Friday, August 28, 2015

28 Agustus 2015

Firman Tuhan itu petunjuk arah yang tepat.
Jangan meninggalkan arahan firman dan hanya melihatnya sekali-sekali saja.
Sepanjang perjalananmu, genggamlah  firmanNya dan nikmatilah arahanNya..

Yah, aku tau aku akan sering melupakanMu. Dan di titik itulah aku mulai tersesat.
Tapi terimakasih, karena masih mengiringku kembali di jalan yang benar.
Aku bersyukur karena langkah hidupku Kau naungi dengan arahan firmanMu.

Terimakasih untuk semuanya...

Thursday, August 20, 2015

Kasih Karunia

20 Agustus 2015

Sudah beberapa waktu ini membaca berbagai tulisan tentang kasih karunia.
Aku bersyukur karena Tuhan mengajarilu begitu banyak hal baru tentang 2 kata itu.

Kasih karunia sederhananya berarti sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma.
Pemberinya menghabiskan banyak hal untuk dapat memberikannya.
Sementara seorang penerima tidak perlu mengusahakannya untuk mendapatkannya.
Maka itulah hal tersebut dinamakan kasih karunia.

Banyak orang Kristen yang mengumandangkan tentang kasih karunia.
Tapi sungguh hidupnya dikelilingi dengan tuntutan, disiplin ketat, usaha dan perbuatan.
Kita memerlukan begitu banyak doktrin tentang kasih karunia Allah. Tidak hanya tentang pelayanan, bagaimana totalitas bagi Allah, mati-matian dan bayar harga bagiNya.
Pada akhirnya mungkin kita akan tiba pada peletakkan harga diri di dalam berbagai hal yang kita lakukan, tidak lagi pada apa yang Allah berikan.

Sesungguhnya, tak ada sesuatu pun di dalam diri kita, entah talenta, bakat, kemampuan diri, pertumbuhan rohani, dlsb yang membuat kita menjadi layak untuk mendapatkan kasih karunia itu.

Kita harus menyadari benar Siapa diriNya dan siapa kita di hadapanNya.
Tak ada satu apapun di dalam diri kita yang dapat dibanggakan, diutamakan sehingga menganggap diri layak di hadapanNya.

Pukulan bertubi-tubi yang kuhadapi ini membuatku belajar sesuatu:
Aku hanya seonggok daging tak berguna yang tidak punya apapun. Yang murni bergantung pada anugerah.
Yang bertindak di dalam keyakinan diri sendiri, namun akhirnya dihancurkan oleh Allah.
Ohh.. menyakini diri sendiri sudah merupakan hal yang asing bagiku.
Mempercayai Allah adalah hal paling berharga saat ini...

Siapakah aku?
Bangunan debu yang bergantung pada kasih karunia, hari demi hari.

Hai...

Namaku Intha.
Aku lahir di sebuah pulau, ujung selatan Indonesia.
Namaku kedengarannya aneh. Tidak menjadi cinta, atau intan. Tapi hanya "Intha".
Tak tahu aku kenapa diberi nama demikian.

Aku mencintai kota karang tempatku dibesarkan.
Aku pernah berharap suatu hari kembali ke sana dan membangun keajaiban baru di sudut-sudutnya yang garang.

Tapi hidup dan takdir biasanya berbicara lain dari apa yang kita harapkan.
Aku menenggelamkan diri saat ini di kota pahlawan.
Mencintai bising dan panasnya lebih dari apapun.
1/4 hidupku sudah kuhabiskan di sini, dan sesungguhnya hidupku yang sebenarnya bermulai di sini.

Jejak-jejak perjuangan hidup ku mulai di sini,
Langkah-langkah untuk menari dan tertawa sedang aku goreskan di tempat elok ini.

Aku masih membuntuti malam dan menangisi senja yang kadang membawa kesedihan.
Tapi aku tahu suatu hari nanti ada akhir yang membawa pada kebahaagiaan.

Aku mencintai berpikir dan biasa mengelana dalam pikiran.
Pikiran-pikiran yang benar akan membawamu pada keutuhan kebenaran
Tapi pikiran-pikiran yang salah hanya akan membawamu pada hidup yang berujung pahit.

Aku mencintai menulis.
Tapi tak pernah mampu kuterbitkan.. karena tulisan terkadang menjadi kejujuran pribadi sang penulis.
Tapi juga bisa menjadi kebohongan terbesar seperti sebuah pencitraan.

Aku mencintai orang-orang terluka.
Karena aku pernah terluka namun sangat dicintai.

Aku memupuk kehidupan di dalam makna dan arti.
Aku tahu kehidupan ini suatu hari akan berhenti.
Tapi, berharap, menanti, terluka dan memulai lagi akan selalu menjadi siklus yang tidak pernah terhenti.

Aku terkadang berharap mati dan pergi dari dunia.
Untuk sebuah kebahagiaan tiada akhir yang menantiku di sana.
Tapi, ternyata tugasku belum tuntas dan masih begitu banyak yang harus diusahakan.
Masih perlu perjuangan, pengorbanan, pengesampingan diri di dalam ukiran-ukiran sejarah pribadi.

Sampai suatu hari nanti, dipanggil oleh Pemilik diri, Pemilik hidup, Pemilik Hati.

Friday, July 31, 2015

Remukkanku tuk memandangMu

Oleh: Ruth Lidya Panggabean
WarungSateKamu

Kalau kaki yang patah adalah tindakan kasih-Mu
untuk menghentikan lariku yang semakin jauh dari panggilan,

Kalau hati yang hancur adalah satu-satunya cara
untuk membuatku berbalik kepada-Mu dan berlutut meratapi segala pelanggaran,

Kalau impian yang runtuh dimaksudkan
supaya aku menyerahkan segenap detail hidup dan rancangan masa depan,

Kalau segala sesuatu yang hilang bertujuan
untuk melepaskanku dari hal-hal yang membuat Tuhan berada di prioritas kesekian,

Kalau aku sendiri tak mampu mematikan ke-aku-anku
sehingga Engkaulah yang berinisiatif mematikannya,

maka lakukanlah ya, Tuhan,
meski itu berarti aku akan diremukkan hingga ke titik yang paling rendah.

Lakukanlah itu,
untuk menundukkan kepalaku,
menyingkapkan kelemahanku,
dan membuatku mengingat betapa miskin aku di hadapan-Mu.

Lakukanlah itu, supaya dari titik terendahku,
aku menemukan kedalaman anugerah-Mu,
dan beroleh kekuatan pula
untuk memandang ke atas, kepada wajah-Mu

Engkau tahu ya Tuhan, jalan sempit itu sangat layak ditempuh,
walau dengan merangkak atau tertatih,
karena penyertaan-Mu telah tersedia di sepanjang perjalanan,
dan ujungnya pasti membawaku sampai ke garis akhir pertandingan

Engkau tahu ya Tuhan, tungku perapian itu bukan akhir dari segalanya,
walau akan membakar semua yang terlihat berharga,
karena melaluinya hatiku akan dimurnikan seperti emas
dan beroleh puji-pujian dari Sang Raja kekal.

