20 Agustus 2015
Sudah beberapa waktu ini membaca berbagai tulisan tentang kasih karunia.
Aku bersyukur karena Tuhan mengajarilu begitu banyak hal baru tentang 2 kata itu.
Kasih karunia sederhananya berarti sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma.
Pemberinya menghabiskan banyak hal untuk dapat memberikannya.
Sementara seorang penerima tidak perlu mengusahakannya untuk mendapatkannya.
Maka itulah hal tersebut dinamakan kasih karunia.
Banyak orang Kristen yang mengumandangkan tentang kasih karunia.
Tapi sungguh hidupnya dikelilingi dengan tuntutan, disiplin ketat, usaha dan perbuatan.
Kita memerlukan begitu banyak doktrin tentang kasih karunia Allah. Tidak hanya tentang pelayanan, bagaimana totalitas bagi Allah, mati-matian dan bayar harga bagiNya.
Pada akhirnya mungkin kita akan tiba pada peletakkan harga diri di dalam berbagai hal yang kita lakukan, tidak lagi pada apa yang Allah berikan.
Sesungguhnya, tak ada sesuatu pun di dalam diri kita, entah talenta, bakat, kemampuan diri, pertumbuhan rohani, dlsb yang membuat kita menjadi layak untuk mendapatkan kasih karunia itu.
Kita harus menyadari benar Siapa diriNya dan siapa kita di hadapanNya.
Tak ada satu apapun di dalam diri kita yang dapat dibanggakan, diutamakan sehingga menganggap diri layak di hadapanNya.
Pukulan bertubi-tubi yang kuhadapi ini membuatku belajar sesuatu:
Aku hanya seonggok daging tak berguna yang tidak punya apapun. Yang murni bergantung pada anugerah.
Yang bertindak di dalam keyakinan diri sendiri, namun akhirnya dihancurkan oleh Allah.
Ohh.. menyakini diri sendiri sudah merupakan hal yang asing bagiku.
Mempercayai Allah adalah hal paling berharga saat ini...
Siapakah aku?
Bangunan debu yang bergantung pada kasih karunia, hari demi hari.
0 komentar:
Post a Comment