“Memang pilihan terbaik adalah
melupakan...”.
Kalimat ini seakan-akan adalah
kalimat yang baik dan bijak. Tapi tahukah kamu, apa yang sebenarnya ada di
balik kalimat ini?? Kalimat ini adalah kata dari mereka yang tidak mau dan
tidak berani untuk menghadapi kenyataan hidup. Kalimat ini adalah kalimat
seorang yang tidak mau merasakan kesakitan-kesakitan dalam hidupnya, sehingga
yang dipilihnya adalah melupakan semuanya.
Untuk memulai semuanya....
Hmm.. Pernahkah kamu mengalami
hal-hal di bawah ini?
1. Takut
dinilai (salah).
Ciri-cirinya:
-
Pandanganmu
terhadap keputusan-keputusan:
Tidak berani
mengambil keputusan. Walaupun sebenarnya kamu tahu apa yang benar dan apa
yang salah. Tapi, kamu tidak berani untuk berada di satu titik. Kamu
seakan-akan berada di antara keduanya, zona abu-abu. Setelah ada seseorang yang
berada di salah satu sisi (yang juga kamu anggap benar), maka kamu pun akan
mengambil posisi itu.
-
Pandanganmu terhadap penilaian orang lain:
Takut dinilai salah
oleh orang lain, takut dinilai berbeda dari orang lain.
-
Pandanganmu terhadap akibat/resiko:
Takut resiko. Takut berada di dalam posisi yang tidak
nyaman di kemudian hari. Penyesalan menjadi hal yang tidak pernah kamu inginkan
ada di dalam hidupmu. Sebisa mungkin mengambil semua langkah yang aman.
-
Reaksi terhadap teguran:
Jika ada yang menegurmu, kamu akan menolaknya
mentah-mentah dan merasa semua pilihanmu benar.
Jika orang yang lebih berotoritas yang menegurmu, maka
kamu bisa sangat tidak bersemangat, putus asa, dan tidak mau berjuang lagi.
2. Takut
ditolak
Ciri-cirinya:
Berkaitan erat
dengan RELASI.
-
Tidak mau berelasi mendalam dengan banyak orang.
Karena jika mereka mengetahui dirimu yang sebenarnya, kamu takut mereka akan
menolakmu.
Relasi yang dalam dan transparan menjadi bagian yang
paling kamu takutkan.
-
Bila berada di komunitas yang baru, kamu akan
menjadi orang paling pendiam, padahal sebenarnya kamu tidak pendiam. Kamu
membangun tembok yang sangat tinggi, sehingga orang lain akan sulit
mendekatimu.
Atau mungkin kamu memiliki banyak teman dan mudah
sekali untuk dekat dengan seseorang yang baru kamu kenal, tetapi kamu tidak pernah berani untuk berelasi yang dalam dengan mereka
semua. Kamu terlalu takut dengan dirimu, masa lalumu, dan semua sisi
gelapmu.
-
Kenyamanan adalah hal pertama yang kamu kejar
dalam berteman. Kamu akan menganalisa dengan cermat siapa yang dapat dijadikan
teman yang baik dan membuatmu nyaman.
3. Takut
kecewa
Ciri-cirinya:
-
Pandangan terhadap harapan dan masa depan:
Kamu tidak mau mematok harapan yang terlalu tinggi.
Karena sepertinya di dalam kenyataan, kamu tidak mampu melihat sesuatu yang
sesuai dengan keinginanmu. Daripada berharap dan kemudian kecewa, lebih baik
melupakan harapan-harapan itu.
-
Pandangan terhadap diri sendiri dan orang lain:
Mengecewakan orang lain. Daripada kamu yang
dikecewakan, kamu lebih memilih untuk mengecewakan orang lain. Kamu menganggap
semua baik-baik saja. Kamu berharap mereka merasakan kekecewaan yang pernah
kamu rasakan, entah kekecewaan saat ini atau kekecewaan di masa lalu.
Jika kamu mengalami hal-hal di atas, kemungkinan besar kamu orang yang
mengalami yang namanya LUKA BATIN.
Tapi, mengapa aku berani mengatakan hal ini? Karena aku pernah mengalami semua
itu. Takut dinilai salah, takut ditolak dan takut kecewa telah menjadi bagian
hidupku selama ini.
Ada banyak
kisah di masa lalu yang membuatku mengalami hal-hal tersebut. Misalnya saja:
kurangnya figur / kasih sayang seorang ayah. Kasih seorang ayah menurutku
merupakan bagian paling penting dalam hidup seseorang. Ayah menjadi pelindung.
Ayah menjadi sosok yang sangat dapat diandalkan. Tapi, ketika figur itu tidak
kita miliki sejak kecil, maka seperti ada bagian yang hilang dari diri kita.