Engkau tahu ya Tuhan, cawan pahit itu harus direguk sampai habis,
walau begitu mencekat dan membuat lidahku kelu,
karena derita dan airmata sesaat ini takkan sebanding sama sekali
dengan kemuliaan yang akan dinyatakan oleh Bapa nanti

Oh, atas kasih karunia Sang Juruselamat
yang sudah lebih dulu menunjukan apa artinya menjadi taat,
jatuhkanlah juga biji gandum-Mu ini ke dalam tanah
dan izinkanlah ia mati,

supaya kemudian ia menerima hidup itu kembali:
hidup yang baru, yang kekal, yang menang, dan bahkan berbuah;

hidup yang menjadikan Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Raja,
tanpa menyisakan secuilpun ke-aku-an di dalamnya.

*Ditulis dalam masa-masa brokennes yang sedang dialami penulis, terinspirasi dari doa seorang temannya, “break me down to look You up, God!”

Monday, July 27, 2015

Bersama malam

Bersama malam aku merenung, meninggalkan sepenggal harapan di sudut hati.
Dengungan jangkrik yang tak kunjung berhenti menorehkan sepi yang semakin lama semakin membuntuti

Aku, di dalam hening dan sepi berkelana denganMu
Aku, menari bersuka di dalam kesenangan kebebasan

Aku, bebas dari rasa dan jutaan rayuan yang membelenggu
Aku, merdeka dari pilu dan duka yang belum sempat kutangisi
Aku, mengerti
Aku, memahami
Aku, dikasihi
Aku, dicintai

Oleh Dia, kekasih orang-orang berdosa

Aku, ya... Aku..

Perempuan kecil, yang tak kunjung melihat secercah kedewasaan

27 Juli 2015
23:08
Wijaya 1
Sendiri, Sepi

Sunday, February 15, 2015

Allah sebagai Gembala yang Baik.


Relasi yang begitu berbeda lagi digambarkanNya di dalam hidupku. Ia berperan sebagai gembala dan Ia memintaku berperan sebagai domba.

Khotbah di gereja GKI Kutisari hari ini, memberikan kepadaku gambaran yang sangat baik tentang Allah sebagai gembala. Pendeta menceritakan tentang sebuah pengalamannya dalam perjalanan ziarah rohani ke Israel. Ia melihat begitu banyak domba dan hal itu membuatnya berpikir, “Bagaimana mungkin di daerah yang tandus dan gersang ini hidup begitu banyak domba yang gemuk dan sehat. Bagaimana sang gembala memberikan rumput untuk domba-domba ini, tak ada satupun padang rumput yang terlihat”.

Pertanyaannya yang terlintas itu ia tanyakan pada pemimpin perjalanan tersebut. Pemimpin perjalanan itu menjawab seperti ini,
“Gembala yang baik tahu bagaimana menjaga dan memelihara domba-dombanya. Di tanah yang tandus dan gersang seperti ini, gembala yang baik tetap akan memberikan rumput kepada domba-dombanya. Pertanyaannya bagaimana cara gembala menemukan dan memberikan rumput untuk domba-dombanya? Inilah yang dilakukan sang gembala. Rumput yang hijau di daerah seperti itu biasanya tersembunyi di tebing-tebing yang cukup terjal. Gembala biasanya akan pergi ke tebing-tebing itu, memastikan bahwa tersedia rumput di situ, memastikan tempat yang akan didatangi oleh domba-domba itu juga baik-baik saja. Setelah itu,  ia akan mengarahkan domba-dombanya untuk pergi ke tempat rumput itu berada.”



Seperti itulah Allahku. Ia memainkan perananNya sebagai seorang Gembala yang Baik. Gembala yang Baik berjalan lebih dulu, Ia memastikan bahwa perjalanan di depan adalah perjalanan yang baik-baik saja. Ada kebaikan di depan sana. Ia sudah melihat perjalanan itu lebih dulu. Ada kebaikan di depan. Domba-domba hanya tinggal taat dan kemudian mengikutinya saja.

Yang  langsung terlintas dibenakku waktu itu hanya satu:
“Tuhan, aku tidak mampu melihat yang di depan.. aku sangat takut melihat semuanya.. seakan-akan sangat meragukan.. terlalu tidak pasti..  aku tak mungkin mempertaruhkan segala-galanya untuk sesuatu yang sangat tidak pasti”

Ia menjawabku:
Tapi Aku melihatnya, dan  semuanya akan baik-baik saja. Bukankah itu cukup?
Kau bisa mempercayai Aku..

“Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah”


Thursday, February 12, 2015

PERSAHABATAN DENGAN ALLAH

Ada begitu banyak relasi yang dapat kita temukan dengan Allah. Mulai dari Bapa - anak, Tuan - hamba, Guru - murid, Gembala - domba, dan masih banyak lagi.

Salah satu relasi yang diperkenalkan Allah padaku adalah relasi persahabatan.

"Persahabatan dengan Allah"

Apakah yang kamu pikirkan ketika mendengarkan satu kalimat di atas? Mungkin kamu berpikir tentang tokoh-tokoh alkitab, atau mereka yang pernah hidup di zaman Yesus Kristus, kamu juga mungkin melihat pada Paulus atau 12 orang rasul lainnya..

Inginkan kamu memiliki persahabatan dengan Allah?

Sahabat adalah seseorang yang mengenali kita apa adanya, luar dalam, kebaikan dan kejelekkan kita, tapi dia tetap mau menerima kita apa adanya, mengasihi kita dari kebobrokan hingga kecemerlangan kita.

Di satu sisi, Allah memposisikan diriNya sebagai TUHAN dan aku adalah manusia yang hidupnya dikendalikan oleh otoritasNya.
Di sisi lainnya, Allah memposisikan diriNya sebagai Bapa dan aku adalah anak boleh mengajukan permintaan atas hal-hal yang mustahil padaNya..

Dan pada saat sekarang ini,
Allah memposisikan diriNya sebagai sahabatku, dan betapa aku menyukai bagian ini.....

Mengapa?
Ada begitu banyak cerita hidupku bersama denganNya yang membuatku begitu tercengang.. Aku seakan-akan tidak perlu memintaNya untuk menyatakan kehendakNya. Aku tahu begitu saja. Aku paham benar isi  hatiNya. Seakan-akan kami sudah begitu sehati, sehingga untuk berjalan sesuai keinginanku saja aku tak mampu...

Bagaimana aku dapat meyakini hal ini?  pengalamanku yang paling menarik denganNya adalah ketika berdoa.

