Sebelum saya
beriman pada Kristus:
- Saya orang yang sangat mementingkan citra diri
(image) di hadapan banyak orang, sehingga membeberkan kebohongan kepada
orang-orang di sekitarku
-
Saya mengejar pengakuan dan penghargaan dari
orang lain
-
Saya seorang yang penuh kepahitan pada orang tua
dan saudara
-
Saya tidak percaya diri
Bagaimana
saya beriman pada Kristus:
-
Melalui sebuah proses. Saya tidak diinjili oleh
satu orang saja, tapi oleh banyak orang.
Dimulai ketika katekisasi, saya akhirnya paham bahwa Yesus itu
Juruselamat atas dosa-dosa saya. Dalam berbagai momen, di KKR perdana Mahasiswa
Baru Welcome to Serve Petra, di Tutorial Etika, di masa-masa kamp Persiapan
Asisten Tutor, dalam Kelompok Pendalaman Alkitab, dalam pelayanan di Pelma UK
Petra, banyak hal yang Allah bukakan tentang diriNya dan tentang apa yang telah
dilakukanNya bagiku.
-
Ada satu titik peristiwa yang membuatku berbalik
kepada Allah, namun terjadi dalam 3 kali:
1.
Ketika kamp persiapan menjadi Astor, saya
melihat diri saya seperti orang yang memakai topeng dan munafik di depan banyak
orang karena menceritakan kebohongan pada orang lain
2.
Ketika saya membaca ayat yang sangat menusuk
hati:
Yes 6:1-8.
Saya menyadari keberadaan diri saya yang
sangat tidak pantas dihadapan Allah karena menceritakan kebohongan pada orang
lain. Saya hidup dengan bibir yang najis di hadapan Allah.
3.
Ketika saya membaca sebuah buku yang mengatakan
demikian:
Jika
Kristus mementingkan citra diriNya di hadapan orang lain, Ia tidak akan pernah
mau tergantung di atas kayu salib yang hina untuk orang berdosa seperti mu.
Hal ini terjadi karena saya tidak mau
mengatakan hal-hal yang jujur tentang diri saya kepada orang lain yang telah
saya bohongi.
Setelah berada pada titik yang demikian, Kristus
membuat saya menyadari akan setiap dosa dan kesalahan saya. Sebagai respon atas kasih dan anugerahNya
yang telah saya terima saya berkomitmen kepada Kristus, untuk jujur kepada
semua orang yang telah saya bohongi, yaitu kepada:
-
Teman-teman Kos
-
Kakak Astor
-
Kakak KTB
-
Teman-teman Kelompok Tutorial
-
Kakak KPA
Sejak saya
beriman pada Kristus, dan bergabung dalam KTB yang dipimpin oleh Kak
Ivanna, maka :
-
Relasi dengan Allah dipulihkan kembali melalui
saat teduh pribadi, saya mengalami apa yang dinamakan hidup kekal itu (Yoh.
17:3)
-
Saya beberapa kali masih melakukan dosa, tapi
saya mengalami apa yang dinamakan jaminan pengampunan atas dosa-dosa yang telah
saya lakukan di hadapan Allah (1 Yoh 1: 9)
-
Saya melihat bahwa di dalam Kristus, semua hal
itu menjadi baru (2 Kor 5:17)
è
Kasih dari Kristus membuat saya menyadari
keberadaan diri saya yang tidak layak di hadapanNya, landasan kasih Kristus itu
yang membuat saya melepaskan pengampunan kepada
orang tua dan orang lain yang menyakiti/mengkhianati saya.
è
Kasih Kristus membuat saya mengerti bahwa diri
saya sangat berharga di hadapanNya dan Ia rela melakukan segala-galanya bagi
saya, jadi sebenarnya saya tidak membutuhkan pengakuan atau penghargaan dari
orang lain
è
Kristus membangun kembali kepercayaan diri saya
secara perlahan-lahan. Saya adalah orang yang sangat takut untuk ditolak, tapi
Ia memproses saya, dan bagian ini telah sepenuhnya terselesaikan.
Saat ini, saya masih takut untuk dinilai
orang lain/atasan. Tapi saya percaya Dia sendiri akan terus memproses saya
dalam bagian ini.
è
Kasih Kristus membuat saya mampu mengelola
perasaan kepada seseorang yang sangat saya cintai, saya menyerahkan kekang
kepada Kristus untuk menundukkan diri pada apa yang menjadi kehendakNya ketika
keberadaan orang itu justru akan menghalangi mengerjakan panggilan hidup.
è
Relasi dengan Kristus membawa saya pada
kedewasaan dari hari ke hari
è
Relasi dengan Kristus membawa saya pada penemuan
akan kehendak Allah dan panggilanNya dalam hidup saya.
è
Relasi dengan Kristus membuat saya belajar untuk
mempercayai Dia dalam segala kondisi, karena setiap kondisi selalu membawa saya
untuk:
Makin yakin kepadaNya
Memperoleh kebahagiaan.
è
Relasi dengan Kristus membuat saya makin
mengenal diri saya sendiri. Saya berupaya terus-menerus untuk berkaca pada
firman Tuhan dan dengan caraNya, saya makin memahami diri sendiri, mengenali
kelemahan-kelemahan saya, dan terus memintaNya untuk memproses saya sesuai
kehendakNya sehingga keberadaan diri saya ini dapat sesuai dengan firmanNya.
Semua
pertumbuhan rohani yang ada tersebut saya sadari karena kasih karunia Allah
melalui KTB dan juga berbagai pembekalan rohani di kampus UK Petra.
Contoh dan teladan
bagi kerohanian saya adalah dari Kak Ivanna sendiri. Ia melakukan lebih banyak
daripada seorang kakak kandung. Saya melihatnya sebagai pemimpin rohani yang
dengan seluruh keberadaannya, mempercayakan dirinya kepada saya, untuk dilihat
hidupnya, untuk dicontoh dan diteladani sebagai seorang murid Kristus, dan juga
sebagai seorang PKK.
10 September 2013
0 komentar:
Post a Comment