Sunday, July 27, 2014

KETIKA PILIHAN TERBAIK BUKANLAH MELUPAKAN

Pernah seseorang berkata kepadaku:
“Memang pilihan terbaik adalah melupakan...”.
Kalimat ini seakan-akan adalah kalimat yang baik dan bijak. Tapi tahukah kamu, apa yang sebenarnya ada di balik kalimat ini?? Kalimat ini adalah kata dari mereka yang tidak mau dan tidak berani untuk menghadapi kenyataan hidup. Kalimat ini adalah kalimat seorang yang tidak mau merasakan kesakitan-kesakitan dalam hidupnya, sehingga yang dipilihnya adalah melupakan semuanya.

Untuk memulai semuanya....
Hmm.. Pernahkah kamu mengalami hal-hal di bawah ini?
1. Takut dinilai (salah).
Ciri-cirinya:
-          Pandanganmu terhadap keputusan-keputusan:
Tidak berani mengambil keputusan. Walaupun sebenarnya kamu tahu apa yang benar dan apa yang salah. Tapi, kamu tidak berani untuk berada di satu titik. Kamu seakan-akan berada di antara keduanya, zona abu-abu. Setelah ada seseorang yang berada di salah satu sisi (yang juga kamu anggap benar), maka kamu pun akan mengambil posisi itu.
-          Pandanganmu terhadap penilaian orang lain:
Takut dinilai salah oleh orang lain, takut dinilai berbeda dari orang lain.
-          Pandanganmu terhadap akibat/resiko:
Takut resiko. Takut berada di dalam posisi yang tidak nyaman di kemudian hari. Penyesalan menjadi hal yang tidak pernah kamu inginkan ada di dalam hidupmu. Sebisa mungkin mengambil semua langkah yang aman.
-          Reaksi terhadap teguran:
Jika ada yang menegurmu, kamu akan menolaknya mentah-mentah dan merasa semua pilihanmu benar.
Jika orang yang lebih berotoritas yang menegurmu, maka kamu bisa sangat tidak bersemangat, putus asa, dan tidak mau berjuang lagi.

2. Takut ditolak
Ciri-cirinya:
Berkaitan erat dengan RELASI.
-          Tidak mau berelasi mendalam dengan banyak orang. Karena jika mereka mengetahui dirimu yang sebenarnya, kamu takut mereka akan menolakmu.
Relasi yang dalam dan transparan menjadi bagian yang paling kamu takutkan.
-          Bila berada di komunitas yang baru, kamu akan menjadi orang paling pendiam, padahal sebenarnya kamu tidak pendiam. Kamu membangun tembok yang sangat tinggi, sehingga orang lain akan sulit mendekatimu.
Atau mungkin kamu memiliki banyak teman dan mudah sekali untuk dekat dengan seseorang yang baru kamu kenal, tetapi kamu tidak pernah berani untuk berelasi yang dalam dengan mereka semua. Kamu terlalu takut dengan dirimu, masa lalumu, dan semua sisi gelapmu.
-          Kenyamanan adalah hal pertama yang kamu kejar dalam berteman. Kamu akan menganalisa dengan cermat siapa yang dapat dijadikan teman yang baik dan membuatmu nyaman.


     3.   Takut kecewa
Ciri-cirinya:
-          Pandangan terhadap harapan dan masa depan:
Kamu tidak mau mematok harapan yang terlalu tinggi. Karena sepertinya di dalam kenyataan, kamu tidak mampu melihat sesuatu yang sesuai dengan keinginanmu. Daripada berharap dan kemudian kecewa, lebih baik melupakan harapan-harapan itu.
-          Pandangan terhadap diri sendiri dan orang lain:
Mengecewakan orang lain. Daripada kamu yang dikecewakan, kamu lebih memilih untuk mengecewakan orang lain. Kamu menganggap semua baik-baik saja. Kamu berharap mereka merasakan kekecewaan yang pernah kamu rasakan, entah kekecewaan saat ini atau kekecewaan di masa lalu.

Jika kamu mengalami hal-hal di atas, kemungkinan besar kamu orang yang mengalami yang namanya LUKA BATIN. Tapi, mengapa aku berani mengatakan hal ini? Karena aku pernah mengalami semua itu. Takut dinilai salah, takut ditolak dan takut kecewa telah menjadi bagian hidupku selama ini.

Ada banyak kisah di masa lalu yang membuatku mengalami hal-hal tersebut. Misalnya saja: kurangnya figur / kasih sayang seorang ayah. Kasih seorang ayah menurutku merupakan bagian paling penting dalam hidup seseorang. Ayah menjadi pelindung. Ayah menjadi sosok yang sangat dapat diandalkan. Tapi, ketika figur itu tidak kita miliki sejak kecil, maka seperti ada bagian yang hilang dari diri kita.

