Daud menghadapi orang yang
terus-menerus menyemburkan tantangan. “Orang Filistin itu maju mendekat pada
pagi hari dan pada petang hari. Demikianlah ia tampil ke depan empat puluh hari
lamanya” (17:16). Raksasa Anda juga melakukan hal yang sama. Pertama dipikirkan
di pagi hari, terakhir dikhawatirkan pada malam hari – Goliat Anda mendominasi
hari Anda dan merusak kebahagiaan Anda.
Sudah berapa lama ia mengejar
Anda? Keluarga Goliat adalah musuh lama bangsa Israel. Yosua telah mengusir
mereka dari Tanah Perjanjian tiga ratus tahun sebelumnya. Ia menghancurkan
mereka semua, kecuali penduduk tiga kota: Gaza, Gat, dan Asdod. Gat
menghasilkan para raksasa. Coba tebak di mana Goliat dibesarkan. Lihat huruf “G”
di jaketnya? Sekolah Menengah Atas Gat. Bagi orang Ibrani, leluhur Goliat sama
artinya dengan bajak lau bagi angkatan laut Inggris zaman dulu.
Para prajurit Saul melihat
Goliat dan mengeluh. “Jangan lagi, ah.
Ayahku sudah memerangi ayahnya. Kakekku sudah memerangi kakeknya.
Anda pun akan melontarkan
keluhan yang sama, “Saya sudah menjadi orang yang gila kerja, sama seperti ayah
saya.” “Perceraian sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami.” “Mamaku tidak
bisa memiliki sahabat. Kapan semua ini bisa berakhir?”
Goliat. Berandalan yang menjadi
jawara di lembah itu. Lebih alot daripada daging murahan. Lebih galak daripada
anjing penjaga kembar. Ia menunggu Anda pada pagi hari, menyiksa Anda pada
malam hari. Ia mengincar leluhurAnda dan kini mengganggu Anda. Ia menutupi
sinar mentari dan membuat Anda beridri pada bayangan keraguan. “Ketika Saul dan
segenap orang Israel mendengar perkataan orang Filistin itu, maka cemaslah hati
mereka dan sangat ketakutan” (17:11).
Apa yang telah saya katakan
kepada Anda? Anda tahu Goliat. Anda mengenal caranya berjalan dan berbicara.
Anda telah melihat Godzilla Anda. Masalahnya, apakah ia yang benar-benar Anda lihat? Anda mengenal suaranya – namun benarkah
itu yang Anda dengar? Daud meliht dan mendengar lebih banyak. Bacalah kata-kata
pertama yang dikatakannya, bukan hanya dalam pertempuran, namun juga di dalam
Alkitab, “Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: ‘Apakah
yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang
menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat
ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup? (17:26)
Daud muncul sambil membicarakan
tentang Allah. Para prajurit tidak berkata apa-apa tentang Dia, kakak-kakaknya
tidak pernah membicarakan nama-Nya. Namun Daud mengambil satu langkah memasuki
arena dan melontarkan tentang Allah yang hidup. Ia melakukan hal yang sama
dengan yang dilakukan Raja Saul. Tidak ada diskusi tentang pertempuran atau
peluang. Hanya perkataan yang diinspirasikan oleh Allah: “TUHAN yang telah melepaskan
aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari
tangan orang Filistin itu (17:37).
Ia melanjutkan topik pembicaraan
itu dengan Goliat. Ketika sang raksasa menghina Daud, anak gembala itu
menjawab:
"Engkau mendatangi aku dengan
pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN
semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau
ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari
tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang
Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar,
supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, dan supaya segenap
jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan
lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke
dalam tangan kami." (17:45-47)
Tidak seorang pun yang membicarakan Allah. Daud tidak membicarakan
siapapun yang lain selain Allah.
Judul tambahan muncul dalam kisah ini. Lebih dari sekadar “Perkelahian
Daud dengan Goliat,” yakni “Fokus kepada Allah melawan fokus kepada raksasa.”
Daud melihat apa yang tidak dilihat orang lain, dan menolak apa yang
dilihat orang lain. Semua mata, kecuali mata Daud, terarah pada makhluk brutal
dan kasar tersebut. Semua kompas, kecuali milik Daud, diarahkan ke kutub orang
Filistin. Semua jurnal, kecuali Daud, menggambarkan hari demi hari di tanah
makhluk purba itu. Orang tahu ejekannya, tuntutannya, ukurannya, dan cara
berjalannya yang angkuh. Mereka berkonsentrasi pada Goliat.
