09 Oktober 2014
Contoh PA Surat.
Roma 4:1-12
Abraham
dibenarkan karena iman.
(a): Bukan karena perbuatan
(b): Percaya kepada Allah
(c) Tuhan memperhitungkan iman
sebagai kebenaran
1 ¶
(A)Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham,
bapa leluhur jasmani kita?
2 (a) Sebab jikalau Abraham
dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi
tidak di hadapan Allah.
3 (b) Sebab apakah dikatakan
nas Kitab Suci? "Lalu percayalah
Abraham kepada Tuhan,
(c)dan Tuhan memperhitungkan
hal itu kepadanya sebagai kebenaran."
Keteladanan
Abraham: iman diperhitungkan Tuhan sebagai kebenaran
-
Bapa leluhur secara jasmani
-
Tidak dibenarkan berdasarkan perbuatannya
-
Percaya kepada Allah
-
Allah memperhitungkan kepercayaannya sebagai kebenaran.
Apa yang dikatakan tentang Abraham?
-
Abraham dikatakan sebagai Bapa leluhur secara jasmani orang-orang
Yahudi.
Forefather according to the flesh. Bapa leluhur berdasarkan
daging.
-
Abraham tidak dibenarkan berdasarkan apa yang dilakukannya.
Mengapa?
Karena jika ia dibenarkan berdasarkan apa yang dilakukannya, maka
kemudian nanti ia memiliki dasar pribadi untuk bermegah bahwa semua yang
dilakukannya berdasarkan usaha dan perbuatannya.
-
Nas yang tertulis di dalam kitab suci adalah:
Percayalah Abraham kepada Tuhan.
Tuhan memperhitungkan iman dan percaya. Abraham, dan kemudian hal
tersebut adalah kebenaran di hadapan Allah.
ESV: 3 For what does the
Scripture say? “Abraham believed God,
and it was counted to him as righteousness.”
Abraham percaya kepada Allah, dan itu diperhitungkan kepadanya
sebagai kebenaran.
NKJV: 3 For what does the
Scripture say? "Abraham believed God, and it was accounted to him for
righteousness."
NLT: 3 For the Scriptures
tell us, “Abraham believed God, so God declared him to be righteous.”
Abraham percaya pada Allah, jadi Allah menyatakan bahwa ia
dibenarkan.
3 For what does the
scripture say? "Abraham believed God, and it was credited to him as
righteousness."
Abraham percaya kepada Allah dan hal itu dihargai sebagai
kebenaran.
Jadi, sebenarnya, yang diingkan Allah dilakukan dalam hidup
Abraham adalah mempercayai setiap perkataan yang datang dari Allah.
Allah mengatakan apa, percaya!
Apa memerintahkan apa, percaya!
Kita akan melihat konteks di mana Tuhan berjanji dan kemudian
Abraham merespon dengan mempercayai..
Kej. 15:6
1 ¶ Kemudian datanglah
firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: "Janganlah takut,
Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar."
2 ¶ Abram menjawab:
"Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan
meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah
Eliezer, orang Damsyik itu."
3 Lagi kata Abram:
"Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku
nanti menjadi ahli warisku."
4 Tetapi datanglah firman
TUHAN kepadanya, demikian: "Orang
ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan
menjadi ahli warismu."
5 Lalu TUHAN membawa Abram
ke luar serta berfirman: "Coba
lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya."
Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti
keturunanmu."
6 Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka
TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.
Respon hati yang diberikan Abraham adalah terhadap janji yang diberikan
oleh Allah.
Janji Allah yang mana?
Janji bahwa anak kandungnyalah yang akan menjadi ahli warisnya.
Janji bahwa keturunannya akan menjadi sangat banyak.
Respon yang dikemukakan pertama kali oleh Abraham adalah
Kej 5: 6 And he believed
the LORD, and he counted it to him as righteousness.
Dan ia mempercayai Allah dan Allah menghitung kepercayaan Abraham
itu sebagai kebuah kebenaran.
Allah menantikan respon hati yang begitu mempercayaiNya.
Respon hati yang mempercayai apa yang telah dijanjikanNya.
Kepercayaan itulah yang dicari Allah.
Allah rindu untuk memperhitungkan orang-orang yang mempercayaiNya
sepenuh hati. Meskipun belum melihat apapun.
Kak Octa:
Manusia yang menyadari
keterbatasannya maka ia akan menyandarkan semuanya pada pribadi Allah.
Sadari bahwa saya terbatas, dan semuanya ada di dalam kendali dan
kontrol Allah sendiri.
4 (a) Kalau ada orang yang
bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai
haknya.
5 (b)Tetapi kalau ada orang
yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka,
(c) imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.
Usaha vs Hadiah: Iman diperhitungkan
sebagai kebenaran
Perbandingan yang diberikan adalah:
Orang yang bekerja, maka pasti akan
mendapatkan upah. Upah yang dimiliki adalah hasil dari pekerjaan yang
dilakukannya. Bukan hadiah. Hadiah berarti sesuatu yang tidak diusahakan
sendiri. Upah = hak yang harus diterima. Tapi, hadiah = tidak melakukan apapun,
tetapi menerima sesuatu.
Tidak bekerja, namun kemudian percaya,
maka hal itu diperhitungkan sebagai sebuah kebenaran.
Iman juga berarti tidak mengusahakan
apapun untuk mengubah keadaan. Tetapi berjalanan di dalam keadaan yang memang
ditentukan oleh Allah, karena kita tahu bahwa kita menerima segalanya
berdasarkan anugerah.