Selain itu, jika sering mengalami penolakan sejak kecil, misalnya: kamu telah berusaha semaksimal mungkin dengan mendapat nilai 9 di sekolah, tapi ternyata waktu pulang ke rumah, orang tuamu berkata, “Mengapa hanya mendapat nilai 9? Mengapa tidak berhasil mendapat nilai 10?” Mungkin ini hal yang sangat kecil dan konyol bagi kita sekarang, tetapi bagi yang mengalaminya 10-15 tahun sepanjang hidup, bukankah akan menjadi bagian yang tidak terlupakan? Masa kanak-kanak kita akan sangat membentuk bagaimana kita sekarang. Ketakutan-ketakutan saat ini, seringkali adalah ketakutan-ketakutan masa lalu yang tak terselesaikan. Kita menganggap semua hal itu biasa saja dan dengan melupakannya maka semuanya akan beres. Tidak seperti itu, teman.. semuanya harus dibereskan satu per satu.

Mungkin kamu juga pernah berkali-kali dikecewakan oleh orang yang paling kamu percayai. Bayangkan saja. Jika di SD, kamu punya seorang sahabat karib, kemana-mana bersama, melakukan segala sesuatu bersama, tapi suatu ketika ia mengecewakanmu. Misalnya saja dengan tidak mau sekelompok bernyanyi denganmu karena suaramu agak jelek.. hehee. Di SMP, kamu juga punya seorang sahabat yang sangat dekat. Kamu menceritakan semua rahasiamu yang tidak diketahui orang lain. Esok harinya ternyata 1 sekolah telah tahu apa rahasia besarmu. Di SMA, kamu juga punya seorang sahabat karib. Ehm.. seseorang yang kamu suka malah menyukainya dan memintamu menjadi mak comblang.. hikxx. Di kuliah, kamu punya orang yang paling kamu percaya. Kamu sangat mempercayainya sehingga menceritakan semua rahasiamu dan orang yang kamu suka. Tapi, tak disangka-sangka ia malah mendekati orang yang kamu suka dan jadian dengan orang itu... huekz...

Seringkali di dalam hidup ini, banyak sekali kekecewaan yang datang menghampiri kita. Kita tidak mampu melawannya, kita hanya kecewa dan kemudian melupakannya. Berharap waktu yang akan membuat kita mampu ‘sembuh’ dari segala kekecewaan itu.

Tapi, apakah melupakan adalah cara yang benar??? Apakah waktu yang panjang akan membuat kita sembuh???

Dalam pengalamanku, melupakan bukanlah cara yang tepat. Waktu yang panjang juga tidak akan menyembuhkan luka yang sudah ada di batin kita. Luka yang tergores berkali-kali sejak kita kecil hingga sekarang, tidak akan sembuh hanya karena waktu.

Hmmm... Pernah melihat bawang merah?? Berapa kali kamu mengupasnya sehingga sampai di bagian yang paling dalam?? Begitu pula dengan hidup kita. Seringkali kita membungkus semua luka yang ada dengan lapisan-lapisan yang kita bangun dari luar diri kita. Kita bungkus dengan keceriaan, senyuman, mengalihkan pikiran dengan menjadi sibuk dengan pekerjaan yang ada dan lain sebagainya.

Taukah kamu bahwa SEBENARNYA
Kita tidak berani membuka ke dalam karena semua yang terjadi itu terlalu menyakitkan untuk dirasakan kembali saat ini. Yang ada di dalam benak kita, “semua akan baik-baik saja”, atau “aku sudah biasa mengalami hal seperti ini, jadi bukan merupakan masalah yang besar bagiku”, atau “dengan melupakan semua yang terjadi, maka akan baik-baik saja”...


Itulah kebohongan besar yang kita lakukan sebagai manusia.

Kita berbohong bahwa kita tidak pernah kecewa.
Kita berbohong bahwa kita tidak pernah disakiti.
Kita berbohong bahwa kita tidak pernah ditolak oleh seseorang.
Kita berbohong bahwa kita tidak pernah merasakan sakit yang mendalam karena kenyataan yang ada di depan kita seringkali sangat berbeda dengan harapan kita.




LALU,  BAGAIMANA KITA MENYELESAIKAN SEMUA KONDISI DIRI YANG DEMIKIAN??

Pernahkah kamu mendengar kata “rekonsiliasi”?
Menurut KBBI, rekonsiliasi adalah perbuatan untuk memulihkan hubungan.