Daud berkonsentrasi pada Allah. Ia memang melihat raksasa itu, namun
lebih memerhatikan Allah. Coba baca dengan hati-hai pekikan perang Daud: "Engkau
mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi
engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang
kautantang itu” (17:45).
Perhatikan kata jamak segala barisan Israel. Segala barisan? Para pengamat
umum hanya melihat satu barisan Israel. Tidak demikian dengan Daud. Ia melihat
sekutu pada Hari-H: peleton-peleton malaikat, dan infanteri orang-orang kudus,
senjata angin, dan kekuatan bumi. Allah dapat menghantam musuh dengan luapan
air seperti yang dilakukanNya bagi Musa, meruntuhkan tembok seperti yang
dilakukanNya bagi Yosua, menciptakan guntur sebagaimanayang dilakukanNya bagi
Samuel.
Daud melihat barisan Allah. Karena itu ia berlari ke barisan musuh yang
menghadapi orang Filistin (17:48).
Kakak-kakak Daud menutupi mata karena takut sekaligus mali. Saul
menghela napas panjang sementara pemuda Ibrani itu berlari menuju kematian.
Goliat memalingkan wajahnya sambil tertawa terbahak-bahak sehingga membukakan
sedikit ketopangnya dan memperlihatkan sedikiti bagian dahinya. Daud melihat
sasaran itu dan mengambil kesempatan. Suara
desingan katapel merupakan satu-satunya suara di lembah itu. Sshhhwww. Sshhhww. Batu itu terlepas laksana torpedo yang melayang di udara
dan menghujam tengkoraknya. Mata Goliat mendelik kaget. Ia jatuh menghujam ke
tanah dan mati. Daud berlari mendapatkannya, mengambil pedang Goliat dari
sarungnya, dan memenggal kepalanya.
Anda mungkin mengatakan bahwa Daud tahu bagaimana rasanya mendapatkan
kepala raksasanya.
Kapan Anda terakhir kali melakukan hal yang sama? Sudah berapa lama
Anda melarikan diri dari tantangan yang Anda hadapi? Kita cenderung menarik
diri, bersembunyi di belakang tumpukan pekerjaan dan merayap ke pengalihan
perhatian di klub malam ataupun ke atas tempat tidur dari cinta yang terlarang.
Untuk beberapa waktu, hari, atau tahun, kita merasa aman, terisolasi,
terbiuskan. Namun kemudian pekerjaan menghilang, minuman keras habis, atau
kekasih pergi. Kita pun mendegar Goliat kembali. Meningkat. Bombastis.
Cobalah cara lain. Kejar raksasa Anda dengan jiwa yang dipenuhi oleh
Allah. Raksasa perceraian, kamu tidak
boleh masuk ke dalam rumah tanggaku! Raksasa depresi? Mungkin memerlukan waktu
seumur hidup, namun kau tidak akan pernah dapat menaklukan saya. Raksasa
minuman keras, pikiran sempit, kekerasan terhadap anak, ketidakamanan.. kalian
harus hilang. Kapan terakhir kali Anda memasukkan batu ke pengumpan Anda
dan melemparkannya ke arah raksasa Anda?
Sudah lama sekali? Kalau begitu, Daud merupakan panutan Anda. Allah
menyebutnya berlari sebagai “seorang yang berkenan di hatiKu” (Kis 13:22). Dia
tidak menyatakan hal itu kepada orang lain. Tidak Abraham, Musa ataupun Yusuf.
Dia menyebut Paulus rasul, Yohanes orang yang dikasihiNya, namun keduanya tidak
dianggap sebagai orang yagn berkenan di hari Allah.
Orang mungkin membaca kisah Daud dan bertanya-tanya apa yang dilihat
Allah dari dirinya. Kejatuhan Daud ke dalam dosa terjadi sama seringnya dengan
kekokohan imannya. Ia tersandung sama seringnya dengan penaklukannya. Memandang
rendah Goliat, namun mengerling ke arah Batsyeba. Membenci penghujat Allah di
lembah, namun bergabung dengan mereka di belantara gurun. Seorang polisi pada
suatu saat. Berteman dengan mafia pada hari berikutnya. Ia dapat memimpin
tentara namun tidak bisa mengatur keluarga. Daud yang cepat naik darah. Daud
yang meratap. Haus darah. Haus akan Allah. Memiliki delapan istri. Mempunyai
satu Allah saja.
