13 (a)Sebab
bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji
kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia,
(b)tetapi karena
kebenaran, berdasarkan iman.
14 (a)Sebab
jika mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Allah,
(b)maka sia-sialah iman
dan batallah janji itu.
15 (a)Karena hukum Taurat membangkitkan murka,
tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.
16 (b)Karena itulah kebenaran berdasarkan
iman supaya merupakan kasih karunia,
(a) sehingga janji itu berlaku
bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum
Taurat,
(b) tetapi juga bagi
mereka yang hidup dari iman Abraham.
Sebab Abraham adalah bapa kita semua,
—
Iman
Abraham: Bukan karena hukum Taurat namun karena Janji Allah
13
For the promise to Abraham and his offspring that he would be heir of
the world did not come through the law but through the righteousness of
faith. – karena janji kepada Abraham dan keturunannya
bahwa ia akan memiliki dunia tidak datang melalui hukum taurat, tetapi melalui
pembenaran karena iman.
è
Dalam
hal ini, titik penekanannya bukan apa arti hukum taurat di sini, tetapi
berdasarkan pada janji yang Allah berikan. Lihat konteks Roma secara
keseluruhan, bahwa keselamatan diberikan dari Allah melalui iman (bukan karena
melakukan hukum Taurat). Dalam konteks abraham ini, Paulus seperti ingin memberikan contoh kepada
jemaat orang Yahudi saat itu bahwa jika mereka mengatakan bahwa kelebihan mereka ada di dalam hukum
Taurat, mereka salah! Dan jika kelebihan mereka ada di dalam keturunan Abraham,
mereka juga salah! Mengapa? Karena yang terlihat dari Abraham adalah imannya.
Terhadap
janji Allah, respon yang dikehendakiNya: Iman.
Iman
berarti tidak meragukan sedikitpun janji yang Allah berikan dan tidak membantu
Allah merealisasikan janjiNya.
Namun
, Iman di dalam konteks mengerjakan keselamatan, harus terbukti di dalam hidup
pribadi kita. Iman kita hanya terlihat dari perbuatan (konteks keselamatan).
janji
Allah kepada Abraham tersebut tidak hanya berkaitan dengan janji terhadap tanah
kanaan. Tetapi janji untuk kepemilikan dunia.
Dan
janji itu juga bukan hanya janji berkaitan dengan dunia saat ini. tetapi juga
dunia yang akan datang.
Bdk
Ibr 11:10-16; why 21-22
è
Trough the righteousness of
faith
karena
kebenaran berdasarkan iman.
Janji
yang diberikan oleh Allah adalah janji akan kekekalan. Bukan hanya berkaitan
dengan dunia saat itu (tanah perjanjian), tetapi juga dunia yang akan datang.
14
For if it is the adherents of the law who are to be the heirs, faith is
null and the promise is void.
è
Jika
mereka yang mengharapkan mendapatkan melalui hukum taurat juga mendapatkannya,
maka iman itu tidak berguna (sia-sia) dan janji itu menjadi tidak berlaku lagi.
Standar
yang diberikan Allah setara / sama à berdasarkan janji dan diterima
melalui IMAN.
Jika
standar itu sama, maka tidak akan ada cara lain untuk menerima janji Allah itu,
selain melalui iman.
Hukum
taurat à
law/ menitik beratkan bukan pada hukumnya, melainkan pada usaha manusia untuk
memperoleh berdasarkan ketaatan kepada hukum.
Jika
warisan yang dijanjikan Allah diperoleh berdasarkan menjalankan hukum Taurat,
maka pembenaran tidak lagi berdasarkan iman, tetapi berdasarkan usaha.
If
the heritance is gained by observing the law, then rightousness is no longer by
faith but by works.
Faith
and works are fundamentally opposed (iman dan usaha pasti bertentangan secara
fundamental), for faith means trusting in or relying on a promise of God’s work
and not depending in any way on human performance.
Ketika
Allah berjanji, maka pasti Allah akan menepatinya.
Bagaimanapun
tindakan umat manusia di hadapan kita.
Mengapa?
Karena kita menerima janji dari Allah sendiri.
15
For the law brings wrath, but where there is no law there is no
transgression.