Di dalam berdoa, kita akan terbiasa menyampaikan begitu banyak permohonan dan keinginan kita. Dan menunggu jawaban apakah itu sesuai kehendakNya atau tidak. 
Dan kamu tahu, ada sedikit bocoran,begitu banyak pokok doa kita yang seringkali benar-benar berasal dari keinginan kita sendiri, bukan keinginanNya.. betapa seringnya Ia mengoreksi pokok doa yang kunaikkan..

Allah dengan pribadiNya dan keberadaanNya, seringkali membuatku hanya bisa memandang wajahNya. Aku tak mampu menyampaikan keinginan apapun. Aku hanya bisa menimbang, berpikir dan terus berpikir, apakah permohonan yang akan kusampaikan kepadaNya sehingga permohonan itu pasti dijawabNya?

Seakan-akan Ia begitu dekat, aku tak sanggup mengucapkan keinginanku.. lebih sering aku mengucapkan permohonan atas apa yang telah kutangkap dariNya sebagai kehendakNya. Ini pengalaman pribadi yang sangat personal. Tidak semua orang mengalami hal ini.

Kita diajari prinsip dasar yaitu meminta kepada Allah dan kemudian tunggulah jawabanNya, "iya", "tidak", atau "tunggu"..

tapi, aku telah belajar sesuatu yang lain...

mintalah apa yang dikehendakiNya, pasti akan selalu ada jawaban "iya" atau "tunggu", kamu tidak pernah menemukan jawaban "tidak"....

Pertanyaannya, bagaimana mengerti kehendakNya dengan mudah..? berelasilah denganNya, tenggelamlah di dalam kebenaran firmanNya. Setiap waktu datang padaNya. Itu persahabatan yang kekal, yang tak dapat digantikan oleh apapun...

Suatu hari kamu akan benar-benar kaget, karena hidupmu benar-benar ada di dalam kehendakNya, bahkan untuk meminta sesuai keinginanmu kamu tidak berani. Karena kamu sangat mengenaliNya, sangat tahu isi hatiNya, sangat mengerti Sahabatmu itu..
Dan yang terpenting ketika persahabatan denganNya telah terjalin, IA tidak pernah menyembunyikan apapun darimu....Ia selalu memberitahukan maksudNya dengan begitu jelas.

Persahabatan itu adalah sesuatu yang harus dibangun terus-menerus. Aku begitu sering berhenti berdoa, karena aku tidak tahu apa yang harus aku doakan, aku belum paham apa mauNya. 
Daripada sekedar menyampaikan permohonan, lebih baik aku mencari tahu kehendakNya dan kemudian mendoakan sesuai apa yang kutangkap dariNya...

Bersahabatlah denganNya......

Kejadian 18:17 Berpikirlah TUHAN: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?

Tuesday, December 16, 2014

The Jesus I Never Knew

Sedikit berbagi apa yang kubaca..

C.S Lewis menulis tentang rencana Allah:
Segala sesuatu menyempit dan menyempit, sampai akhirnya menjadi satu titik kecil, sekecil ujung tombak- seorang gadis Yahudi dengan doanya.
Hari ini ketika membaca kisah kelahiran Yesus, saya gemetar dan memikirkan bagaimana nasib seluruh dunia tergantung pada respon dua remaja desa.
Berapa puluh kali Maria mengingat-ingat kembali kata-kata malaikat, saat ia merasakan Anak Allah menendang dinding rahimnya?
Berapa puluh kali Yusuf berpikir kembali tentang pertemuannya dengan malaikat - cuma mimpi? - sambil menahan rasa malu yang besar ketika ia tinggal di antara penduduk desa yang bisa melihat dengan jelas perubahan bentuk tubuh tunangannya?

Sembilan bulan yang penuh penjelasan canggung, dengan desas desus skandal yang pasti tidak terhindarkan - tampaknya Allah mengatur keadaan yang paling memalukan untuk kelahiranNya, seakan untuk menghindari tuduhan favoritisme.

Namun, perawan Maria yang kehamilannya tidak direncanakan memilih respons yang berbeda. Ia mendengar seluruh ucapan malaikat itu, memikirkan segala akibatnya dan menjawab, "Aku adalah hamba Allah. Jadilah padaku seperti perkataanmu itu." Seringkali karya Allah datang dengan dua sisi, sukacita besar dan derita besar, dan dalam responsnya yang sederhana.. Maria menerima keduanya. Ia adalah orang pertama yang menerima Yesus apa adanya, tanpa mempedulikan harga yang harus dibayarnya,.

Rendah hati. 
Sebelum Yesus tidak ada penulis lain agama kafir yang menggunakan kata "rendah hati" sebagai pujian.
Allah yang datang ke bumi bukan dalam pusaran angin yang menderu atau api yang menyala-nyala. Tidak terbayangkan bagaimana Pencipta segala sesuatu menyusut, mengecil, sangat kecil sampai menjadi sebuah sel telur, sebuah sel telur yang dibuahi yang hampir tidak terlihat mata telanjang, sebuah sel telur yang membelah diri dan membelah diri sampai menjadi janin yang berbentuk, membesar sel demi sel, di dalam tubuh remaja yang gugup. "Yang Maha Besar mengurung diri di dalam rahimmu", kata penyair John Donne dengan kagum. Ia "mengosongkan diriNya... Ia mengambil rupa seorang hamba," kata rasul Paulus lebih bergaya prosa.


Namun Mesias yang muncul, mengenakan kemuliaan dalam bentuk lain kemuliaan dalam kerendahan. "Allah Maha Besar,' seru umat beragama, sebuah k
Kelahiran: Planet yang didatangiebenaran yang tidak perlu diajarkan oleh makhluk supranatural pada manusia," tulis Bapa Neville Figgis. "Bahwa Allah itu sederhana, itu adalah sebuah kebenaran yang diajarkan Yesus pada manusia. Allah yang menggemuruh, yang bisa memerintahkan pasukan dan kekaisaran seperti menggerakkan pion di papan catur, Allah ini muncul di Palestina sebagai seorang Bayi yang tidak bisa bicara atau menelan makanan padat, atau mengendalikan ginjalnya, yang tergantung pada seorang remaja untuk tempat berteduh, makanan, dan kasih sayang...

Gambaran J.B Philips tentang Natal:
seorang malaikat senior memperlihatkan kemegahan alam semesta pada seorang malaikat muda. Mereka melihat galaksi-galaksi yang berputar dan matahari-matahari yang menyala terang dan kemudian terbang melintasi jarak yang tidak terbatas sampai akhirnya mereka memasuki sebuah galaksi berisi 500 milyar bintang.