Orang yang berkenan di hati Allah? Allah melihat ia yang seperti itu,
memberikan harapan yang sama kepada kita semua. Kehidupan Daud bukanlah
kehidupan orang suci, yang tidak ternoda. Orang yang merasa hidup suci pasti
merasa betapa mengecewakannya kisah Daud. Yang lain melihat kisah itu sebagai
penguatan. Kita menaiki roller coaster
yang sama. Kita dihadapkan pada pilihan antara berkelok-kelok dan mengguncang
perut, makanan pelengkap dan roti bakar.
Pada saat baik-baik, tidak ada orang yang dapat menyaingi Daud. Pada
saat buruk, apakah ada yang mengalami lebih buruk lagi? Inti dari kasih Allah adalah
menyimak.
Kita membutuhkan kisah Daud. Para raksasa berkeliaran di sekitar kita.
Penolakan. Kegagalan. Pembalasan. Penyesalan yang mendalam. Pergumulan kita terlihat seperti
perjalanan seorang pencari hadiah. Para raksasa. Kita harus menghadapi mereka.
Namun kita tidak perlu menghadapinya sendiri. Pertama-tama fokus, terutama
kepada Allah. Pada saat Daud melakukan itu, raksasa pun kalah. Pada saat si raksasa
tidak melakukan hal itu, Daud melakukannya dan
menang.
Ujilah teori ini dengan Alkitab terbuka. Bacalah 1 Samuel 17 dan
buatlah daftar pengamatan tentang apa saja yang dilakukan Daud sehubungan
dengan Goliat.
Saya hanya menemukan dua hal. Satu pernyataan bagi Saul mengenai Goliat
(ayat 36). Satunya lagi dinyatakan di hadapan Goliat: “Siapakah orang Filistin
yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah
yang hidup?” (ayat 26).
Itu saja. Dua komentar yang berhubungan dengan Goliat (dan salah
satunya sangat keras) dna tidak ada pertanyaan. Tidak ada penyelidikan soal
kemampuan, usia, status sosial, atau IQ Goliat. Daud tidak menanyakan apa-apa;
tentang berat tombak, ukuran perisai, atau arti tato tengkorak dengan tulang
bersilangan di lengan sang raksasa. Daud juga tidak memusingkan keadaan lembah
itu.
Akan tetapi, ia banyak memikirkan Allah. Bacalah lagi kata-kata Daud,
kali ini dengan menggarisbawahi acuannya mengenai Allah.
“Barisan dari pada Allah yang
hidup” (ayat 26).
“Barisan dari pada Allah yang
hidup” (ayat 36).
“TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel” (ayat 45).
“TUHAN akan menyerahkan
engkau ke dalam tanganku... supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah” (ayat 46).
“TUHAN menyelamatkan bukan
dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan TUHANlah pertempuran dan Iapun
menyerahkan kamu ke dalam tangan kami (ayat 47).
Aku mendapati ada sembilan bahan acuan. Pikiran mengenai Allah
mengalahkan pikiran mengenai Goliat dengan perbandingan 9:2. Bagaimana rasio
ini dibandingkan dengan rasio Anda? Apakah Anda merenungkan anugerah Allah
empat kali lebih besar daripada merenungkan kesalahan Anda? Apakah daftar
berkat Anda empat kali lebih banyak daripada daftar keluhan Anda? Apakah arsip
pengharapan Anda empat kali lebih tebal daripada arsip ketakutan Anda? Apakah
Anda empat kali lebih sering membicarakan kuasa Allah daripada tuntutan
sehari-hari Anda?
Tidak? Kalau begitu Daud adalah panutan bagi Anda.
Beberapa keajaiban yang terkenal tidak muncul dalam kisah itu. Tidak
ada Laut Merah yang terbelah, kereta kuda yang menyala-nyala, atau bangkitnya
Lazarus dari kematian. Tidak ada keajaiban.
Namun ada satu keajaiban. Keajaiban Daud. Keajaiban seorang sederhanya
yang berjalan dalam terang kebenaran Allah.
Berfokus kepada para raksasa – Anda tersandung.
Berfokus kepada Allah – raksasa Anda dikalahkan.
Angkatlah wajah Anda, hai para pembunuh raksasa. Allah membuat
keajaiban bagi Daud juga akan membuatnya bagi Anda.
