Tuesday, October 14, 2014

Roma 4:1-12

09 Oktober 2014
Contoh PA Surat.

Roma 4:1-12
Abraham dibenarkan karena iman.

(a): Bukan karena perbuatan
(b): Percaya kepada Allah
(c) Tuhan memperhitungkan iman sebagai kebenaran
1 ¶  (A)Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham,
bapa leluhur jasmani kita?  
2                      (a) Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah.  
3                      (b) Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan,
(c)dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran."
Keteladanan Abraham: iman diperhitungkan Tuhan sebagai kebenaran
-         Bapa leluhur secara jasmani
-         Tidak dibenarkan berdasarkan perbuatannya
-         Percaya kepada Allah
-         Allah memperhitungkan kepercayaannya sebagai kebenaran.
Apa yang dikatakan tentang Abraham?
-         Abraham dikatakan sebagai Bapa leluhur secara jasmani orang-orang Yahudi.
Forefather according to the flesh. Bapa leluhur berdasarkan daging.
-         Abraham tidak dibenarkan berdasarkan apa yang dilakukannya. Mengapa?
Karena jika ia dibenarkan berdasarkan apa yang dilakukannya, maka kemudian nanti ia memiliki dasar pribadi untuk bermegah bahwa semua yang dilakukannya berdasarkan usaha dan perbuatannya.
-         Nas yang tertulis di dalam kitab suci adalah:
Percayalah Abraham kepada Tuhan.
Tuhan memperhitungkan iman dan percaya. Abraham, dan kemudian hal tersebut adalah kebenaran di hadapan Allah.

ESV: 3  For what does the Scripture say? “Abraham believed God, and it was counted to him as righteousness.”
Abraham percaya kepada Allah, dan itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.

NKJV: 3  For what does the Scripture say? "Abraham believed God, and it was accounted to him for righteousness."  
NLT: 3  For the Scriptures tell us, “Abraham believed God, so God declared him to be righteous.”
Abraham percaya pada Allah, jadi Allah menyatakan bahwa ia dibenarkan.

3  For what does the scripture say? "Abraham believed God, and it was credited to him as righteousness."
Abraham percaya kepada Allah dan hal itu dihargai sebagai kebenaran.

Jadi, sebenarnya, yang diingkan Allah dilakukan dalam hidup Abraham adalah mempercayai setiap perkataan yang datang dari Allah.
Allah mengatakan apa, percaya!
Apa memerintahkan apa, percaya!

Kita akan melihat konteks di mana Tuhan berjanji dan kemudian Abraham merespon dengan mempercayai..

Kej. 15:6

1 ¶  Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: "Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar."  
2 ¶  Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu."  
3  Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku."  
4  Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu."  
5  Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."  
6  Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.  

Respon hati yang diberikan Abraham adalah terhadap janji yang diberikan oleh Allah.
Janji Allah yang mana?
Janji bahwa anak kandungnyalah yang akan menjadi ahli warisnya.
Janji bahwa keturunannya akan menjadi sangat banyak.

Respon yang dikemukakan pertama kali oleh Abraham adalah

Kej 5: 6  And he believed the LORD, and he counted it to him as righteousness.  
Dan ia mempercayai Allah dan Allah menghitung kepercayaan Abraham itu sebagai kebuah kebenaran.

Allah menantikan respon hati yang begitu mempercayaiNya.
Respon hati yang mempercayai apa yang telah dijanjikanNya.

Kepercayaan itulah yang dicari Allah.
Allah rindu untuk memperhitungkan orang-orang yang mempercayaiNya sepenuh hati. Meskipun belum melihat apapun.

Kak Octa:
Manusia yang menyadari keterbatasannya maka ia akan menyandarkan semuanya pada pribadi Allah.
Sadari bahwa saya terbatas, dan semuanya ada di dalam kendali dan kontrol Allah sendiri.

 
4                      (a) Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya.  
5                      (b)Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka,
(c) imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.  

Usaha vs Hadiah: Iman diperhitungkan sebagai kebenaran

Perbandingan yang diberikan adalah:
Orang yang bekerja, maka pasti akan mendapatkan upah. Upah yang dimiliki adalah hasil dari pekerjaan yang dilakukannya. Bukan hadiah. Hadiah berarti sesuatu yang tidak diusahakan sendiri. Upah = hak yang harus diterima. Tapi, hadiah = tidak melakukan apapun, tetapi menerima sesuatu.
Tidak bekerja, namun kemudian percaya, maka hal itu diperhitungkan sebagai sebuah kebenaran.

Iman juga berarti tidak mengusahakan apapun untuk mengubah keadaan. Tetapi berjalanan di dalam keadaan yang memang ditentukan oleh Allah, karena kita tahu bahwa kita menerima segalanya berdasarkan anugerah.