Selain itu,
jika sering mengalami penolakan sejak kecil, misalnya: kamu telah berusaha
semaksimal mungkin dengan mendapat nilai 9 di sekolah, tapi ternyata waktu
pulang ke rumah, orang tuamu berkata, “Mengapa hanya mendapat nilai 9? Mengapa
tidak berhasil mendapat nilai 10?” Mungkin ini hal yang sangat kecil dan konyol
bagi kita sekarang, tetapi bagi yang mengalaminya 10-15 tahun sepanjang hidup,
bukankah akan menjadi bagian yang tidak terlupakan? Masa kanak-kanak kita akan
sangat membentuk bagaimana kita sekarang. Ketakutan-ketakutan saat ini,
seringkali adalah ketakutan-ketakutan masa lalu yang tak terselesaikan. Kita
menganggap semua hal itu biasa saja dan dengan melupakannya maka semuanya akan
beres. Tidak seperti itu, teman.. semuanya harus dibereskan satu per satu.
Mungkin kamu juga pernah berkali-kali dikecewakan oleh orang yang paling kamu percayai. Bayangkan saja. Jika di SD, kamu punya seorang sahabat karib, kemana-mana bersama, melakukan segala sesuatu bersama, tapi suatu ketika ia mengecewakanmu. Misalnya saja dengan tidak mau sekelompok bernyanyi denganmu karena suaramu agak jelek.. hehee. Di SMP, kamu juga punya seorang sahabat yang sangat dekat. Kamu menceritakan semua rahasiamu yang tidak diketahui orang lain. Esok harinya ternyata 1 sekolah telah tahu apa rahasia besarmu. Di SMA, kamu juga punya seorang sahabat karib. Ehm.. seseorang yang kamu suka malah menyukainya dan memintamu menjadi mak comblang.. hikxx. Di kuliah, kamu punya orang yang paling kamu percaya. Kamu sangat mempercayainya sehingga menceritakan semua rahasiamu dan orang yang kamu suka. Tapi, tak disangka-sangka ia malah mendekati orang yang kamu suka dan jadian dengan orang itu... huekz...
Seringkali di dalam hidup ini, banyak sekali kekecewaan yang datang
menghampiri kita. Kita tidak mampu melawannya, kita hanya kecewa dan kemudian
melupakannya. Berharap waktu yang akan membuat kita mampu ‘sembuh’ dari segala
kekecewaan itu.
Tapi, apakah melupakan adalah cara yang
benar??? Apakah waktu yang panjang akan membuat kita sembuh???
Dalam pengalamanku, melupakan bukanlah cara yang tepat. Waktu yang panjang juga tidak akan menyembuhkan luka yang sudah ada di batin kita. Luka yang tergores berkali-kali sejak kita kecil hingga sekarang, tidak akan sembuh hanya karena waktu.
Hmmm... Pernah melihat bawang merah?? Berapa kali kamu mengupasnya
sehingga sampai di bagian yang paling dalam?? Begitu pula dengan hidup kita.
Seringkali kita membungkus semua luka yang ada dengan lapisan-lapisan yang kita
bangun dari luar diri kita. Kita bungkus dengan keceriaan, senyuman,
mengalihkan pikiran dengan menjadi sibuk dengan pekerjaan yang ada dan lain
sebagainya.Taukah kamu bahwa SEBENARNYA
Kita tidak
berani membuka ke dalam karena semua yang terjadi itu terlalu menyakitkan untuk
dirasakan kembali saat ini. Yang ada di dalam benak kita, “semua akan baik-baik
saja”, atau “aku sudah biasa mengalami hal seperti ini, jadi bukan merupakan
masalah yang besar bagiku”, atau “dengan melupakan semua yang terjadi, maka
akan baik-baik saja”...
Itulah kebohongan besar yang kita lakukan sebagai manusia.
Kita berbohong
bahwa kita tidak pernah disakiti.
Kita berbohong
bahwa kita tidak pernah ditolak oleh seseorang.
Kita berbohong
bahwa kita tidak pernah merasakan sakit yang mendalam karena kenyataan yang ada di
depan kita seringkali sangat berbeda dengan harapan kita.
LALU, BAGAIMANA KITA MENYELESAIKAN SEMUA KONDISI
DIRI YANG DEMIKIAN??
Pernahkah kamu mendengar kata “rekonsiliasi”?
Menurut KBBI,
rekonsiliasi adalah perbuatan untuk memulihkan hubungan.
Hal ini berarti suatu langkah atau tindakan yang diambil untuk memulihkan suatu kondisi.