Sumber:
AKTOR-AKTOR
ALLAH: Kisah Orang Biasa di Tangan Allah yang Luar Biasa.
Max Lucado
PT. BPK
Gunung Mulia.
Friday, December 5, 2014
Inilah aku..
Menari dan berjejak kaki dalam heningku..
Siapa bilang hening itu menakutkan..
Hening itu keindahan
Berteman sepi itu menyejukkan..
Berlalu dalam sunyi itu menggembirakan...
Inilah aku..
Yang ditemani rindu dan asa yang tak terkira..
Mimpiku sudah kutenggelamkan..
Berteman waktu dan berharap kata..
Hingga suatu hari..
Ketika aku tersembuhkan oleh hening, sepi, dan kesendirian...
Saturday, October 18, 2014
Roma 4:1-25
Contoh Sentence Flow
1 ¶
(A)Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham,
bapa leluhur jasmani kita?
2 (a) Sebab jikalau Abraham
dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi
tidak di hadapan Allah.
3 (b) Sebab apakah dikatakan
nas Kitab Suci? "Lalu percayalah
Abraham kepada Tuhan,
(c)dan Tuhan
memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran."
Keteladanan
Abraham: iman diperhitungkan Tuhan sebagai kebenaran
-
Bapa leluhur secara jasmani
-
Tidak dibenarkan berdasarkan perbuatannya
-
Percaya kepada Allah
-
Allah memperhitungkan kepercayaannya sebagai kebenaran.
4 (a) Kalau ada orang yang
bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai
haknya.
5 (b)Tetapi kalau ada orang
yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka,
(c) imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.
Usaha vs Hadiah: Iman diperhitungkan
sebagai kebenaran
6 (c’)Seperti juga
Daud
(1)menyebut berbahagia orang
yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:
7 (2)Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya;
8 (3)berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya."
Mazmur Daud: Iman diperhitungkan sebagai
kebenaran
9 ¶
(B) (1) Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku
(a)bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat?
(b) Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai
kebenaran.
10 (1) Dalam keadaan manakah hal itu
diperhitungkan?
(a)Sebelum atau sesudah ia disunat?
(b)Bukan sesudah disunat, tetapi
sebelumnya.
11 (b’)Dan tanda
sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang
ditunjukkannya, sebelum ia bersunat.
Sebelum disunat: Iman diperhitungkan
sebagai kebenaran.
(2)Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya
yang tak bersunat, supaya kebenaran diperhitungkan kepada
mereka,
12 dan juga menjadi bapa
orang-orang bersunat,
yaitu mereka yang bukan hanya bersunat,
tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham,
bapa leluhur kita,
pada masa ia belum disunat.
Pembenaran kepada semua orang percaya
karena iman yang diperhitungkan sebagai kebenaran.
Tema
besar
1-12 Iman diperhitungkan Allah sebagai kebenaran.
13 (a)Sebab
bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji
kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia,
(b)tetapi karena
kebenaran, berdasarkan iman.
14 (a)Sebab
jika mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Allah,
(b)maka sia-sialah iman
dan batallah janji itu.
15 (a)Karena hukum Taurat membangkitkan murka,
tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.
16 (b)Karena itulah kebenaran berdasarkan
iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham,
(a)bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat,
(b) tetapi juga bagi
mereka yang hidup dari iman Abraham.
Sebab Abraham adalah bapa kita semua,
—
Iman Abraham: Bukan karena hukum
Taurat namun karena Janji Allah
17 ¶ (a)seperti ada tertulis:
"Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" —
di hadapan Allah yang
kepada-Nya ia percaya,
yaitu Allah yang
menghidupkan orang mati
dan yang menjadikan
dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.
18
(b)Sebab
sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan
percaya,
(a)bahwa ia akan
menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah
banyaknya nanti keturunanmu."
19
(b)Imannya tidak
menjadi lemah,
walaupun ia mengetahui, bahwa
tubuhnya sudah sangat lemah,
karena usianya telah kira-kira
seratus tahun,
dan bahwa rahim Sara telah
tertutup.
20
(a) Tetapi terhadap janji
Allah
(b) ia tidak bimbang karena
ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan
Allah, 21 dengan penuh keyakinan,
(a)bahwa Allah
berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
22
(b)Karena itu hal
ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.