Saat mereke berdua semakin dekat ke sebuah bintang yang kita sebut matahari kita dan planet-planet yang mengelilinginya, malaikat senior menunjuk pada bola kecil yang tampaknya tidak penting yang berputar sangat lambat pada porosnya. Kelihatannya sekusam bola tenis kotor bagi malaikat kecil, yang pikirannya dipenuhi dengan ukuran dan kemegahan segala yang baru saja dilihatnya. 
"Aku ingin kau mengamati planet yang satu itu," kata malaikat senior sambil menunjuk dengan jarinya.
"Yah, bagiku kelihatannya sangat kecil dan agak kotor," kata malaikat kecil. "Apa istimewanya planet itu?"

Ia mendengar dengan setengah tidak percaya ketika malaikat senior memberitahu bahwa planet inilah, yang kecil, tidak berarti, dan tidak begitu bersih, yang menjadi Planet yang DIdatangi Yang Mahakuasa.

"Maksudmu Pangeran kita yang besar dan mulia... turun secara pribadi ke bola kecil peringakt lima ini? Mengapa Ia melakukan hal seperti itu? ...
Wajah malaikat kecil itu merengut jijik. "Maksudmu," katanya, "Ia membungkuk begitu rendah sampai menjadi salah satu makhluk yang merayap dan merangkak di bola yang melayang itu?"
"Memang begitu, dan aku kira Ia tidak akan suka kau menyebut mereka 'makhluk yang merayap dan merangkak' dengan nada suara seperti itu. Karena, walaupun bagi kita memang sangat aneh, Ia mengasihi mereka. Ia turun ke sana untuk mengunjungi mereka dan mengangkat mereka agar menjadi seperti Dia. 

Suatu malam di tengah udara dingin dan gelap.. di antara perbukitan Betlehem..... Allah yang tidak mengenal sebelum dan sesudah, memasuki ruang dan waktu. Allah yang tidak mengenal perbatasan, secara mengejutkan masuk ke dalam kulit bayi yang amat terbatas, sang Mahakuasa menyusut menjadi manusia.

"Ia adalah gambar Allah yang tidak ke;ihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan," belakangan seorang rasul menulis; "Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia."  Tapi beberapa saksi mata pada malam Natal itu tidak melihat satupun dari hal-hal itu. Mereka hanya melihat seorang Bayi yang berjuang menggunakan paru-paru yang belum pernah dipakai sebelumnya.

Mungkinkah ini benar, kisah Betlehem tentang sang Pencipta yang turun untuk lahir ke atas sebuah planet kecil? Kalau ya, ini adalah kisah yang tidak ada tandingannya. Tidak akan pernah lagi kita berpikir apa yang terjadi di planet bola tenis kotor ini berpengaruh pada seluruh alam semesta. Tidak mengherankan paduan suara malaikat menyanyikan lagu dengan spontan, bukan hanya mengejutkan bagi beberapa gembala, namun bagi seluruh alam semesta....

KELAHIRAN: PLANET YANG DIDATANGI
SUMBER :
BUKAN YESUS YANG SAYA KENAL (THE JESUS I NEVER KNEW)
PHILIP YANCEY
PROFFESSIONAL BOOKS

Monday, December 8, 2014

DAUD: MENGHADAPI RAKSASA ANDA


Allah menempatkanmu berada bersama raksasa kesulitan, kesedihan, ketakutan, kebingungan setiap hari, untuk  membuktikan bahwa diriNya lebih besar dari semua itu....




DAUD: MENGHADAPI RAKSASA ANDA


Pemuda bertubuh langsing dan tidak berjanggut itu berlutut di alur sungai. Lumpur membasahi kakinya. Air yang berbuih-buih mendinginkan tangannya. Apabila ia melakukan itu, ia dapat melihat sosok tampannya di permukaan air. Rambutnya berwarna tembaga. Warna kulit dan matanya yang kecoklatan pasti dikagumi para gadis Ibrani. Namun ia tidak mencari bayangan wajahnya, melainkan batu. Batu yang licin. Semacam batu yang selalu tersimpan di kantung seorang gembala. Batu licin yang dapat digunakan seperti pelor dengan daya hantam laksana komet jatuh di kepala seekor singat, beruang, atau dalam kasus ini, seorang raksasa.
            Goliat memandang ke bawah dari bukit. Hanya ketidakpercayaan yang membuatnya tertawa. Ia dan gerombolan orang Filistin menembuh setelah luas lembah itu dan mengubahnya menjadi hutan tombak; segerombolan geng kawwasan kumuh yang haus darah berteriak sambil memamerkan senjata, sumpah serapah, dan tato. Goliat dengan tubuh yang sangat mencolok dibandingkan yang lain. Tingginya sembilan kaki sembilan inci, mengenakan baju baja seberat 125 pon, dan tatapannya seperti mata seorang penantang dalam acara World Wresting Federatioan. Ia mengenakan baju ukuran 20, topi ukuran 10,5 dan ikat pinggang 56 inci. Otot lengannya besar, pahanya berotot dan omongannya nyembur jauh menggema di lembah itu. “Aku menantang hari ini barisan orang Israel; berikanlah kepadaku seorang, supaya kami berperang lawan seorang” (1 Sam 17:10). Siapa yang mau berkelahi secara jantan? Berikan perlawanan yang terbaik.
                Tidak ada orang Ibrani yang berani maju. Hingga hari ini. Hingga akhirnya Daud muncul.
                Daud baru saja terlihat hari itu. Ia meninggalkan kawanan ternak yang digembalakannya untuk membawakan roti dan keju bagi saudara-saudaranya di medan laga. Di sanalah Daud mendengar Goliat menghujat Allah. Itulah yang mendorong Daud untuk membuat keputusan. Lalu Daud mengambil tongkat di tangannya, dari dasar sungai dipilihnya limat batu yang licin dan ditaruhnya di dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangan. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu (17:40).
                Goliat memandang rendah anak itu, menghinanya sebagai orang aneh. “Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?” (17:43). Daud yang masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya. Goliat yang brutal dan bertubuh tinggi besar. Tusuk gigi menghadapi tornado. Sepeda mini menyerang truk beroda delapan belas. Anjing pudel berhadapan dengan anjing rottweiler. Bukankah aneh jika Anda mengirimkan Daud untuk menghadapi raksasa?
                Mungkin lebih aneh lagi jika Anda mengirim diri sendiri untuk menghadapi raksasa Anda sendiri.
                Goliat dalam diri Anda tidak membawa pedang atau perisai; senjatanya adalah tidak memiliki pekerjaan, ditinggalkan, dilecehkan secara seksual, atau depresi. Raksasa Anda tidak berbaris dan menuruni Lembah Tarbantin; ia berjingkrak-jingkrak melalui kantor, kamar tidur, dan ruang kelas Anda. Ia membawa tagihan yang tidak dapat Anda senangkan, minuman keras yang tidak dapat Anda tolak, pornografi yang tidak dapat Anda abaikan, karier yang tidak dapat Anda lepaskan, masa lalu yang tidak dapat Anda lupakan, dan masa depan yang tidak dapat Anda hadapi.
                Anda tahu benar gemuruh suara Goliat.
                Daud menghadapi orang yang terus-menerus menyemburkan tantangan. “Orang Filistin itu maju mendekat pada pagi hari dan pada petang hari. Demikianlah ia tampil ke depan empat puluh hari lamanya” (17:16). Raksasa Anda juga melakukan hal yang sama. Pertama dipikirkan di pagi hari, terakhir dikhawatirkan pada malam hari – Goliat Anda mendominasi hari Anda dan merusak kebahagiaan Anda.
                Sudah berapa lama ia mengejar Anda? Keluarga Goliat adalah musuh lama bangsa Israel. Yosua telah mengusir mereka dari Tanah Perjanjian tiga ratus tahun sebelumnya. Ia menghancurkan mereka semua, kecuali penduduk tiga kota: Gaza, Gat, dan Asdod. Gat menghasilkan para raksasa. Coba tebak di mana Goliat dibesarkan. Lihat huruf “G” di jaketnya? Sekolah Menengah Atas Gat. Bagi orang Ibrani, leluhur Goliat sama artinya dengan bajak lau bagi angkatan laut Inggris zaman dulu.
                Para prajurit Saul melihat Goliat dan mengeluh. “Jangan lagi, ah. Ayahku sudah memerangi ayahnya. Kakekku sudah memerangi kakeknya.
                Anda pun akan melontarkan keluhan yang sama, “Saya sudah menjadi orang yang gila kerja, sama seperti ayah saya.” “Perceraian sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami.” “Mamaku tidak bisa memiliki sahabat. Kapan semua ini bisa berakhir?”
                Goliat. Berandalan yang menjadi jawara di lembah itu. Lebih alot daripada daging murahan. Lebih galak daripada anjing penjaga kembar. Ia menunggu Anda pada pagi hari, menyiksa Anda pada malam hari. Ia mengincar leluhurAnda dan kini mengganggu Anda. Ia menutupi sinar mentari dan membuat Anda beridri pada bayangan keraguan. “Ketika Saul dan segenap orang Israel mendengar perkataan orang Filistin itu, maka cemaslah hati mereka dan sangat ketakutan” (17:11).
                Apa yang telah saya katakan kepada Anda? Anda tahu Goliat. Anda mengenal caranya berjalan dan berbicara. Anda telah melihat Godzilla Anda. Masalahnya, apakah ia yang benar-benar Anda lihat? Anda mengenal suaranya – namun benarkah itu yang Anda dengar? Daud meliht dan mendengar lebih banyak. Bacalah kata-kata pertama yang dikatakannya, bukan hanya dalam pertempuran, namun juga di dalam Alkitab, “Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: ‘Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup? (17:26)
                Daud muncul sambil membicarakan tentang Allah. Para prajurit tidak berkata apa-apa tentang Dia, kakak-kakaknya tidak pernah membicarakan nama-Nya. Namun Daud mengambil satu langkah memasuki arena dan melontarkan tentang Allah yang hidup. Ia melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Raja Saul. Tidak ada diskusi tentang pertempuran atau peluang. Hanya perkataan yang diinspirasikan oleh Allah: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu (17:37).
                Ia melanjutkan topik pembicaraan itu dengan Goliat. Ketika sang raksasa menghina Daud, anak gembala itu menjawab:
"Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.   Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami." (17:45-47)