Dalam konteks keselamatan:
Jelas bahwa kita tidak melakukan apapun untuk menambah taraf keselamatan, karena sebenarnya dengan mempercayai Allah = CUKUP untuk menerima keselamatan.

Roma 1:17
Orang yang benar akan hidup oleh iman
è Hal ini menggambarkan akan iman yang bukan hanya iman yang pertama, tetapi juga iman dalam berbagai hal yang akan terjadi di dalam kehidupan.
Setiap hari kita akan hidup dari iman kepada Allah.
Allah juga menginginkan kita untuk mempercayai tanpa mengusahakan apapun, atas janji yang telah dinyatakanNya.
Jika Allah sudah berjanji, maka sebenarnya pasti akan terealisasi.
Kita tidak perlu mengusahakan apapun, atau memberikan usaha apapun dalam rangka membantu Allah merealisasikan janji tersebut.
Justru pada akhirnya itu melambangkan ketidakpercayaan kita kepada Allah, jika kita berusaha.
Seakan-akan ingin membantu Allah merealisasikan janji-janjiNya.

Padahal yang diinginkan Allah bagi kita hanyalah: PERCAYA!

Kita secara aktif bertindak mempercayai Allah.
Tapi, secara pasif tidak melakukan apapun untuk membantu Allah merealisasikan janji-janjiNya.
Mungkin itu berarti menunggu dalam diam dan tidak berbuat apapun.


6                                  (c’)Seperti juga Daud
(1)menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:  
7                                              (2)Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya;  
8                                              (3)berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya." 

Mazmur Daud: Iman diperhitungkan sebagai kebenaran
Bagian (c) : Tuhan memperhitungkan iman sebagai kebenaran
Hal ini tergambar dengan jelas dalam Mazmur Daud à
Orang yang dibenarkan adalah mereka yang dibenarkan bukan berdasarkan perbuatan yang mereka lakukan.
Mengapa?
-         Pengampunan atas pelanggaran
-         Dosa-dosa yang ditutupi
-         Kesalah yang tidak diperhitungkan à karena iman percaya kepada Allah.

Ini seperti penjelasan atas perhitungan Tuhan itu.
Jelas bahwa Allah yang secara aktif bekerja.
Dan manusia tidak melakukan tindakan apapun untuk menghapuskan dosa-dosanya.
Dalam bagian ini jelas:
Tindakan Allah:
n  Membenarkan bukan berdasarkan perbuatan
n  Mengampuni pelanggaran, menutupi dosa
n  Tidak memperhitungkan kesalahan yang dilakukan  oleh seseorang.
Tindakan Manusia à refers to (c) : mempercayai Allah.
Aktif percaya!

Iman tidak dilatih satu hari. Tapi bertahun-tahun.



9 ¶  (B) (1) Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku
(a)bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat?
(b) Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran.  
10        (1) Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan?
(a)Sebelum atau sesudah ia disunat?
(b)Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya.  
11                                (b’)Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat.

Sebelum disunat: Iman diperhitungkan sebagai kebenaran.

2 Kondisi yang ditawarkan dalam bagian ini:
Kepada SIAPA hal ini berlaku?
- orang bersunat atau juga tak bersunat?
à kepada orang yang BERIMAN.
SUNAT ATAU TAK BERSUNAT TAK ADA GUNANYA.

Dalam hal BAGAIMANA hal ini berlaku?
-         Sebelum di sunat atau setelah disunat?
SEBELUM DISUNAT,
è Berarti menunjukkan bahwa karena IMAN,
Sehingga SUNAT itu tidak mempengaruhi dibenarkan atau tidak, tapi karena iman.



(2)Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya
yang tak bersunat, supaya kebenaran diperhitungkan kepada mereka,  
12                    dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat,
yaitu mereka yang bukan hanya bersunat,
tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham,
bapa leluhur kita,
pada masa ia belum disunat. 

Pembenaran kepada semua orang percaya karena iman yang diperhitungkan sebagai kebenaran.

Pada akhirnya, PEMBENARAN ADALAH KARENA IMAN!
ABRAHAM MENJADI BAPA SEGALA ORANG PERCAYA.
TAK BERSUNAT à BERDASARKAN IMAN
YANG BERSUNAT à BERDASARKAN IMAN.

YANG TERPENTING DALAM PEMBENARAN OLEH ALLAH: IMAN

Tema besar
1-12 Iman diperhitungkan Allah sebagai kebenaran.


Aplikasi?
-      Dalam hal apa Allah telah berjanji?
Dalam hal apa Anda hanya butuh percaya dan tidak boleh bertindak apapun untuk membantu Allah merealisasikan janji-janjiNya?

Abraham tidak punya teladan! Tapi ia mampu untuk percaya kepada Allah..
Jika hati kita tidak pernah diserahkan, maka kita tidak akan mampu untuk taat.

Semuanya dari keputusan untuk mempercayai Allah.



0 komentar:

Post a Comment