Iman Abraham: Bukan karena kondisi
fisik yang lemah namun karena janji Allah
23 ¶ (a) Kata-kata ini, yaitu "hal ini
diperhitungkan kepadanya," tidak ditulis untuk Abraham saja,
24
(b)tetapi ditulis
juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya,
karena
kita percaya kepada Dia,
yang telah membangkitkan Yesus,
Tuhan kita, dari antara orang mati,
25
yaitu
Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena
pembenaran kita.
Iman kita: kepada Kristus,
berdasarkan janji Allah.
Tema
besar:
13-25
Janji Allah direalisasikan berdasarkan iman.
13 (a)Sebab
bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji
kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia,
(b)tetapi karena
kebenaran, berdasarkan iman.
14 (a)Sebab
jika mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Allah,
(b)maka sia-sialah iman
dan batallah janji itu.
15 (a)Karena hukum Taurat membangkitkan murka,
tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.
16 (b)Karena itulah kebenaran berdasarkan
iman supaya merupakan kasih karunia,
(a) sehingga janji itu berlaku
bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum
Taurat,
(b) tetapi juga bagi
mereka yang hidup dari iman Abraham.
Sebab Abraham adalah bapa kita semua,
—
Iman
Abraham: Bukan karena hukum Taurat namun karena Janji Allah
13
For the promise to Abraham and his offspring that he would be heir of
the world did not come through the law but through the righteousness of
faith. – karena janji kepada Abraham dan keturunannya
bahwa ia akan memiliki dunia tidak datang melalui hukum taurat, tetapi melalui
pembenaran karena iman.
è
Dalam
hal ini, titik penekanannya bukan apa arti hukum taurat di sini, tetapi
berdasarkan pada janji yang Allah berikan. Lihat konteks Roma secara
keseluruhan, bahwa keselamatan diberikan dari Allah melalui iman (bukan karena
melakukan hukum Taurat). Dalam konteks abraham ini, Paulus seperti ingin memberikan contoh kepada
jemaat orang Yahudi saat itu bahwa jika mereka mengatakan bahwa kelebihan mereka ada di dalam hukum
Taurat, mereka salah! Dan jika kelebihan mereka ada di dalam keturunan Abraham,
mereka juga salah! Mengapa? Karena yang terlihat dari Abraham adalah imannya.
Terhadap
janji Allah, respon yang dikehendakiNya: Iman.
Iman
berarti tidak meragukan sedikitpun janji yang Allah berikan dan tidak membantu
Allah merealisasikan janjiNya.
Namun
, Iman di dalam konteks mengerjakan keselamatan, harus terbukti di dalam hidup
pribadi kita. Iman kita hanya terlihat dari perbuatan (konteks keselamatan).
janji
Allah kepada Abraham tersebut tidak hanya berkaitan dengan janji terhadap tanah
kanaan. Tetapi janji untuk kepemilikan dunia.
Dan
janji itu juga bukan hanya janji berkaitan dengan dunia saat ini. tetapi juga
dunia yang akan datang.
Bdk
Ibr 11:10-16; why 21-22
è
Trough the righteousness of
faith
karena
kebenaran berdasarkan iman.
Janji
yang diberikan oleh Allah adalah janji akan kekekalan. Bukan hanya berkaitan
dengan dunia saat itu (tanah perjanjian), tetapi juga dunia yang akan datang.
14
For if it is the adherents of the law who are to be the heirs, faith is
null and the promise is void.
è
Jika
mereka yang mengharapkan mendapatkan melalui hukum taurat juga mendapatkannya,
maka iman itu tidak berguna (sia-sia) dan janji itu menjadi tidak berlaku lagi.
Standar
yang diberikan Allah setara / sama à berdasarkan janji dan diterima
melalui IMAN.
Jika
standar itu sama, maka tidak akan ada cara lain untuk menerima janji Allah itu,
selain melalui iman.
Hukum
taurat à
law/ menitik beratkan bukan pada hukumnya, melainkan pada usaha manusia untuk
memperoleh berdasarkan ketaatan kepada hukum.
Jika
warisan yang dijanjikan Allah diperoleh berdasarkan menjalankan hukum Taurat,
maka pembenaran tidak lagi berdasarkan iman, tetapi berdasarkan usaha.
If
the heritance is gained by observing the law, then rightousness is no longer by
faith but by works.