Tidak seorang pun yang membicarakan Allah. Daud tidak membicarakan siapapun yang lain selain Allah.
Judul tambahan muncul dalam kisah ini. Lebih dari sekadar “Perkelahian Daud dengan Goliat,” yakni “Fokus kepada Allah melawan fokus kepada raksasa.”
Daud melihat apa yang tidak dilihat orang lain, dan menolak apa yang dilihat orang lain. Semua mata, kecuali mata Daud, terarah pada makhluk brutal dan kasar tersebut. Semua kompas, kecuali milik Daud, diarahkan ke kutub orang Filistin. Semua jurnal, kecuali Daud, menggambarkan hari demi hari di tanah makhluk purba itu. Orang tahu ejekannya, tuntutannya, ukurannya, dan cara berjalannya yang angkuh. Mereka berkonsentrasi pada Goliat.
Daud berkonsentrasi pada Allah. Ia memang melihat raksasa itu, namun lebih memerhatikan Allah. Coba baca dengan hati-hai pekikan perang Daud: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu” (17:45).
Perhatikan kata jamak segala  barisan Israel. Segala barisan? Para pengamat umum hanya melihat satu barisan Israel. Tidak demikian dengan Daud. Ia melihat sekutu pada Hari-H: peleton-peleton malaikat, dan infanteri orang-orang kudus, senjata angin, dan kekuatan bumi. Allah dapat menghantam musuh dengan luapan air seperti yang dilakukanNya bagi Musa, meruntuhkan tembok seperti yang dilakukanNya bagi Yosua, menciptakan guntur sebagaimanayang dilakukanNya bagi Samuel.
Daud melihat barisan Allah. Karena itu ia berlari ke barisan musuh yang menghadapi orang Filistin (17:48).
Kakak-kakak Daud menutupi mata karena takut sekaligus mali. Saul menghela napas panjang sementara pemuda Ibrani itu berlari menuju kematian. Goliat memalingkan wajahnya sambil tertawa terbahak-bahak sehingga membukakan sedikit ketopangnya dan memperlihatkan sedikiti bagian dahinya. Daud melihat sasaran itu dan  mengambil kesempatan. Suara desingan katapel merupakan satu-satunya suara di lembah itu. Sshhhwww. Sshhhww. Batu itu terlepas laksana torpedo yang melayang di udara dan menghujam tengkoraknya. Mata Goliat mendelik kaget. Ia jatuh menghujam ke tanah dan mati. Daud berlari mendapatkannya, mengambil pedang Goliat dari sarungnya, dan memenggal kepalanya.
Anda mungkin mengatakan bahwa Daud tahu bagaimana rasanya mendapatkan kepala raksasanya.
Kapan Anda terakhir kali melakukan hal yang sama? Sudah berapa lama Anda melarikan diri dari tantangan yang Anda hadapi? Kita cenderung menarik diri, bersembunyi di belakang tumpukan pekerjaan dan merayap ke pengalihan perhatian di klub malam ataupun ke atas tempat tidur dari cinta yang terlarang. Untuk beberapa waktu, hari, atau tahun, kita merasa aman, terisolasi, terbiuskan. Namun kemudian pekerjaan menghilang, minuman keras habis, atau kekasih pergi. Kita pun mendegar Goliat kembali. Meningkat. Bombastis.
Cobalah cara lain. Kejar raksasa Anda dengan jiwa yang dipenuhi oleh Allah. Raksasa perceraian, kamu tidak boleh masuk ke dalam rumah tanggaku! Raksasa depresi? Mungkin memerlukan waktu seumur hidup, namun kau tidak akan pernah dapat menaklukan saya. Raksasa minuman keras, pikiran sempit, kekerasan terhadap anak, ketidakamanan.. kalian harus hilang. Kapan terakhir kali Anda memasukkan batu ke pengumpan Anda dan melemparkannya ke arah raksasa Anda?
Sudah lama sekali? Kalau begitu, Daud merupakan panutan Anda. Allah menyebutnya berlari sebagai “seorang yang berkenan di hatiKu” (Kis 13:22). Dia tidak menyatakan hal itu kepada orang lain. Tidak Abraham, Musa ataupun Yusuf. Dia menyebut Paulus rasul, Yohanes orang yang dikasihiNya, namun keduanya tidak dianggap sebagai orang yagn berkenan di hari Allah.
Orang mungkin membaca kisah Daud dan bertanya-tanya apa yang dilihat Allah dari dirinya. Kejatuhan Daud ke dalam dosa terjadi sama seringnya dengan kekokohan imannya. Ia tersandung sama seringnya dengan penaklukannya. Memandang rendah Goliat, namun mengerling ke arah Batsyeba. Membenci penghujat Allah di lembah, namun bergabung dengan mereka di belantara gurun. Seorang polisi pada suatu saat. Berteman dengan mafia pada hari berikutnya. Ia dapat memimpin tentara namun tidak bisa mengatur keluarga. Daud yang cepat naik darah. Daud yang meratap. Haus darah. Haus akan Allah. Memiliki delapan istri. Mempunyai satu Allah saja.
Orang yang berkenan di hati Allah? Allah melihat ia yang seperti itu, memberikan harapan yang sama kepada kita semua. Kehidupan Daud bukanlah kehidupan orang suci, yang tidak ternoda. Orang yang merasa hidup suci pasti merasa betapa mengecewakannya kisah Daud. Yang lain melihat kisah itu sebagai penguatan. Kita menaiki roller coaster yang sama. Kita dihadapkan pada pilihan antara berkelok-kelok dan mengguncang perut, makanan pelengkap dan roti bakar.
Pada saat baik-baik, tidak ada orang yang dapat menyaingi Daud. Pada saat buruk, apakah ada yang mengalami lebih buruk lagi? Inti dari kasih Allah adalah menyimak.
Kita membutuhkan kisah Daud. Para raksasa berkeliaran di sekitar kita. Penolakan. Kegagalan. Pembalasan. Penyesalan yang  mendalam. Pergumulan kita terlihat seperti perjalanan seorang pencari hadiah. Para raksasa. Kita harus menghadapi mereka. Namun kita tidak perlu menghadapinya sendiri. Pertama-tama fokus, terutama kepada Allah. Pada saat Daud melakukan itu, raksasa pun kalah. Pada saat si raksasa tidak melakukan hal itu, Daud melakukannya dan  menang.
Ujilah teori ini dengan Alkitab terbuka. Bacalah 1 Samuel 17 dan buatlah daftar pengamatan tentang apa saja yang dilakukan Daud sehubungan dengan Goliat.
Saya hanya menemukan dua hal. Satu pernyataan bagi Saul mengenai Goliat (ayat 36). Satunya lagi dinyatakan di hadapan Goliat: “Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?” (ayat 26).
Itu saja. Dua komentar yang berhubungan dengan Goliat (dan salah satunya sangat keras) dna tidak ada pertanyaan. Tidak ada penyelidikan soal kemampuan, usia, status sosial, atau IQ Goliat. Daud tidak menanyakan apa-apa; tentang berat tombak, ukuran perisai, atau arti tato tengkorak dengan tulang bersilangan di lengan sang raksasa. Daud juga tidak memusingkan keadaan lembah itu.
Akan tetapi, ia banyak memikirkan Allah. Bacalah lagi kata-kata Daud, kali ini dengan menggarisbawahi acuannya mengenai Allah.
“Barisan dari pada Allah yang hidup” (ayat 26).
“Barisan dari pada Allah yang hidup” (ayat 36).
“TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel” (ayat 45).
“TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku... supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah” (ayat 46).
“TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan TUHANlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami (ayat 47).
Aku mendapati ada sembilan bahan acuan. Pikiran mengenai Allah mengalahkan pikiran mengenai Goliat dengan perbandingan 9:2. Bagaimana rasio ini dibandingkan dengan rasio Anda? Apakah Anda merenungkan anugerah Allah empat kali lebih besar daripada merenungkan kesalahan Anda? Apakah daftar berkat Anda empat kali lebih banyak daripada daftar keluhan Anda? Apakah arsip pengharapan Anda empat kali lebih tebal daripada arsip ketakutan Anda? Apakah Anda empat kali lebih sering membicarakan kuasa Allah daripada tuntutan sehari-hari Anda?
Tidak? Kalau begitu Daud adalah panutan bagi Anda.
Beberapa keajaiban yang terkenal tidak muncul dalam kisah itu. Tidak ada Laut Merah yang terbelah, kereta kuda yang menyala-nyala, atau bangkitnya Lazarus dari kematian. Tidak ada keajaiban.
Namun ada satu keajaiban. Keajaiban Daud. Keajaiban seorang sederhanya yang berjalan dalam terang kebenaran Allah.
Berfokus kepada para raksasa – Anda tersandung.
Berfokus kepada Allah – raksasa Anda dikalahkan.
Angkatlah wajah Anda, hai para pembunuh raksasa. Allah membuat keajaiban bagi Daud juga akan membuatnya bagi Anda.