Menurut 2 Kor
5: 19a Sebab Allah mendamaikan dunia
dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka.
2 Cor 5: 19a
that is, in Christ God was reconciling the world to himself, not counting
their trespasses against them. ESV
Berdasarkan
pengertian firman Tuhan, rekonsiliasi berarti berdamai, atau tindakan yang
dilakukan untuk berdamai. Allah mendamaikan dunia yang bermusuhan denganNya melalui
pengorbanan Kristus di atas kayu salib. Kita telah didamaikan dengan Allah oleh
pengorbanan Kristus di atas kayu salib.
Tapi, kita membutuhkan rekonsiliasi dengan diri
sendiri dan masa lalu kita.
Kondisi yang
kita alami: “Takut dinilai”, “takut ditolak”, “takut kecewa”
Tindakan yang
kita ambil untuk dapat memulihkan kondisi tersebut:
1.
Mengenali kondisi di masa lalu yang membuat kita
mengalami hal-hal itu.
2.
Berdamai dengan kondisi masa lalu tersebut.
Bagaimana caranya berdamai dengan masa lalu?
Dengan mengambil keberanian yang besar untuk
berhadapan dengan masa lalu itu. Kita dapat menuliskannya ataupun mengingat
masa-masa ketika kita ditolak, dikecewakan, disakiti, dinilai buruk oleh orang
lain, ditinggalkan, dan lain sebagainya.
Hal ini mungkin sangat menyakitkan, tetapi hanya
dengan berhadapan langsung dengan semua kondisi itulah kita dapat mengalami
pemulihan.
3. Membawanya di dalam doa secara jujur dan belajar
menerima semua kondisi itu.
Kita bisa mengatakan:
Tuhan.. saya pernah kecewa akan hal ini .....
Tuhan.. saya pernah merasakan sakit yang sangat
mendalam ketika...
Tuhan.. saya pernah disakiti oleh ayah saya..
Tuhan.. ibu saya meninggalkan saya ketika....
Sekarang.. saya menerima semua kondisi itu sebagai
bagian dari hidup saya....
Saya menerima semuanya sebagai bentukan Tuhan dan
proses dari Tuhan..
4.
Meminta Tuhan memulihkan dengan cara Tuhan.
Cara Tuhan seringkali sangat unik dan tidak pernah
kita ketahui. Ada waktu yang harus dilalui untuk memulihkan semua itu.. tapi, percayalah cara Tuhan sangat sanggup untuk mengubahkan.
Saya dipulihkan dari rasa takut ditolak dengan
berhadapan dengan 200 orang ibu rumah tangga ketika mengerjakan skripsi. Mau
tidak mau, Tuhan menyuruh saya berhadapan dengan orang-orang baru dan belajar
berkomunikasi dengan mereka (termasuk juga dalam mengerjakan data skripsi
tersebut). Setelah itu, saya tidak takut ditolak lagi.. ajaib bukan??
Saya dipulihkan dari takut kecewa saya dengan
menghadirkan seseorang yang sangat saya sayangi (uuwwweek :P).. tapi, Tuhan
mengambilnya dan meminta saya untuk merelakannya. Dengan cara Tuhan yang unik
itu, saya dipulihkan dari rasa takut kecewa.
Teman, ada banyak kondisi di
dunia ini, yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan..
Kita tidak bisa memilih
dilahirkan di dalam keluarga seperti apa..
Kita tidak bisa memilih
diperlakukan dengan cara seperti apa oleh orang tua kita..
Kita tidak bisa memilih karena
semua diluar kontrol kita..
Tapi,
Kita bisa memilih untuk BERDAMAI
dengan semua kondisi itu.
Kita bisa memilih untuk TIDAK
MELUPAKAN, tapi menerimanya dengan lapang dada..
Kita bisa memilih untuk menjadi
BERANI MENGHADAPI KENYATAAN HIDUP..
Kamu akan menemukan bahwa, di
dalam perjalanan hidup bersama dengan Kristus, ada banyak bagian yang bagi kita
sangat tidak mungkin untuk diubahkan, tetapi Kristus sanggup untuk mengubahkan
semua itu..
kita diajariNya berhadapan dengan kondisi-kondisi yang tidak mungkin, supaya kita tahu bahwa BAGI-NYA semua hal mungkin!!
17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia
adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah
datang.
18 Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan
perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah
mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.
19 Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya
oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah
mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.
20 Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus,
seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus
kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.
21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya
menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
PILIHAN TERBAIK BUKAN
MELUPAKAN.. TETAPI BELAJAR UNTUK DENGAN RELA HATI MENERIMA SEMUANYA..

.jpg)

0 komentar:
Post a Comment