Faith
and works are fundamentally opposed (iman dan usaha pasti bertentangan secara
fundamental), for faith means trusting in or relying on a promise of God’s work
and not depending in any way on human performance.
Ketika
Allah berjanji, maka pasti Allah akan menepatinya.
Bagaimanapun
tindakan umat manusia di hadapan kita.
Mengapa?
Karena kita menerima janji dari Allah sendiri.
15
For the law brings wrath, but where there is no law there is no
transgression.
Hukum Taurat mendatangkan murka à ketika tidak menaatinya, maka
mendapat murka dari Allah.
16
That is why it depends on faith,
in order that the promise may rest on
grace and be guaranteed to all his offspring—not only to the adherent of
the law but also to the one who shares
the faith of Abraham, who is the father of us all,
Hukum
taurat pada dasarnya akan mendatangkan murka Allah.
Jika
berdasarkan iman maka akan diperhitungkan sebagai kasih karunia Allah.
Karena
berdasarkan kasih karunia, maka pasti janji itu dapat diberlakukan bagi semua
keturunan Abraham, baik yang adalah orang-orang yahudi (mendapat warisan hukum
taurat) maupun yang hidup dari iman Abraham.
Betapa
Allah adil dengan segala kondisi yang dialami tersebut.
Abraham adalah Bapa kita semua à Bapa orang percaya à Percaya kepada Allah melalui iman.
17 ¶ (a)seperti ada tertulis:
"Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" —
di hadapan Allah yang
kepada-Nya ia percaya,
yaitu Allah yang
menghidupkan orang mati
dan yang menjadikan
dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.
ESV: 17 ¶ as it is written, “I have made you the father
of many nations”—in the presence of the God in whom he believed, who gives life to the
dead and calls into existence the things that do not exist.
Allah yang memberikan
janji ini Adalah Allah yang dipercayai oleh Abraham.
Allah yang memberikan janji ini adalah Allah yang
berotoritas à mampu memberikan kehidupan kepada orang mati (kuasa).
Allah yang melalui
firmanNya dapat menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada.
Hal ini berkaitan
dengan kuasa dan kebesaran Allah.
Janji yang diberikan
menjadi sebuah janji yang begitu kuat dan begitu luar biasa, karena bergantung
dari kualitas pribadi yang memberikan janji tersebut, yaitu Allah.
-
Berotoritas.
-
Berkuasa
-
Sehingga
layak untuk dipercayai. Kepercayaan Abraham bukan dilandasi pada kepercayaan
kepada pribadi yang lemah, tetapi pada pribadi yang sungguh berkuasa, apapun di
dunia ini telah ada di dalam otoritasNya.
Akibatnya, Abraham
mengerti bahwa sekalipun tidak ada dasar apapun untuk mengharapkan semuanya,
tetapi Abraham tetap berharap segala sesuatu kepada Allah.
Abraham diperhadapkan
pada kondisi tanpa pengharapan ketika ia melihat dirinya sendiri dan melihat
pada kondisi Sara, Isterinya..
18
(b)Sebab sekalipun
tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya,
(a)bahwa ia akan
menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah
banyaknya nanti keturunanmu."
19
(b)Imannya tidak
menjadi lemah,
walaupun ia mengetahui, bahwa
tubuhnya sudah sangat lemah,
karena usianya telah kira-kira
seratus tahun,
dan bahwa rahim Sara telah
tertutup.
20
(a) Tetapi terhadap janji
Allah
(b) ia tidak bimbang karena
ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan
Allah, 21 dengan penuh keyakinan,
(a)bahwa Allah
berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
22
(b)Karena itu hal
ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.
Iman Abraham: Bukan karena kondisi
fisik yang lemah namun karena kualitas dari pribadi yang memberikan janji itu.
Abraham tidak punya dasar apapun
untuk berharap.
Mengapa?
-
Tubuhnya
sudah sangat lemah
-
Usia
kira-kira sudah 100 tahun
-
Rahim
sara telah tertutup
Hal-hal
yang secara fisik dapat menghalangi dianggap dapat menghalangi terealisasinya
janji Allah.
Mengapa?
Karena
Allah menjanjikan sesuatu yang begitu luar biasa, yaitu:
Keturunan.
Dan
banyak bangsa akan menjadi keturunan Abraham.
Bagaimana kondisi iman Abraham?