Sumber:
AKTOR-AKTOR ALLAH: Kisah Orang Biasa di Tangan Allah yang Luar Biasa.
Max Lucado
PT. BPK Gunung Mulia.


                

Friday, December 5, 2014

Keindahan Heningku

Inilah aku..
Menari dan berjejak kaki dalam heningku..
Siapa bilang hening itu menakutkan..
Hening itu keindahan


Berteman sepi itu menyejukkan..

Berlalu dalam sunyi itu menggembirakan...
Inilah aku..
Yang ditemani rindu dan asa yang tak terkira..

Mimpiku sudah kutenggelamkan..
Berteman waktu dan berharap kata..
Hingga suatu hari.. 
Ketika aku tersembuhkan oleh hening, sepi, dan kesendirian... 

Saturday, October 18, 2014

PA Surat

Roma 4:1-25
Contoh Sentence Flow

1 ¶  (A)Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham,
bapa leluhur jasmani kita?  
2                      (a) Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah.  
3                      (b) Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan,
(c)dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran."
Keteladanan Abraham: iman diperhitungkan Tuhan sebagai kebenaran
-         Bapa leluhur secara jasmani
-         Tidak dibenarkan berdasarkan perbuatannya
-         Percaya kepada Allah
-         Allah memperhitungkan kepercayaannya sebagai kebenaran.
 