Hukum Taurat mendatangkan murka à ketika tidak menaatinya, maka
mendapat murka dari Allah.
16
That is why it depends on faith,
in order that the promise may rest on
grace and be guaranteed to all his offspring—not only to the adherent of
the law but also to the one who shares
the faith of Abraham, who is the father of us all,
Hukum
taurat pada dasarnya akan mendatangkan murka Allah.
Jika
berdasarkan iman maka akan diperhitungkan sebagai kasih karunia Allah.
Karena
berdasarkan kasih karunia, maka pasti janji itu dapat diberlakukan bagi semua
keturunan Abraham, baik yang adalah orang-orang yahudi (mendapat warisan hukum
taurat) maupun yang hidup dari iman Abraham.
Betapa
Allah adil dengan segala kondisi yang dialami tersebut.
Abraham adalah Bapa kita semua à Bapa orang percaya à Percaya kepada Allah melalui iman.
17 ¶ (a)seperti ada tertulis:
"Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" —
di hadapan Allah yang
kepada-Nya ia percaya,
yaitu Allah yang
menghidupkan orang mati
dan yang menjadikan
dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.
ESV: 17 ¶ as it is written, “I have made you the father
of many nations”—in the presence of the God in whom he believed, who gives life to the
dead and calls into existence the things that do not exist.
Allah yang memberikan
janji ini Adalah Allah yang dipercayai oleh Abraham.
Allah yang memberikan janji ini adalah Allah yang
berotoritas à mampu memberikan kehidupan kepada orang mati (kuasa).
Allah yang melalui
firmanNya dapat menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada.
Hal ini berkaitan
dengan kuasa dan kebesaran Allah.
Janji yang diberikan
menjadi sebuah janji yang begitu kuat dan begitu luar biasa, karena bergantung
dari kualitas pribadi yang memberikan janji tersebut, yaitu Allah.
-
Berotoritas.
-
Berkuasa
-
Sehingga
layak untuk dipercayai. Kepercayaan Abraham bukan dilandasi pada kepercayaan
kepada pribadi yang lemah, tetapi pada pribadi yang sungguh berkuasa, apapun di
dunia ini telah ada di dalam otoritasNya.
Akibatnya, Abraham
mengerti bahwa sekalipun tidak ada dasar apapun untuk mengharapkan semuanya,
tetapi Abraham tetap berharap segala sesuatu kepada Allah.
Abraham diperhadapkan
pada kondisi tanpa pengharapan ketika ia melihat dirinya sendiri dan melihat
pada kondisi Sara, Isterinya..
18
(b)Sebab sekalipun
tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya,
(a)bahwa ia akan
menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah
banyaknya nanti keturunanmu."
19
(b)Imannya tidak
menjadi lemah,
walaupun ia mengetahui, bahwa
tubuhnya sudah sangat lemah,
karena usianya telah kira-kira
seratus tahun,
dan bahwa rahim Sara telah
tertutup.
20
(a) Tetapi terhadap janji
Allah
(b) ia tidak bimbang karena
ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan
Allah, 21 dengan penuh keyakinan,
(a)bahwa Allah
berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
22
(b)Karena itu hal
ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.
Iman Abraham: Bukan karena kondisi
fisik yang lemah namun karena kualitas dari pribadi yang memberikan janji itu.
Abraham tidak punya dasar apapun
untuk berharap.
Mengapa?
-
Tubuhnya
sudah sangat lemah
-
Usia
kira-kira sudah 100 tahun
-
Rahim
sara telah tertutup
Hal-hal
yang secara fisik dapat menghalangi dianggap dapat menghalangi terealisasinya
janji Allah.
Mengapa?
Karena
Allah menjanjikan sesuatu yang begitu luar biasa, yaitu:
Keturunan.
Dan
banyak bangsa akan menjadi keturunan Abraham.
Bagaimana kondisi iman Abraham?
-
Imannya
tidak menjadi lemah (19a)
-
Ia
tidak bimbang karena ketidakpercayaan (20)
-
Ia
diperkuat dalam imannya (20) Ia memuliakan Allah
-
dengan
penuh keyakinan (20).
