Sunday, February 15, 2015

Allah sebagai Gembala yang Baik.


Relasi yang begitu berbeda lagi digambarkanNya di dalam hidupku. Ia berperan sebagai gembala dan Ia memintaku berperan sebagai domba.

Khotbah di gereja GKI Kutisari hari ini, memberikan kepadaku gambaran yang sangat baik tentang Allah sebagai gembala. Pendeta menceritakan tentang sebuah pengalamannya dalam perjalanan ziarah rohani ke Israel. Ia melihat begitu banyak domba dan hal itu membuatnya berpikir, “Bagaimana mungkin di daerah yang tandus dan gersang ini hidup begitu banyak domba yang gemuk dan sehat. Bagaimana sang gembala memberikan rumput untuk domba-domba ini, tak ada satupun padang rumput yang terlihat”.

Pertanyaannya yang terlintas itu ia tanyakan pada pemimpin perjalanan tersebut. Pemimpin perjalanan itu menjawab seperti ini,
“Gembala yang baik tahu bagaimana menjaga dan memelihara domba-dombanya. Di tanah yang tandus dan gersang seperti ini, gembala yang baik tetap akan memberikan rumput kepada domba-dombanya. Pertanyaannya bagaimana cara gembala menemukan dan memberikan rumput untuk domba-dombanya? Inilah yang dilakukan sang gembala. Rumput yang hijau di daerah seperti itu biasanya tersembunyi di tebing-tebing yang cukup terjal. Gembala biasanya akan pergi ke tebing-tebing itu, memastikan bahwa tersedia rumput di situ, memastikan tempat yang akan didatangi oleh domba-domba itu juga baik-baik saja. Setelah itu,  ia akan mengarahkan domba-dombanya untuk pergi ke tempat rumput itu berada.”



Seperti itulah Allahku. Ia memainkan perananNya sebagai seorang Gembala yang Baik. Gembala yang Baik berjalan lebih dulu, Ia memastikan bahwa perjalanan di depan adalah perjalanan yang baik-baik saja. Ada kebaikan di depan sana. Ia sudah melihat perjalanan itu lebih dulu. Ada kebaikan di depan. Domba-domba hanya tinggal taat dan kemudian mengikutinya saja.

Yang  langsung terlintas dibenakku waktu itu hanya satu:
“Tuhan, aku tidak mampu melihat yang di depan.. aku sangat takut melihat semuanya.. seakan-akan sangat meragukan.. terlalu tidak pasti..  aku tak mungkin mempertaruhkan segala-galanya untuk sesuatu yang sangat tidak pasti”

Ia menjawabku:
Tapi Aku melihatnya, dan  semuanya akan baik-baik saja. Bukankah itu cukup?
Kau bisa mempercayai Aku..

“Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah”


0 komentar:

Post a Comment