4                      (a) Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya.  
5                      (b)Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka,
(c) imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.  

Usaha vs Hadiah: Iman diperhitungkan sebagai kebenaran

6                                  (c’)Seperti juga Daud
(1)menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:  
7                                              (2)Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya;  
8                                              (3)berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya." 

Mazmur Daud: Iman diperhitungkan sebagai kebenaran

9 ¶  (B) (1) Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku
(a)bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat?
(b) Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran.  
10        (1) Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan?
(a)Sebelum atau sesudah ia disunat?
(b)Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya.  
11                                (b’)Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat.

Sebelum disunat: Iman diperhitungkan sebagai kebenaran.

(2)Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya
yang tak bersunat, supaya kebenaran diperhitungkan kepada mereka,  
12                    dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat,
yaitu mereka yang bukan hanya bersunat,
tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham,
bapa leluhur kita,
pada masa ia belum disunat. 

Pembenaran kepada semua orang percaya karena iman yang diperhitungkan sebagai kebenaran.

Tema besar
1-12 Iman diperhitungkan Allah sebagai kebenaran.


13  (a)Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia,
(b)tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman.  
14  (a)Sebab jika mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Allah,
(b)maka sia-sialah iman dan batallah janji itu.  
15  (a)Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.  
16        (b)Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham,
     (a)bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat,
(b) tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham.
Sebab Abraham adalah bapa kita semua,  —         

Iman Abraham: Bukan karena hukum Taurat namun karena Janji Allah

17 ¶ (a)seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa"  — 
di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya,
yaitu Allah yang menghidupkan orang mati
dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.  
18                    (b)Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya,
(a)bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."  
19                    (b)Imannya tidak menjadi lemah,
walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah,
karena usianya telah kira-kira seratus tahun,
dan bahwa rahim Sara telah tertutup.  
20        (a) Tetapi terhadap janji Allah
(b) ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah,  21  dengan penuh keyakinan,
(a)bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.  
22                    (b)Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.  
Iman Abraham: Bukan karena kondisi fisik yang lemah namun karena janji Allah

23 ¶  (a) Kata-kata ini, yaitu "hal ini diperhitungkan kepadanya," tidak ditulis untuk Abraham saja,  
24                    (b)tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya,
            karena kita percaya kepada Dia,
yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati,  
25                                            yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.  

Iman kita: kepada Kristus, berdasarkan janji Allah.

Tema besar:
13-25 Janji Allah direalisasikan berdasarkan iman.





Roma 4:13-25

13  (a)Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia,
(b)tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman.  
14  (a)Sebab jika mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Allah,
(b)maka sia-sialah iman dan batallah janji itu.  
15  (a)Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.  
16        (b)Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia,
      (a) sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat,
(b) tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham.
Sebab Abraham adalah bapa kita semua,  —         

Iman Abraham: Bukan karena hukum Taurat namun karena Janji Allah


13  For the promise to Abraham and his offspring that he would be heir of the world did not come through the law but through the righteousness of faith.    – karena janji kepada Abraham dan keturunannya bahwa ia akan memiliki dunia tidak datang melalui hukum taurat, tetapi melalui pembenaran karena iman.
è Dalam hal ini, titik penekanannya bukan apa arti hukum taurat di sini, tetapi berdasarkan pada janji yang Allah berikan. Lihat konteks Roma secara keseluruhan, bahwa keselamatan diberikan dari Allah melalui iman (bukan karena melakukan hukum Taurat). Dalam konteks abraham ini,  Paulus seperti ingin memberikan contoh kepada jemaat orang Yahudi saat itu bahwa jika mereka mengatakan  bahwa kelebihan mereka ada di dalam hukum Taurat, mereka salah! Dan jika kelebihan mereka ada di dalam keturunan Abraham, mereka juga salah! Mengapa? Karena yang terlihat dari Abraham adalah imannya.
Terhadap janji Allah, respon yang dikehendakiNya: Iman.
Iman berarti tidak meragukan sedikitpun janji yang Allah berikan dan tidak membantu Allah merealisasikan janjiNya.
Namun , Iman di dalam konteks mengerjakan keselamatan, harus terbukti di dalam hidup pribadi kita. Iman kita hanya terlihat dari perbuatan (konteks keselamatan).

janji Allah kepada Abraham tersebut tidak hanya berkaitan dengan janji terhadap tanah kanaan. Tetapi janji untuk kepemilikan dunia.
Dan janji itu juga bukan hanya janji berkaitan dengan dunia saat ini. tetapi juga dunia yang akan datang.
Bdk Ibr 11:10-16; why 21-22

è Trough the righteousness of faith 
karena kebenaran berdasarkan iman.

Janji yang diberikan oleh Allah adalah janji akan kekekalan. Bukan hanya berkaitan dengan dunia saat itu (tanah perjanjian), tetapi juga dunia yang akan datang.

14  For if it is the adherents of the law who are to be the heirs, faith is null and the promise is void.  
è Jika mereka yang mengharapkan mendapatkan melalui hukum taurat juga mendapatkannya, maka iman itu tidak berguna (sia-sia) dan janji itu menjadi tidak berlaku lagi.
Standar yang diberikan Allah setara / sama à berdasarkan janji dan diterima melalui IMAN.
Jika standar itu sama, maka tidak akan ada cara lain untuk menerima janji Allah itu, selain melalui iman.
Hukum taurat à law/ menitik beratkan bukan pada hukumnya, melainkan pada usaha manusia untuk memperoleh berdasarkan ketaatan kepada hukum.
Jika warisan yang dijanjikan Allah diperoleh berdasarkan menjalankan hukum Taurat, maka pembenaran tidak lagi berdasarkan iman, tetapi berdasarkan usaha.
If the heritance is gained by observing the law, then rightousness is no longer by faith but by works.
Faith and works are fundamentally opposed (iman dan usaha pasti bertentangan secara fundamental), for faith means trusting in or relying on a promise of God’s work and not depending in any way on human performance.
Ketika Allah berjanji, maka pasti Allah akan menepatinya.
Bagaimanapun tindakan umat manusia di hadapan kita.
Mengapa? Karena kita menerima janji dari Allah sendiri.

15  For the law brings wrath, but where there is no law there is no transgression.  
Hukum Taurat mendatangkan murka à ketika tidak menaatinya, maka mendapat murka dari Allah.

16  That is why it depends on faith, in order that the promise may rest on grace and be guaranteed to all his offspring—not only to the adherent of the law but also to the one who shares the faith of Abraham, who is the father of us all, 

Hukum taurat pada dasarnya akan mendatangkan murka Allah.
Jika berdasarkan iman maka akan diperhitungkan sebagai kasih karunia Allah.
Karena berdasarkan kasih karunia, maka pasti janji itu dapat diberlakukan bagi semua keturunan Abraham, baik yang adalah orang-orang yahudi (mendapat warisan hukum taurat) maupun yang hidup dari iman Abraham.
Betapa Allah adil dengan segala kondisi yang dialami tersebut.