Dasar pengharapan Abraham hanya ada
pada satu titik:
-
Allah
berkuasa melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
19
He did not weaken in faith
when he considered his own body, which was as good as dead (since he was about
a hundred years old), or when he considered the barrenness of Sarah’s
womb.
20
No distrust made him waver
concerning the promise of God, but he grew strong in his faith as he gave glory
to God,
21 fully convinced that God was able to do what
he had promised.
-
Imannya
tidak lemah
-
Tidak
ada ketidakpercayaan yang membuatnya tidak mampu mempercayai janji Allah.
-
Ia
bertumbuh makin kuat di dalam iman à pertumbuhan imannya itu membuat ia
mampu untuk menaikkan puji-pujian kepada Allah
-
Ia
tiba di titik di mana memiliki keyakinan yang penuh kepada Allah, yang mampu
untuk melakukan apa yang telah dijanjikanNya itu. Allah sangat mampu
merealisasikan apa yang telah dijanjikanNya.
Iman
Abraham bertumbuh seiring dengan waktu menantikan Allah. Waktu penantian yang
disediakan oleh Allah bukan untuk melemahkan kita, tetapi untuk membuat iman
kita kepada Allah semakin bertumbuh dengan kuat dan kokoh, semakin dalam dan
semakin dalam J
Iman
kita sudah seharusnya bertumbuh makin penuh kepada Allah dari hari ke hari.
Kondisi
sulit yang kita alami, sebenarnya bukan untuk melemahkan iman kita,tetapi
justru membuat iman kita kepada Allah makin bertumbuh dan bertumbuh dari hari
ke hari.
Abraham
diperhadapkan pada 2 kondisi.
-
kondisi
tanpa pengharapan ketika ia melihat dirinya sendiri dan melihat pada kondisi
Sara, Isterinya.. mereka sudah terlalu tua.
-
kondisi
penuh pengharapan ketika ia berhadapan dengan Allah yang mampu, yang berkuasa
untuk melaksanakan apa yang telah Allah sendiri janjikan.
Iman
kepada Allah melampaui kondisi yang sedang ada di hadapan kita. Pengharapan
yang diberikan Allah kepada kita bukanlah pengharapan yang palsu. Mengapa?
Karena
kualitas kesetiaan Pribadi pemberi harapan tersebut.
Manusia:
pemberi harapan palsu.
Allah:
pemberi harapan pasti.
23 ¶ (a) Kata-kata ini, yaitu "hal ini
diperhitungkan kepadanya," tidak ditulis untuk Abraham saja,
24
(b)tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun
Allah memperhitungkannya,
karena
kita percaya kepada Dia,
yang telah membangkitkan Yesus,
Tuhan kita, dari antara orang mati,
25
yaitu
Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena
pembenaran kita.
Iman kita: kepada Kristus,
berdasarkan janji Allah.
Paulus kembali membawa semua
pembahasan mengenai iman Abraham ke dalam konteks jemaat di Roma à
Bahwa apa yang tertulis itu, bukan
hanya untuk Abraham saja, melainkan juga kepada jemaat di Roma.
Mengapa?
Karena Allah menerapkan standar yang
sama kepada semua orang.
Dan dalam konteks keselamatan,
è
kepercayaan kepada Allah
è
yang telah membangkitkan Yesus,
Tuhan dari antara orang mati.
Yesus yang telah diserahkan karena
pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.
Kematian
dan kebangkitan Kristus semata-mata dikerjakan Allah untuk kita.
Dan
Allah menghendakinya agar kita merespon semua karya dan pekerjaanNya itu di
dalam iman dan percaya kepadaNya.
Kita
adalah objek kasih dari Allah.
Hanya beriman, Tanpa usaha.
Tema
besar:
13-25
Janji Allah direalisasikan berdasarkan iman.
Aplikasi:
-
kita telah menerima keselaman dari Allah
berdasarkan iman kepada Tuhan Yesus Kristus.
è
bersyukur untuk kasih karunia Allah itu.
-
dalam hidup kita setiap hari, lihatlah kembali
semua janji yang telah Allah berikan.
Berjalan di dalam iman dan bertindak sesuai
dengan perintahnya.
Percaya saja,
Ikut saja,
Taat saja..
J