Hal ini berarti suatu langkah atau tindakan yang diambil untuk memulihkan suatu kondisi.
Menurut 2 Kor 5: 19a Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka.
2 Cor 5: 19a  that is, in Christ God was reconciling the world to himself, not counting their trespasses against them. ESV

Berdasarkan pengertian firman Tuhan, rekonsiliasi berarti berdamai, atau tindakan yang dilakukan untuk berdamai. Allah mendamaikan dunia yang bermusuhan denganNya melalui pengorbanan Kristus di atas kayu salib. Kita telah didamaikan dengan Allah oleh pengorbanan Kristus  di atas kayu salib. Tapi, kita membutuhkan rekonsiliasi dengan diri  sendiri dan masa lalu kita.  


Kondisi yang kita alami: “Takut dinilai”, “takut ditolak”, “takut kecewa”

Tindakan yang kita ambil untuk dapat memulihkan kondisi tersebut:
1.       Mengenali kondisi di masa lalu yang membuat kita mengalami hal-hal itu.

2.       Berdamai dengan kondisi masa lalu tersebut.
Bagaimana caranya berdamai dengan masa lalu?
Dengan mengambil keberanian yang besar untuk berhadapan dengan masa lalu itu. Kita dapat menuliskannya ataupun mengingat masa-masa ketika kita ditolak, dikecewakan, disakiti, dinilai buruk oleh orang lain, ditinggalkan, dan lain sebagainya.
Hal ini mungkin sangat menyakitkan, tetapi hanya dengan berhadapan langsung dengan semua kondisi itulah kita dapat mengalami pemulihan.
3.      Membawanya di dalam doa secara jujur dan belajar menerima semua kondisi itu.
Kita bisa mengatakan:
Tuhan.. saya pernah kecewa akan hal ini .....
Tuhan.. saya pernah merasakan sakit yang sangat mendalam ketika...
Tuhan.. saya pernah disakiti oleh ayah saya..
Tuhan.. ibu saya meninggalkan saya ketika....

Sekarang.. saya menerima semua kondisi itu sebagai bagian dari hidup saya....
Saya menerima semuanya sebagai bentukan Tuhan dan proses dari Tuhan..

4.       Meminta Tuhan memulihkan dengan cara Tuhan.
Cara Tuhan seringkali sangat unik dan tidak pernah kita ketahui. Ada waktu yang harus dilalui untuk memulihkan semua itu.. tapi, percayalah cara Tuhan sangat sanggup untuk mengubahkan.

Saya dipulihkan dari rasa takut ditolak dengan berhadapan dengan 200 orang ibu rumah tangga ketika mengerjakan skripsi. Mau tidak mau, Tuhan menyuruh saya berhadapan dengan orang-orang baru dan belajar berkomunikasi dengan mereka (termasuk juga dalam mengerjakan data skripsi tersebut). Setelah itu, saya tidak takut ditolak lagi.. ajaib bukan??

Saya dipulihkan dari takut kecewa saya dengan menghadirkan seseorang yang sangat saya sayangi (uuwwweek :P).. tapi, Tuhan mengambilnya dan meminta saya untuk merelakannya. Dengan cara Tuhan yang unik itu, saya dipulihkan dari rasa takut kecewa.


Teman, ada banyak kondisi di dunia ini, yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan..
Kita tidak bisa memilih dilahirkan di dalam keluarga seperti apa..
Kita tidak bisa memilih diperlakukan dengan cara seperti apa oleh orang tua kita..
Kita tidak bisa memilih karena semua diluar kontrol kita..

Tapi,
Kita bisa memilih untuk BERDAMAI dengan semua kondisi itu.
Kita bisa memilih untuk TIDAK MELUPAKAN, tapi menerimanya dengan lapang dada..
Kita bisa memilih untuk menjadi BERANI MENGHADAPI KENYATAAN HIDUP..
Sesungguhnya itulah proses menjadi seseorang yang DEWASA..



Kamu akan menemukan bahwa, di dalam perjalanan hidup bersama dengan Kristus, ada banyak bagian yang bagi kita sangat tidak mungkin untuk diubahkan, tetapi Kristus sanggup untuk mengubahkan semua itu..

kita diajariNya berhadapan dengan kondisi-kondisi yang tidak mungkin, supaya kita tahu bahwa BAGI-NYA semua hal mungkin!!


17  Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.  
18  Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.  
19  Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. 
20  Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.  
21  Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.  

PILIHAN TERBAIK BUKAN MELUPAKAN.. TETAPI BELAJAR UNTUK DENGAN RELA HATI MENERIMA SEMUANYA..
ITU MEMBUKTIKAN BAHWA KAMU BUKAN SEORANG PENGECUT.. MELAINKAN SEORANG PEMBERANI... 





0 komentar:

Post a Comment