Abraham adalah Bapa kita semua à Bapa orang percaya à Percaya kepada Allah melalui iman.


17 ¶ (a)seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa"  — 
di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya,
yaitu Allah yang menghidupkan orang mati
dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.  

ESV: 17 ¶  as it is written, “I have made you the father of many nations”—in the presence of the God in whom he believed, who gives life to the dead and calls into existence the things that do not exist.  

Allah yang memberikan janji ini Adalah Allah yang dipercayai oleh Abraham.
Allah  yang memberikan janji ini adalah Allah yang berotoritas à mampu memberikan kehidupan kepada orang mati (kuasa).
Allah yang melalui firmanNya dapat menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada.
Hal ini berkaitan dengan kuasa dan kebesaran Allah.

Janji yang diberikan menjadi sebuah janji yang begitu kuat dan begitu luar biasa, karena bergantung dari kualitas pribadi yang memberikan janji tersebut, yaitu Allah.
-         Berotoritas.
-         Berkuasa
-         Sehingga layak untuk dipercayai. Kepercayaan Abraham bukan dilandasi pada kepercayaan kepada pribadi yang lemah, tetapi pada pribadi yang sungguh berkuasa, apapun di dunia ini telah ada di dalam otoritasNya.

Akibatnya, Abraham mengerti bahwa sekalipun tidak ada dasar apapun untuk mengharapkan semuanya, tetapi Abraham tetap berharap segala sesuatu kepada Allah.
Abraham diperhadapkan pada kondisi tanpa pengharapan ketika ia melihat dirinya sendiri dan melihat pada kondisi Sara, Isterinya..

18                    (b)Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya,
(a)bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."  
19                    (b)Imannya tidak menjadi lemah,
walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah,
karena usianya telah kira-kira seratus tahun,
dan bahwa rahim Sara telah tertutup.  
20        (a) Tetapi terhadap janji Allah
(b) ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah,  21  dengan penuh keyakinan,
(a)bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.  
22                    (b)Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.  

Iman Abraham: Bukan karena kondisi fisik yang lemah namun karena kualitas dari pribadi yang memberikan janji itu.

Abraham tidak punya dasar apapun untuk berharap.
Mengapa?
-         Tubuhnya sudah sangat lemah
-         Usia kira-kira sudah 100 tahun
-         Rahim sara telah tertutup
Hal-hal yang secara fisik dapat menghalangi dianggap dapat menghalangi terealisasinya janji Allah.
Mengapa?
Karena Allah menjanjikan sesuatu yang begitu luar biasa, yaitu:
Keturunan.
Dan banyak bangsa akan menjadi keturunan Abraham.

Bagaimana kondisi iman Abraham?
-         Imannya tidak menjadi lemah (19a)
-         Ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan (20)
-         Ia diperkuat dalam imannya (20) Ia memuliakan Allah
-         dengan penuh keyakinan (20).
Dasar pengharapan Abraham hanya ada pada satu titik:
-         Allah berkuasa melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.

19  He did not weaken in faith when he considered his own body, which was as good as dead (since he was about a hundred years old), or when he considered the barrenness of Sarah’s womb.  
20  No distrust made him waver concerning the promise of God, but he grew strong in his faith as he gave glory to God,
21  fully convinced that God was able to do what he had promised.  
-         Imannya tidak lemah
-         Tidak ada ketidakpercayaan yang membuatnya tidak mampu mempercayai janji Allah.
-         Ia bertumbuh makin kuat di dalam iman à pertumbuhan imannya itu membuat ia mampu untuk menaikkan puji-pujian kepada Allah
-         Ia tiba di titik di mana memiliki keyakinan yang penuh kepada Allah, yang mampu untuk melakukan apa yang telah dijanjikanNya itu. Allah sangat mampu merealisasikan apa yang telah dijanjikanNya.

Iman Abraham bertumbuh seiring dengan waktu menantikan Allah. Waktu penantian yang disediakan oleh Allah bukan untuk melemahkan kita, tetapi untuk membuat iman kita kepada Allah semakin bertumbuh dengan kuat dan kokoh, semakin dalam dan semakin dalam J

Iman kita sudah seharusnya bertumbuh makin penuh kepada Allah dari hari ke hari.
Kondisi sulit yang kita alami, sebenarnya bukan untuk melemahkan iman kita,tetapi justru membuat iman kita kepada Allah makin bertumbuh dan bertumbuh dari hari ke hari.

Abraham diperhadapkan pada 2 kondisi.
-         kondisi tanpa pengharapan ketika ia melihat dirinya sendiri dan melihat pada kondisi Sara, Isterinya.. mereka sudah terlalu tua.
-         kondisi penuh pengharapan ketika ia berhadapan dengan Allah yang mampu, yang berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Allah sendiri janjikan.

Iman kepada Allah melampaui kondisi yang sedang ada di hadapan kita. Pengharapan yang diberikan Allah kepada kita bukanlah pengharapan yang palsu. Mengapa?
Karena kualitas kesetiaan Pribadi pemberi harapan tersebut.

Manusia: pemberi harapan palsu.
Allah: pemberi harapan pasti.


23 ¶  (a) Kata-kata ini, yaitu "hal ini diperhitungkan kepadanya," tidak ditulis untuk Abraham saja,  
24                    (b)tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya,
            karena kita percaya kepada Dia,
yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati,  
25                                            yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.  

Iman kita: kepada Kristus, berdasarkan janji Allah.

Paulus kembali membawa semua pembahasan mengenai iman Abraham ke dalam konteks jemaat di Roma à
Bahwa apa yang tertulis itu, bukan hanya untuk Abraham saja, melainkan juga kepada jemaat di Roma.
Mengapa?
Karena Allah menerapkan standar yang sama kepada semua orang.
Dan dalam konteks keselamatan,
è kepercayaan kepada Allah
è yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan dari antara orang mati.
Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.
Kematian dan kebangkitan Kristus semata-mata dikerjakan Allah untuk kita.
Dan Allah menghendakinya agar kita merespon semua karya dan pekerjaanNya itu di dalam iman dan percaya kepadaNya.
Kita adalah objek kasih dari Allah.

Hanya beriman, Tanpa usaha.

Tema besar:
13-25 Janji Allah direalisasikan berdasarkan iman.

Aplikasi:
-         kita telah menerima keselaman dari Allah berdasarkan iman kepada Tuhan Yesus Kristus.
è bersyukur untuk kasih karunia Allah itu.
-         dalam hidup kita setiap hari, lihatlah kembali semua janji yang telah Allah berikan.
Berjalan di dalam iman dan bertindak sesuai dengan perintahnya.

Percaya saja,
Ikut saja,
Taat saja..
J