Relasi yang begitu
berbeda lagi digambarkanNya di dalam hidupku. Ia berperan sebagai gembala dan
Ia memintaku berperan sebagai domba.
Khotbah di gereja GKI
Kutisari hari ini, memberikan kepadaku gambaran yang sangat baik tentang Allah
sebagai gembala. Pendeta menceritakan tentang sebuah pengalamannya dalam
perjalanan ziarah rohani ke Israel. Ia melihat begitu banyak domba dan hal itu
membuatnya berpikir, “Bagaimana mungkin
di daerah yang tandus dan gersang ini hidup begitu banyak domba yang gemuk dan
sehat. Bagaimana sang gembala memberikan rumput untuk domba-domba ini, tak ada
satupun padang rumput yang terlihat”.
Pertanyaannya yang
terlintas itu ia tanyakan pada pemimpin perjalanan tersebut. Pemimpin
perjalanan itu menjawab seperti ini,
“Gembala yang baik tahu bagaimana menjaga dan memelihara
domba-dombanya. Di tanah yang tandus dan gersang seperti ini, gembala yang baik
tetap akan memberikan rumput kepada domba-dombanya. Pertanyaannya bagaimana
cara gembala menemukan dan memberikan rumput untuk domba-dombanya? Inilah yang
dilakukan sang gembala. Rumput yang hijau di daerah seperti itu biasanya
tersembunyi di tebing-tebing yang cukup terjal. Gembala biasanya akan pergi ke
tebing-tebing itu, memastikan bahwa tersedia rumput di situ, memastikan tempat
yang akan didatangi oleh domba-domba itu juga baik-baik saja. Setelah itu, ia akan mengarahkan domba-dombanya untuk pergi
ke tempat rumput itu berada.”
Seperti itulah
Allahku. Ia memainkan perananNya sebagai seorang Gembala yang Baik. Gembala
yang Baik berjalan lebih dulu, Ia memastikan bahwa perjalanan di depan adalah
perjalanan yang baik-baik saja. Ada kebaikan di depan sana. Ia sudah melihat
perjalanan itu lebih dulu. Ada kebaikan di depan. Domba-domba hanya tinggal
taat dan kemudian mengikutinya saja.
Yang langsung terlintas
dibenakku waktu itu hanya satu:
“Tuhan, aku tidak mampu melihat yang di depan.. aku sangat takut
melihat semuanya.. seakan-akan sangat meragukan.. terlalu tidak pasti.. aku tak mungkin mempertaruhkan segala-galanya
untuk sesuatu yang sangat tidak pasti”
Ia menjawabku:
Tapi Aku melihatnya, dan semuanya akan baik-baik saja. Bukankah itu
cukup?
Kau bisa mempercayai Aku..
“Diamlah dan
ketahuilah bahwa Akulah Allah”

0 komentar:
Post a Comment