Dalam konteks keselamatan:
Jelas bahwa kita tidak melakukan apapun
untuk menambah taraf keselamatan, karena sebenarnya dengan mempercayai Allah =
CUKUP untuk menerima keselamatan.
Roma 1:17
Orang yang benar akan hidup oleh iman
è
Hal ini menggambarkan akan iman yang bukan hanya iman yang
pertama, tetapi juga iman dalam berbagai hal yang akan terjadi di dalam kehidupan.
Setiap hari kita akan hidup dari iman kepada Allah.
Allah juga menginginkan kita untuk mempercayai tanpa mengusahakan
apapun, atas janji yang telah dinyatakanNya.
Jika Allah sudah berjanji, maka sebenarnya pasti akan terealisasi.
Kita tidak perlu mengusahakan apapun, atau memberikan usaha apapun
dalam rangka membantu Allah merealisasikan janji tersebut.
Justru pada akhirnya itu melambangkan ketidakpercayaan kita kepada
Allah, jika kita berusaha.
Seakan-akan ingin membantu Allah merealisasikan janji-janjiNya.
Padahal yang diinginkan Allah bagi kita hanyalah: PERCAYA!
Kita secara aktif bertindak mempercayai
Allah.
Tapi, secara pasif tidak melakukan apapun
untuk membantu Allah merealisasikan janji-janjiNya.
Mungkin itu berarti menunggu dalam diam
dan tidak berbuat apapun.
6 (c’)Seperti juga Daud
(1)menyebut berbahagia orang
yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:
7 (2)Berbahagialah
orang yang diampuni
pelanggaran-pelanggarannya, dan yang
ditutupi dosa-dosanya;
8 (3)berbahagialah
manusia yang kesalahannya tidak
diperhitungkan Tuhan kepadanya."
Mazmur Daud: Iman diperhitungkan sebagai
kebenaran
Bagian (c) : Tuhan memperhitungkan iman
sebagai kebenaran
Hal ini tergambar dengan jelas dalam
Mazmur Daud à
Orang yang dibenarkan adalah mereka yang
dibenarkan bukan berdasarkan perbuatan yang mereka lakukan.
Mengapa?
-
Pengampunan atas pelanggaran
-
Dosa-dosa yang ditutupi
-
Kesalah yang tidak diperhitungkan à karena iman percaya
kepada Allah.
Ini seperti penjelasan atas perhitungan Tuhan itu.
Jelas bahwa Allah yang secara aktif bekerja.
Dan manusia tidak melakukan tindakan apapun untuk menghapuskan
dosa-dosanya.
Dalam bagian ini jelas:
Tindakan Allah:
n
Membenarkan bukan berdasarkan perbuatan
n
Mengampuni pelanggaran, menutupi dosa
n
Tidak memperhitungkan kesalahan yang dilakukan oleh seseorang.
Tindakan Manusia à refers to (c) : mempercayai Allah.
Aktif percaya!
Iman tidak dilatih satu hari. Tapi
bertahun-tahun.
9 ¶
(B) (1) Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku
(a)bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat?
(b) Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai
kebenaran.
10 (1) Dalam keadaan manakah hal itu
diperhitungkan?
(a)Sebelum atau sesudah ia disunat?
(b)Bukan sesudah disunat, tetapi
sebelumnya.
11 (b’)Dan tanda
sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang
ditunjukkannya, sebelum ia bersunat.
Sebelum disunat: Iman diperhitungkan
sebagai kebenaran.
2 Kondisi yang ditawarkan dalam bagian
ini:
Kepada
SIAPA hal ini berlaku?
- orang bersunat atau juga tak bersunat?
à kepada orang yang
BERIMAN.
SUNAT ATAU TAK BERSUNAT TAK ADA GUNANYA.
Dalam hal
BAGAIMANA hal ini berlaku?
-
Sebelum di sunat atau
setelah disunat?
SEBELUM DISUNAT,
è
Berarti menunjukkan
bahwa karena IMAN,
Sehingga SUNAT itu tidak
mempengaruhi dibenarkan atau tidak, tapi karena iman.
(2)Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya
yang tak bersunat, supaya kebenaran diperhitungkan kepada
mereka,
12 dan juga menjadi bapa
orang-orang bersunat,
yaitu mereka yang bukan hanya bersunat,
tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham,
bapa leluhur kita,
pada masa ia belum disunat.
Pembenaran kepada semua orang percaya
karena iman yang diperhitungkan sebagai kebenaran.
Pada akhirnya, PEMBENARAN ADALAH KARENA
IMAN!
ABRAHAM MENJADI BAPA SEGALA ORANG PERCAYA.
TAK BERSUNAT à BERDASARKAN IMAN
YANG BERSUNAT à BERDASARKAN IMAN.
YANG TERPENTING DALAM PEMBENARAN OLEH
ALLAH: IMAN
Tema
besar
1-12 Iman diperhitungkan Allah sebagai kebenaran.
Aplikasi?
- Dalam hal apa Allah telah berjanji?
Dalam hal
apa Anda hanya butuh percaya dan tidak boleh bertindak apapun untuk membantu
Allah merealisasikan janji-janjiNya?
Abraham tidak punya teladan! Tapi ia mampu untuk percaya kepada Allah..
Jika hati kita tidak pernah diserahkan,
maka kita tidak akan mampu untuk taat.
Semuanya dari keputusan untuk mempercayai Allah.
0 komentar:
Post a Comment