-
Imannya
tidak menjadi lemah (19a)
-
Ia
tidak bimbang karena ketidakpercayaan (20)
-
Ia
diperkuat dalam imannya (20) Ia memuliakan Allah
-
dengan
penuh keyakinan (20).
Dasar pengharapan Abraham hanya ada
pada satu titik:
-
Allah
berkuasa melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
19
He did not weaken in faith
when he considered his own body, which was as good as dead (since he was about
a hundred years old), or when he considered the barrenness of Sarah’s
womb.
20
No distrust made him waver
concerning the promise of God, but he grew strong in his faith as he gave glory
to God,
21 fully convinced that God was able to do what
he had promised.
-
Imannya
tidak lemah
-
Tidak
ada ketidakpercayaan yang membuatnya tidak mampu mempercayai janji Allah.
-
Ia
bertumbuh makin kuat di dalam iman à pertumbuhan imannya itu membuat ia
mampu untuk menaikkan puji-pujian kepada Allah
-
Ia
tiba di titik di mana memiliki keyakinan yang penuh kepada Allah, yang mampu
untuk melakukan apa yang telah dijanjikanNya itu. Allah sangat mampu
merealisasikan apa yang telah dijanjikanNya.
Iman
Abraham bertumbuh seiring dengan waktu menantikan Allah. Waktu penantian yang
disediakan oleh Allah bukan untuk melemahkan kita, tetapi untuk membuat iman
kita kepada Allah semakin bertumbuh dengan kuat dan kokoh, semakin dalam dan
semakin dalam J
Iman
kita sudah seharusnya bertumbuh makin penuh kepada Allah dari hari ke hari.
Kondisi
sulit yang kita alami, sebenarnya bukan untuk melemahkan iman kita,tetapi
justru membuat iman kita kepada Allah makin bertumbuh dan bertumbuh dari hari
ke hari.
Abraham
diperhadapkan pada 2 kondisi.
-
kondisi
tanpa pengharapan ketika ia melihat dirinya sendiri dan melihat pada kondisi
Sara, Isterinya.. mereka sudah terlalu tua.
-
kondisi
penuh pengharapan ketika ia berhadapan dengan Allah yang mampu, yang berkuasa
untuk melaksanakan apa yang telah Allah sendiri janjikan.
Iman
kepada Allah melampaui kondisi yang sedang ada di hadapan kita. Pengharapan
yang diberikan Allah kepada kita bukanlah pengharapan yang palsu. Mengapa?
Karena
kualitas kesetiaan Pribadi pemberi harapan tersebut.
Manusia:
pemberi harapan palsu.
Allah:
pemberi harapan pasti.
23 ¶ (a) Kata-kata ini, yaitu "hal ini
diperhitungkan kepadanya," tidak ditulis untuk Abraham saja,
24
(b)tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun
Allah memperhitungkannya,
karena
kita percaya kepada Dia,
yang telah membangkitkan Yesus,
Tuhan kita, dari antara orang mati,
25
yaitu
Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena
pembenaran kita.
Iman kita: kepada Kristus,
berdasarkan janji Allah.
Paulus kembali membawa semua
pembahasan mengenai iman Abraham ke dalam konteks jemaat di Roma à
Bahwa apa yang tertulis itu, bukan
hanya untuk Abraham saja, melainkan juga kepada jemaat di Roma.
Mengapa?
Karena Allah menerapkan standar yang
sama kepada semua orang.
Dan dalam konteks keselamatan,
è
kepercayaan kepada Allah
è
yang telah membangkitkan Yesus,
Tuhan dari antara orang mati.
Yesus yang telah diserahkan karena
pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.
Kematian
dan kebangkitan Kristus semata-mata dikerjakan Allah untuk kita.
Dan
Allah menghendakinya agar kita merespon semua karya dan pekerjaanNya itu di
dalam iman dan percaya kepadaNya.
Kita
adalah objek kasih dari Allah.
Hanya beriman, Tanpa usaha.
Tema
besar:
13-25
Janji Allah direalisasikan berdasarkan iman.
Aplikasi:
-
kita telah menerima keselaman dari Allah
berdasarkan iman kepada Tuhan Yesus Kristus.
è
bersyukur untuk kasih karunia Allah itu.
-
dalam hidup kita setiap hari, lihatlah kembali
semua janji yang telah Allah berikan.
Berjalan di dalam iman dan bertindak sesuai
dengan perintahnya.
Percaya saja,
Ikut saja,
Taat saja..
J
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)